Daily Routine : First Time i Learn About Coffee

Motorku bergerak ke arah utara kota Bandung. Hujan rintik-rintik tidak mematahkan semangatku untuk ikut serta dalam wisata kopi yang digagas oleh teman lamaku. Sebenarnya acara ini bukan acara resmi, melainkan acara dadakan yang selalu terjadi pada saat menit-menit terakhir acara. Aku sendiri bukan penikmat atuapun peminum kopi layaknya teman-teman yang mengajakku. Moment bercanda gurau dan berdiskusi dengan merekalah yang membuatku tertarik untuk mengikuti ajakan tersebut. Setelah sebuah nama kedai kopi disepakati, kamipun meluncur dari tempat kediaman masing-masing.

DSCF7478
Open Kitchen Daily Routine

Tidak ada yang marah ataupun mencaci takkala salah satu dari kami datang terlambat. Sebenarnya hal ini sudah menjadi kebiasaan yang tidak lagi harus diperdebatkan. Terlambat bisa dibilang habit dari kami. Aku yang sempat menulis pesan di group, yang menyatakan bahwa aku sudah sampai di lokasipun sebetulnya tidak. Aku menulisnya pada saat masih berkendara disebuah jalan yang lokasinya masih jauh dari tempat tujuan. Aku menulis pesan tersebut hanya untuk membuat teman-temanku mempercepat waktu kedatangan mereka. Benar saja, saat aku sampai dilokasi tujuan, salah satu dari temanku sudah sampai  dan langsung menyapaku.

DSCF7481
Preparing Aero Press

            “Coba ini deh kang.” Seorang barista memberikan secangkir kopi hitam pada temanku yang telebih dahulu datang di tempat tersebut. Aku mendengarnya secara jelas karena tepat pada saat itu aku datang menghampirinya dan duduk disebelahnya. Temanku langsung menghirup aroma kopi tersebut. Layaknya seorang penikmat kopi professional, temanku langsung memberikan satu kalimat penilaian kepada barista tersebut. Aku hanya bisa meruncingkan sudut mataku karena tidak paham apa yang dimaksud oleh keduanya. Melihat kebingungannku, barista tersebut langsung menawarkan diri untuk membuatkan racikan kopi yang unik untukku. Aku hanya mengangguk kecil bertanda setuju untuk dibuatkan satu cangkir kopi olehnya.

            “Nah ini kopi Yokohimo dari Papua, coba deh.” Temanku menawarkan kopi pesanannya padaku. Selayaknya seorang pecinta kopi, dengan reflek aku menghirup aromanya terlebih dahulu sebelum meminumnya. Sekilas, aroma yang dihasilkan tidak berbeda dengan kopi hitam yang umumnya ada di warung-warung kopi. Malah aroma kopi pabrikan berlambang sebuah kapal api menurutku jauh lebih menarik daripada kopi yang aku hirup ini. Akupun langsung mencicipinya sedikit dan langsung menelannya.

DSCF7494
Bersama Owner Daily Routine

“Bagaimana rasanya?” temanku memintaku untuk memberikan penilaian. “Sepet, dan Pahitnya nempel di ujung mulut.” jawabku singkat.

Temanku langsung tersenyum dan memberiku segelas air putih. Dari kejauhan, seseorang datang menghampiri kami yang sedang tertawa karena ulahku. Temanku yang lain masih belum terlihat batang hidungnya. Akupun diperkenalkan dengan pemilik sekaligus barista dari kedai kopi tersebut. Bang Ucok kemudian aku memanggilnya. Ia datang dengan membawa secangkir gelas kopi yang menjadi pesananku. Setelah berkenalan, kemudian temanku langsung memberitahukan bang Ucok bahwa aku ingin sekali mempelajari semua tentang kopi. Mendengar celotehan temanku itu, bang Ucok langsung menjelaskan sedikit mengenai kopi yang dibuatkan untukku. Menurutnya, jenis kopi yang dibuatkan untukku masih merupakan biji kopi yang sama dengan yang diminum oleh temanku. Namun sebelum menjelaskan lebih lanjut, bang Ucok memintaku untuk merasakan terlebih dahulu kopi tersebut dan kemudian memberikan penilaian. Akupun menyeruput kopi tersebut dan kemudian memberitahukan bahwa ada sedikit rasa manis yang muncul sesaat setelah kopi menyentuh lidahku.

DSCF7486
Bang Ucok in Action

Menurutnya, perbedaan antara kopiku dan kopi temanku berada pada bagaimana cara membuatnya dan menggunakan alat apa. Kopiku menggunakan alat yang disebut kalita, Kalita sendiri merupakan teknik pour over yang diperkenalkan di amerika. Bentuk alatnya sendiri aku tidak tahu, namun menurutnya untuk menghasilkan cita rasa yang unik, kopi yang ia buat menggunakan biji kopi yang di roast sampai medium saja. Biasanya bang Ucok menyebutnya dengan roast Light to Medium. Ia tidak menggunakan Medium to Dark karena menurutnya kopi yang di roast telalu hitam sudah tidak bagus untuk dimikmati. Rasa semua kopi yang sudah sangat hitam sama, walaupun daerah penghasil kopinya berbeda. Tetapi itu juga tergantung dari selera menurutnya. Untuk jenis kopinya sendiri adalah Arabika yang memiliki cita rasa yang berbeda dengan kopi jenis Robusta. Setelah aku mencicipi kopiku, bang Ucok memintaku untuk membandingakannya dengan kopi temanku yang dibuat dengan menggunakan alat yang sama namun berbeda treatment-nya. Dan benar saja, meskipun aku merupakan orang awam untuk menilai cita rasa kopi, namun lidah ku mengatakan bahwa rasa kopiku terasa lebih ringan dibandingkan dengan kopi temanku yang lebih pekat dan lebih menempel rasa pahitnya.

DSCF7495
Kedai Daily Routine

Sambil terus mengamati dan mencicipi detail demi detail aroma dan cita rasa kopi, teman-temanku yang lain datang. Merekapun langsung memesan kopi yang tentunya berbeda dengan kopi yang aku pesan. Ada yang memesan kopi Tobasa dari Sumatra utara, dana ada juga yang memesa kopi Gayo dari Aceh. Dengan menggunakan alat pembuatan yang berbeda, aku diminta untuk membandingkannya dengan kedua kopi pesanan temanku yang baru datang tersebut. Dan betul kata bang Ucok, setelah aku mencicipi kopiku dan membandingkannya dengan kopi kedua temanku yang baru datang, rasa kopiku lebih kuat sehingga kopi temanku itu tak ubahnya seperti air putih yang diberi sedikit warna kopi. Sangat ringan dan benar benar kalah kuat dengan kopiku.

IMG_2200
Water Pouring

Banyak pelajaran yang aku dapat dari secangkir kopi. Dan mulai saat itu, aku benar-banar tertarik untuk lebih mempelajarinya. Penggunaan metode manual brewing aku ibaratkan seperti belajar menggunakan kamera dengan  manual mode. Setiap barista mampu menghasilkan cita rasa yang berbeda meskipun alat dan jenis kopinya sama. Keunikan after taste ini lah yang membuatku semakin penasaran dengan cita rasa kopi yang mampu diterima oleh lidahku. Ohya, aku saat itu berada di sebuah kedai kopi yang terletak di depan asrama wanita ITB. Namanya Daily Routine. Suasana tempatnya sangat mendukung sekali untuk menikmati aneka cita rasa kopi sambil belajar mengenal kopi lebih mendalam. Bang Ucok selaku Owner sekaligus Barista sangat ramah dan bersahabat. Ia bahkan mengizinkanku untuk datang kembali ke tempatnya dan meracik sendiri kopi sesuai dengan keinginanku. Menurutnya, kedai kopi ini bertema open kitchen, sehingga apabila pelanggan ingin meracik kopinya secara mandiri itu sangat dipersilahkan. Dan bagiku, Daily Routine merupakan tempat pertamanku mengenal kopi yang sebenanarnya. Dan dilain kesempatan, aku akan menceritakan bagaimana pengalamanku menjadi seorang barista gadungan. Hehe.

Informasi kedai kopi Daily Routine : Jalan Kanayakan, Dago, Dekat dengan Polman, di depan Asrama Putri ITB.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s