Surowono Temple – Forest of Fish

Kemana ini ?

Emang kamu tahu jalan ?

Setau aku sih, jalannya bener kesini.

Udah, ikutin jalan ajalah, nanti juga ketemu.

Sekilas itulah pecakapanku dengannya ketika kami hendak pergi mengungjungi sebuah candi yang ada di sekitar Kediri. Saat itu, aku merencanakan untuk pergi dengan menggunakan sepeda, karena menurut informasi yang aku dapat, letak candi tersebut tidak terlalu jauh dari pare, tempatku singgah sekarang. Tutor yang juga sahabatku tanpa sengaja mendengar rencana perjalananku kali ini. Alih alih harus mencari sepeda ke tempat rental, ia-pun dengan baik hati meminjamkan sepeda motornya untuk aku gunakan sebagai sarana transportasi mengunjungi tempat wisata tersebut. Tentu, menolak rejeki adalah hal yang tidak baik. Oleh karena itu, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Setelah mendapatkan kunci, dan tentunya STNK, aku langsung bergegas mandi.

DSC06308
Candi Surowono

10 menit kemudian aku sudah siap untuk berangkat ke objek wisata budaya yang telah aku rencanakan tersebut. Setelah memanaskan motor, aku meluncur menjemput temanku yang juga sudah siap untuk pergi. Ini bukan pertama kalinya aku berpergian dengan menggunakan sepeda motor selama aku berada di Kampung Inggris. Terlebih, karena memang jarak candi tersebut tidak terlalu jauh, jadi akupun tidak membuat rencana perjalanan yang mendetail. Dan benar saja, setelah sekitar 5 menit berkendara, penunjuk arah dengan tulisan CANDI SUROWONO dengan jelas terlihat disebelah kiri jalan. Namun, penunjuk jalan tersebut tetap saja membuat kami bingung, karena setelah sign itu, tidak ada lagi tulisan atau tanda-tanda yang menunjukan bahwa aku berada di jalan yang benar. Akupun kemudian mengarahkan sepeda motorku sesuai dengan intuisiku saat itu.

DSC06339
View dari atas candi

Feeling-ku berkata, bahwa belok kiri adalah arah yang tepat untuk menuju objek wisata tersebut. Ini terjadi karena pada saat kami berada disebuah pertigaan jalan, permukaan jalan yang aku rasa masih bagus kondisinya adalah jalan ke sebelah kiri. Oleh karena itu, akupun kemudian mengikuti jalur tersebut. Aku kembali berdebat dengannya karena memang tidak ada satupun dari kami yang pernah mengunjungi candi itu. Sepanjang jalur yang aku ambil banyak sekali penjual ikan dan tambak-tambak ikan. Aku tidak tahu pasti ikan apa yang dijual, namun yang pasti pemandangan alam pagi itu sangat indah dan nyaman sekali. Pancuran sirkulasi air hampir ada disetiap petak-petak tambak. Penjual dan pembeli ikan terlihat saling berbicang, ada juga beberapa dari mereka yang terlihat sedang menghitung dan memindahkan ikan ke sebuah keranjang besar. Mobil-mobil box pengangkut ikan terlihat hilir-mudik masuk dan keluar kawasan tambak tersebut. Aku menikmati sekali udara pagi sepanjang perjalannku ini. Terkadang, aku masih bisa melihat embun dari kejauhan yang muncul dari padi-padi yang masih basah terkena embun pagi. Tanpa sadar, akupun sampai di Desa Canggu, dan setelah bertanya pada seorang bapak yang sedang berjalan kaki, arahku ini adalah arah yang benar untuk sampai ke candi yang kami maksud.

DSC06297
Nenek Penjaga Candi

Desa Canggu, desa yang berjarak sekitar 28 kilometer dari Kediri tersebut memiliki sebuah situs peninggalan perubakala berupa sebuah candi. Candi tersebut memiliki nama Surowono. Candi tersebut diperkirakan dibangun pada tahun 1400 M, dimana menurut sejarahnya, candi ini memiliki nama asli yaitu Whisnubhawanapura. Candi ini dibangun untuk memuliakan Bhre Wengker yang merupakan seorang raja dari kerajaan Wengker yang masih berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Candi ini seluruhnya dibangun dari Batu Andesit, yang menurut seorang bapak penjaga disana, bantuan candi ini sama persis dengan batuan yang ada di candi prambanan, Yogjakarta. Candi Surowono ditemukan dalam keadaan sudah hancur. Hanya tersisa pondasinya saja yang sekarang setelah di restorasi dan berdiri tepat diujung sebuah areal Candi yang memiliki pekarangan yang cukup luas. Dihalaman candi kita bisa melihat sisa sisa bongkahan yang masih tersebar dan belum tersusun. Aku yakin bahwa bongkahan-bongkahan tersebut masih menjadi bagian dari badan candi yang sekarang hanya tersisa pondasinya saja itu. Candi yang sudah berumur 600 tahun tersebut masih menyisakan keindahannya berupa relief-relief yang sangat halus. Menurut informasi, relief-relief tersebut merupakan relief yang menceritakan Arjuna Wiwaha dan Bubukshah serta Sri Tanjung. Dalam bahasa jawa sendiri, Suro itu berarti ikan, dan wono berarti hutan. Penamaan tersebut karena memang konon pada jaman itu, daerah tempat berdirinya candi tersebut merupakan hutan yang dipenuhi oleh ikan. Bahkan sampai sekarangpun, daerah ini menjelma menjadi daerah penghasil ikan yang ada di Kediri.

DSC06318
Bapak Penjaga Candi

Secara keseluruhan, lokasi wisata ini sangat bagus dan terawat. Setiap hari kawasan lokasi ini dibersihkan dari berbagai macam sampah yang mengganggu keindahannya. Saat mengunjunginya, aku melihat beberapa lansia yang sedang menyapu dan mengambil dedaunan kering yang terlantar di sekitar area. Aku kemudian merasa iba dengan keadaan tersebut. Terlebih saat aku bercengkrama dengan seorang bapak yang sedang sibuk membersihkan lumut yang muncul di beberapa bongkahan batu yang tercecer diareal candi tersebut. Sang bapak mengaku merupakan warga asli yang sudah puluhan tahun bekerja merawat Candi tersebut. Darinya aku mengetahui sedikit sejarah yang ia ceritakan dengan menggunakan bahasa jawa. Untungnya, aku membawa penerjamah asli jawa yang kemudian menceritakan kembali mengenai asal-usul candi itu kepadaku. Rasa ibaku semakin menjadi takkala bapak tersebut berkata bahwa jerih payahnya merawat candi terkadang tidak mendapat upah sepeserpun. Namun kondisi itu tidak membuat sang bapak lupa akan beryukur. Menurutnya, daripada tidak ada kerjaan lain, maka ia rela membersihkan setiap sudut candi, dan menurutnya juga hingga saat ini bapak tersebut tidak pernah merasakan kelaparan karena tidak mempunyai uang. Mendengar penuturannya, aku menjadi malu karena terkadang aku sendiri lupa untuk beryukur dengan apa yang telah aku dapatkan saat ini.

DSC06359
Alif – My Translator

Perjalanan kami di Candi Surowono pun berakhir setelah aku mendapatkan banyak informasi mengenai sejarah candi tersebut. Dukungan pemerintah daerah untuk kelestarian banda purbakala itu patut untuk diapresiasi, namun aku tetap merasa iba takkala harus melihat para lansia bekerja tanpa lelah untuk merawat keberlangsungan objek wisata ini. Aku kemudian membayangkan apa yang akan terjadi apabila Patih Gajahmada, atau Raja Hayam Wuruk datang dan melihat para lansia sedang bekerja membersihkan lokasi candi tersebut.

Advertisements

One thought on “Surowono Temple – Forest of Fish

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s