Rain, Suddenly You Come Sudden.

Hujan,

Presitipasi berbentuk cairan tersebut terkadang manyebalkan. Namun banyak yang bilang bahwa hujan adalah rejeki dari sang Maha Kuasa. Aku sendiri tidak menilai hujan sebagai sebuah hal yang menyebalkan, tidak juga sebagai bencana yang harus disesali. Meskipun beberapa aktivitas yang telah aku direncanakan harus tertunda karenanya, namun Aku justru lebih bersyukur karena kehadirannya bisa membawa petualangan unik serta menarik buatku.

Hari itu, aku menunggu kabar dari seorang teman yang mengajakku untuk pergi ke sebuah bangunan tua yang ada di sebelah utara kampung inggris. Tidak jauh memang tempatnya. Hanya sekitar 10 menit bersepeda. Malam sebelumnya aku dan temanku berjanji untuk mengunjungi bangunan tua tersebut pada pagi hari. Ini untuk berjaga-jaga dari hujan yang biasanya datang pada saat sore hari. Namun, karena malam itu aku ada acara bersama teman seluruh camp, maka aku harus tidur telat, dan menyebabkan aku terbangun saat hari sudah siang. Akhirnya aku harus mengulur janji tersebut karena sesaat setelah aku bangun, semua teman camp memaksaku untuk ikut bermain futsal. Aku tidak bisa menolaknya karena ini adalah acara rutin camp.

DSC06154
Corn Field

Cuaca nampak bersahabat siang itu. Karena malam sebelumnya hujan terus mengguyur kampung inggris, maka pagi itu matahari hadir tanpa ada penghalang. Tidak terlihat awan mendung siang itu. Aku pun pergi bermain futsal setelah memberi kabar pada temanku untuk menunda perjalanan kami ke bangunan tua tersebut. Aku selesai bermain futsal sekitar jam 13.00. Aku kemudian memberi kabar pada temanku untuk bersiap karena sehabis pulang dari lapangan, aku akan melanjutkan acara jalan-jalan dengannya. Sesampainya di camp, aku bergegas mandi dan bersiap untuk melanjutkan aktivitasku menuju destinasi lain di kampung inggris.

DSC06147
Hutan Kayu

aku dan temanku berjanji bertemu di depan sebuah kedai kopi dengan menggunakan sepeda masing-masing. Perjalanan kami tidak jauh dan tidak keluar dari area kampung inggris. Sepanjang perjalanan, gerimis kecil mulai turun mewarnai perjalanan kami. Pemandangan perkampungan sangat melakat di sepanjang perjalanan sore itu. Dikiri kanan jalan masih dipenuhi oleh sawah yang mulai menguning, kebun tebu yang telah menghijau, kebun jagung, juga kebun singkong yang siap untuk dipanen. Pemandangan sungguh sangat asri dan alami walau gerimis kecil sedang turun. Aku melewati tempat nongkrong anak muda yang sangat popular di kawasan ini. Namanya adalah kedai Tansu, kepanjangan dari Ketan Susu. Letaknya yang berada tepat di tepian sawah membuat siapapun akan merasa nyaman takkala duduk bersantai sambil menyantap sepiring ketan bertabur susu dan secangkir kopi panas. Sayang, saat aku datang, sajian utama di kedai Tansu tersebut sudah habis. Menurut infomasi yang aku peroleh dari masyarakat sekitar, kedai Tansu tersebut sudah berdiri sejak lama. Mereka tidak tau dengan pasti kapan tepatnya kedai tersebut dibuka, yang pasti menurut penjabaran mereka, tempat itu selalu ramai oleh anak-anak muda yang gemar berkumpul untuk mengisi waktu luang mereka.

DSC06163
Old Building with Vandalism

Perjalananku masih belum sampai. Gerimis mulai membesar. Karena aku tidak tahu arah dan jalan menuju destinasi, maka temanku berada dibarisan paling depan sebagai penunjuk jalan. Kami kemudian berbelok ke perkebunan tebu. Jalanan masih belum beraspal dan rusak akibat kendaraan yang hilir mudik keluar masuk area. Genangan air dan lumpur mewarnai perjalanan kami. Beberapa kali kami harus turun dari sepeda karena lumpur yang basah tidak memungkinkan untuk dilewati oleh sepeda kami. Perjalanan ini membawa kami mamasuki bagian tengah dari perkebunan tebu. Bayangan setting film interstellar pun langsung masuk ke dalam pikiranku. Aku membayangkan bagaimana jika kemudian tornado datang dan kami semua menghindarinya dengan menerobos hamparan kebun yang ada di depan mata. Dan juru kamera mengambil gambar adegan kami dari udara sehingga terlihat dengan jelas luasnya hamparan kebun tebu dan pola yang kami bentuk. Namun seketika fantasiku hancur saat gerimis berubah menjadi hujan besar. Tidak ada satupun tempat yang bisa kami gunakan untuk berteduh, sehingga kami harus berteduh disebuah pohon ketapang besar yang daunnya cukup rimbun melindungi kami dari derasnya air hujan. Temanku berkata bahwa tempat kami berteduh tidak jauh dari tempat yang akan kami tuju.

DSC06159
sisa sisa puing

Bangunan tua tersebut tenyata tidak seperti bangunan tua yang aku bayangkan. Bangunan itu taklain adalah puing-puing sisa bangunan yang sudah rusak dan ditinggalkan oleh pemiliknya. Menurut informasi, bangunan itu adalah bekas sebuah pabrik yang terbakar habis sehingga hanya menyisakan puing-puingnya saja. Bangunan nampak sangat mistis, karena disekelilingnya sudah dipenuhi oleh ilalang dan juga sebagian lahannya ditanami pohon tebu. Dari kejauhan bangunan ini menyerupai sebuah bangunan terbengkalai yang terisolasi dari kawasan publik. Setelah memarkirkan sepeda secara sembarangan, aku masuk menyusuri bangunan tersebut sambil mengarahkan lensa kamera ke beberapa sudut yang aku rasa bagus untuk diabadikan. Vandalisme tidak luput dari setiap sudut bangunan. Sepanjang mata memandang, karya-karya illegal dari artis-artis seni yang namanya selalu disembunyikan tersebut bisa dijumpai. Lantai yang terbuat dari keramik hitam khas bangunan tempo dulupun tidak luput dari aksi kreatif mereka. Genangan air berhasil membuat karya-karya mereka terlihat lebih ekspresif. Hujan terus mengguyur kami yang sedang asik mengabadikan beberapa moment yang mungkin bisa kami upload diberbagai media sosial yang kami miliki. Hujan juga tidak menjadikan kami takut untuk mengeluarkan barang-barang elektronik yang kami miliki. Semakin deras hujan yang datang, semakin unik juga pemandangan yang kami lihat. Namun karena hari semakin sore dan matahari semakin menghilang, maka kamipun memutuskan untuk pulang.

DSC06167
suasana dalam bangunan

Tidak semua orang berduka karena hujan. Hujan adalah hal biasa yang selalu terjadi. Meskipun terkadang hujan selalu menjadi kambing hitam atas gagalnya sebuah rencana, namun dibalik itu semua, hujan tetaplah rejeki yang patut kita syukuri. Hujan rejeki untuk para petani. Rejeki untuk daerah yang terkena kekeringan, juga rejeki untukku yang akhirnya bisa menikmati suasana “menakjubkan” disebuah kedai sambil menenggak secangkir kopi panas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s