Coban Grojogan Sewu – Quiet Waterfall

Quiet Waterfall

Perjalanan menuju Kota Malang dari Kota Kediri memang sangat menakjubkan. Jalanan menanjak dan berbukit menjadi sebuah tantangan tersendiri untukku. Apabila diperhatikan, jalurnya persis sama dengan jalur menuju Garut, Jawa Barat. Saat itu aku akan pergi mengunjungi sebuah air terjun yang menurut informasi letaknya tidak jauh dari jalur utama penghubung kota Kediri dan kota Malang. Aku pergi menggunakan sepeda motor yang dipinjamkan oleh seorang sahabat di Kampung Inggris. Sepanjang perjalanan, truk-truk besar pengangkut hasil panen seperti tebu dan jagung tidak pernah berhenti aku jumpai. Jalanan aspal nan mulus membuat perjalananku kali ini sangat lancar. Waktu tempuh ke lokasi ini sebenarnya tidak lama, kira-kira 1 jam perjalanan dari kota Kediri kita sudah bisa sampai dan menikmati indahnya air terjun tersebut.

DSC06363
jembatan selamat datang

Sepanjang perjalanan, aku mememukan banyak sekali pedagang yang menjual durian. Suatu kesempatan bagiku untuk bisa mencicipi durian-durian tersebut. Namun aku harus menguburkan niatku itu karena hujan besar turun sehingga kesempatan untuk mencicipi durian tersebut terpaksa aku tunda. Hijaunya pohon yang masih sangat rindang menemani perjalananku kali ini. Hujan besar tidak terasa karena rimbunnya pohon berhasil melindungiku dari guyuran air hujan. Aku terpesona melihat banyaknya pohon durian disetiap sisi jalan yang aku lewati. Karena memang sedang musimnya, maka tidak heran apabila pohon-pohon durian tersebut dipenuhi oleh buah yang siap untuk dipanen. Ingin rasanya berhanti sejanak dan mengambil durian langsung dari pohon-pohon tersebut. Khayalanku pun seketika tertuju pada sebuah tindakan yang mungkin akan aku lakukan apabila ada durian jatuh tepat dihadapanku : berhenti dan mengambilnya tanpa mempermasalahkan siapa yang punya durian tersebut.

Jalan lintas ini berada disebuah lereng bukit yang memanjang menyusuri pinggiran bukitnya. Sungai dengan air yang mengalir deras tepat berada disamping jalan perjalananku. Sungai yang masih alami disertai bebetuan yang besar sangat indah menghiasi setiap aliran airnya. Namun, kejernihan air sungai tersebut harus tercoreng karena hujan yang besar membuat air menjadi berwarna coklat dipenuhi oleh lumpur. Semakin mendekati hulu sungai, semakin dekat pula aku dengan lokasi tujuanku.

DSC06394
Aula tempat berkumpul

Air terjun itu bernama Coban Grojogan Sewu. Aku tidak tahu apa arti nama air terjun yang lokasinya berada di desa Bendosari, Kecamatan Pujon itu. Letaknya yang berada di pinggiran jalan membuat lokasi wisata ini sangat mudah sekali di akses oleh siapapun. Areal air terjun ini kemudian disulap sebuah desa wisata yang mulai dikembangkan oleh pemerintah setempat. Sebelum masuk ke kawasan air terjun, aku harus melewati sebuah jembatan besi yang melintasi sungai besar. Jembatan ini hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki ,sehingga mau tidak mau aku harus memarkirkan sepeda motorku di sebuah warung kecil di sebrang jembatan. Panjang jambatan itu tidak lebih dari 10 meter.

DSC06428
air terjun

Setelah melewatinya, aku harus berjalan kurang lebih 300 meter untuk bisa sampai tepat di bawah kaki air terjun tersebut. Pemandangan untuk masuk ke lokasi air terjun ini sangatlah asri. Sawah yang mulai menghijau berpadu kontras dengan coklatnya pematang dan juga embun setelah hujan selesai. Sambil berjalan, akupun sibuk mengabadikan beberapa objek yang menarik perhatianku. Saat itu aku tidak menemukan seorang pun pengunjung yang hadir di lokasi tersebut. Aku merasa objek wisata itu seolah menjadi lokasi wisata pribadiku. Gerbang berwarna merah kemudian menyapaku ketika aku mamasuki kawasan air terjun ini. warna merah dengan ornament kuning keemasan membuat suasana pecinaan kental terasa.

 

DSC06398
waterfall

Benar saja, setelah masuk kedalam gerbang dan mendekati air terjun, aku dapat melihat dengan jelas tempat sembahyang umat budha tak jauh dari bangunan utama. Terdapat patung budha ukuran kecil dengan tempat dupa serta dupa yang masih menyala didepannya. Uniknya, di tempat ini juga terdapat sebuah musola kecil yang diperuntukan bagi umat muslim untuk beribadah. Aku tidak tahu dengan pasti fungsi utama bangunan yang berdiri tepat di tengah-tengah area objek wisata ini. Dari segi warna, bangunan ini mirip sekali dengan warna-warna khas vihara, namun dari segi fisik bangunan ini lebih mirip aula dimana terdapat ruangan besar yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk berkumpul.

 

Debit air terjun ini sangat besar sekali. Suara deburannya dapat membuat siapa saja yang datang akan terhanyut dalam suasana yang tenang. Hembusan angin yang yang bersatu dengan butiran air juga membuat suasana semakin mengagumkan. Sepi, tenang, damai, itulah suasana yang aku rasakan ketika berlama-lama berada di bahwa air terjun itu. Hujan menambah suasana semakin nyaman lagi. Suasana seperti ini sudah jarang aku temui di kota besar tempat kelahiranku. Karena hari sudah semakin sore, akupun kemudian kembali mengemudikan sepeda motorku ke tempat asalku.

DSC06403
Patung Budha

Dalam perjalanan pulang, aku masih membayangkan bagaimana jika kelak aku mempunyai sebuah rumah tepat di samping air terjun. Aku membayangkan betapa beruntungnya aku jika bisa berlama-lama tinggal di tempat yang bener-benar membuatku nyaman dan tenang seperti hari itu. Aku berharap beberapa tahun mendatang, tempat wisata bisa terus terjaga kesunyian dan kenyamananya. Selamat berjumpa kembali Coban Sewu.

DSC06389
Panorama Alam 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s