Simpang Lima Gumul, “Arc de Triomphe” at Kediri

WhatsApp-ku tiba-tiba berbunyi saat aku masih memikmati tidur siangku. Seorang teman kelas mengajakku untuk mengunjungi sebuah monumen yang manjadi icon kabupaten Kediri. Aku masih bermalas-malasan membaca ajakannya, namun kemudian aku bertanya  perihal waktu keberangkatan rencana tersebutnya. Melihat jawaban di whatsApp, seketika aku kembali menyimpan handphone untuk melanjutkan tidur siangku. Tepat pukul 16.00, WhatsApp ku kembali berbunyi. Temanku menanyakan keberadaanku. Akupun langsung bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap menuju tempat yang kami bicarakan di WhatsApps.. Sebelum bersiap, aku menyempatkan diri untuk membalas pesan tersebut dan berkatan bahwa aku akan berada di meeting point sekitar 5 menit lagi.

DSC05692
“Arc de Triomphe” KEDIRI

Hari itu, hujan baru saja berhenti. Jalanan masih nampak basah. Para penghuni Kampung Inggris mulai berhamburan keluar penginapan untuk mencari makan. Suasana sehabis hujan itu seketika menjadi sangat ramai. Aku mengambil sepeda yang terparkir manis dan tidak terkunci di parkiran camp-ku. Sebenarnya aku pernah bertanya pada beberapa orang yang mungkin sepedanya bisa aku pinjam untuk menuju monumen tersebut, namun beberapa penghuni camp menyarankanku untuk memakai sepeda siapa saja yang tidak terkunci, asalkan bertanggung jawab dan tidak membuat sang empunya sepeda merugi. Mendengar saran itu, akupun kemudian memakai sepeda yang tidak terkunci tersebut secara acak, namun dengan penuh tanggung jawab tentunya.

DSC05684
Lorong Bawah Tanah SLG

Sesampainya di meeting point, hanya ada satu teman yang sudah lama menunggu. kemudian akupun meminta maaf padanya atas keterlambatanku. Setelah meminta maaf, aku menanyakan keberadaan teman lain yang ternyata masih belum siap dan masih berada di camp-nya. Hari semakin sore dan cuaca kembali mendung. Temanku yang sudah menunggu lama tersebut semakin tidak sabar untuk segera pergi menuju lokasi yang akan kami kunjungi. Namun karena ini bukan rencanaku, jadi aku tidak berani untuk mengambil keputasan, dan akhirnya kamipun memutuskan untuk menunggu kehadiran teman lainnya. Tepat jam 05.00 rombongan team Palembang, team utama yang memiliki ide dan yang mengajak kami pergi mengunjungi menumen tersebut datang.

Tujuan yang akan aku kunjungi kali ini adalah Simpang Lima Gumul. Masyarakat lokal sering menyingkatnya menjadi SLG saja. Aku dan 6 orang temanku mengunjungi tempat ini dengan menggunakan sepeda. Menurut informasi yang kami kumpulkan, perjalanan menuju SLG memakan waktu 60 menit bersepeda. Akhirnya tanpa buang waktu, kamipun berangkat mengayuh sepeda bersama menuju destinasi tersebut. Cuaca memang sedang tidak bersahabat, baru 10 menit mengayuh, hujan turun. Kami berteduh di sebuah tenda kecil sambil berharap hujan akan berhenti. Melihat hujan sedikit mereda, kami kembali mengayuh sepeda kami, namun hujan benar-benar tidak mengizinkan kami untuk mengunjungi ikon kabupaten Kediri tersebut. Beberapa kali kami meneduh, sampai pada akhirnya hujan semakin besar dan kami memutuskan untuk kembali ke Kampung Inggris. Selain karena hujan yang semakin membesar, kepulangngan kami ke tempat asalpun dikarenakan hari sudah semakin malam dan jalanan yang semakin sepi serta gelap. Rancana mengunjugi SLG pun batal, kami basah kuyup setibanya di camp masing-masing.

DSC05727
Arca Ganesha

Esoknya, aku diajak lagi untuk mengunjungi SLG, rasa penasaran tidak menurunkan semangatku untuk mengunjungi monument ikonik tersebut. Apalagi kali ini kami pergi dengan menggunakan sepeda motor. Tanpa berfikir panjang, akupun mengiyakan ajakan tersebut. Dengan menggunakan sepeda motor, ternyata waktu tempuh dari Kampung Inggris hanya 10 menit. Meskipun gerimis turun, namun kami tetap menancapkan gas untuk bisa segera sampai di lokasi tujuan.

Simpang Lima Gumul, begitulah sebutan monumen ini. Bentuk arsitekturnya mirip dengan menumen Arc De Triomphe di Paris. Monumen ini dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan pada tahun 2008. Luas wilayahnya mencapai 804 meter persegi. Dibangun sebagai pusat perekonomian kabupaten Kediri, dan juga sebagai sarana untuk menghubungkan Kediri dengan beberapa wilayah ekonomi disekitarnya. Apabila Arc de Triomphe menceritakan tentang perjuangan pada masa perang Napoleon, maka SLG ini dibuat dengan tujuan untuk menyatukan lima wilayah di kabupaten Kediri. Perkembangan selanjutnya, monumen ini dijadikan sebagai ikon kabupaten, serta menjadi pusat ekonomi dan perdagangan baru di kabupaten Kediri. Di setiap sudut bangunannya terdapat relief yang menceritakan tentang sejarah pembangunan Kediri. Relief-relief itu menceritakan kesenian dan budaya yang sampai sekarang masih terjaga.

DSC05719
Kubah Aula Utama

Terdapat juga patung atau arca Ganesha, yang menurut kepercayaan umat hindu adalah sebagai dewa pengetahuan dan kecerdasan, dewa pelindung, dewa penolak bala, serta dewa kebijaksanaan. Apabila diperhatikan lebih mendetail, ternyata di sudut bangunan tersebut terdapat Lift yang bisa mengantarkan kita ke aula yang ada di atasnya. Bangunan ini memiliki 6 lantai, dan lantai paling atas bisa digunakan untuk keperluan pertemuan ataupun sebagai auditorium. Namun sayang, karena minimnya pengelolaan, jadi lift tersebut tidak berfungsi saat aku mengunjunginya. Lampu-lampu yang menerangi bangunan ini mampu membuat monumen terlihat sangat megah. Seakan bangunan tersebut adalah bangunan paling besar dan paling kokoh yang ada di Kabupaten Kediri. Tidak heran apabila banyak wisatawan yang mengabadikan kemegahan bangunan ini setiap saat. Lokasi wisata ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Setiap harinya pasti selalu ada yang datang walau hanya sekedar berolahraga atau bermain. Aku melihat ada sebuah mini market yang memberikan ruang perpustakaan gratis di area monumen ini. Namun sayangnya, minat baca pengunjung masih terlalu rendah daripada minat selfie di depan monumen dan di depan sign bertulisan KEDIRI LAGI.

DSC05724 (1)
Monumen Simpang Lima Gumul

 

Setelah puas berkeliling monumen, kamipun memutuskan untuk pulang. Hujan tidak lagi menjadi hambatan bagiku karena pada akhirnya aku bisa mengunjungi menumen ikonik tersebut dan berfoto selfie di depannya. Dalam perjalanan, aku membayangkan bagaimana jika sejarah pembangunan menumen ini persis sama dengan sejarah pembangunan monumen Arc de Triomphe di Paris, namun siapa dan melawan siapa peperangan tersebut terjadi?

Advertisements

One thought on “Simpang Lima Gumul, “Arc de Triomphe” at Kediri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s