A Year Has Passed, The Disaster Become The Goal : Mt. Kelud

A Year has passed. The Disaster become the goal.

Susana mendadak berkabut tebal. Pejalanan menuju Yogjakarta dari Banyuwangi begitu tegang namun mengasikan. Truk pengangkut pasir tambang telihat kelelahan dalam perjalanannya. Setiap tanjakan terjal, truk-truk itu berusaha untuk mengambil nafas panjang agar bisa terus mendaki jalanan tersebut. Motor yang aku kendarai dengan mulus berhasil menyusul truk-truk yang terlihat ngos-ngosan itu. Aku sedang berada di jalur selatan pulau jawa, beberapa kilometer dari area Gunung Kelud. Hari itu awal tahun 2014, semua awak media memberitakan bahwa Gunung Kelud sudah masuk ke level waspada. Gempa terus terjadi akibat aktivitas gunung tersebut. Setiap jamnya, pihak kemanan terus menambah area evakuasi. Status waspada gunung tersebut membuat siapapun yang berada disekitar kawasan harus menjauh sampai dengan radius 20 kilometer. Namun, berita tersebut tidak menyulutkan nyaliku untuk terus mengarungi jalanan berbukit tersebut.

DSC05634
Mt. Kelud

Sesampainya di Yogjakarta, berita tentang status gunung yang berada di perbatasan kabupaten Kediri, Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar ini semakin menjadi-jadi. Status waspada meningkat menjadi awas level IV. Semua media saling berebut untuk memberikan berita paling update atas apa yang akan terjadi pada gunung tersebut. Seluruh awak media terus menayangkan beberapa gambar asap tebal yang keluar dari puncak gunung itu. Bahkan beberapa media memberitakan tentang profil dan sejarah gunung  yang masuk dalam katagori Gunung Aktif itu. Aku merasa bersyukur karena bisa sampai di Yogyakarta sebelum gunung tersebut erupsi. Tepat pukul 22.50 Wib hari itu, Kelud resmi erupsi. Suara letusannya terdengar sampai ke Yogjakarta, namun saat itu aku tidak menyadari bahwa suara itu adalah suara letusan gunung Kelud. Pagi harinya, abu erupsi mulai menyelimuti hampir seluruh kota Yogyakarta. Jarak pandang tidak lebih dari 3 meter. semua aktivitas lumpuh. Penerbangan semua ditunda. Yogjakarta hari itu mencekam mirip dengan suasana film-film yang menyuguhkan peristiwa akhir jaman. Semua rencana perjalananku di Yogjakarta batal. Kerugian akibat letusan gunung ini disinyalir lebih dari 17 milyar rupiah.

DSC05656
Warning sign

Hari ini, diawal tahun 2016, aku mencoba mengunjungi gunung aktif tersebut. Perjalanan dari Kediri tidak begitu lama. Jarak gunung tersebut hanya 53 kilometer dari Kota Kediri. Karena aku sedang berada di Pare, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa mengunjungi gunung yang mulai menjadi primadona wisata kabupaten Kediri itu. Sekitar jam 09.00 pagi, aku dan 5 orang kawanku menyewa sepeda motor. Kami menyewa 3 buah sepeda motor matic dari salah satu tempat penyewaan yang ada di Pare. Perjalanan kami mulai tanpa ada satu orang pun dari kami yang mengetahui jalur menuju objek wisata tersebut. Perjalanan diwarnai dengan wrong way. Informasi yang kami dapat tidak lengkap sehingga kami harus memutar balik dari jalur utama menuju Malang. 1 jam perjalanan lebih kami buang. Sempat terfikir untuk lanjut saja sampai Kota Malang, namun salah satu dari teman kami sudah ada rencana lain sehingga terpaksa kamipun memutar balik menuju arah yang benar. Rambu-rambu menuju objek wisata Gunung Kelud sebenarnya susah jelas, namun entah mengapa, kami malah mengikuti petunjuk seorang bapak yang kami tanyai disebuah bengkel tambal ban. Alhasil, kami nyasar dan harus memutar balik ke jalan yang benar.

DSC05636
Take Some Picture

Perjalanan menuju Gunung Kelud tidak begitu ramai. Jalan cenderung sempit dan hanya bisa dilalui oleh 2 mobil kecil. Jadi, pada saat ada truk yang berpapasan, otomastis kecepatan harus diturunkan. Perkebunan jagung, tebu, dan nanas tersebar luas di sepanjang perjalanan. Bahkan banyak pabrik pengemasan jagung dan pengolahannya. Rasanya, hari ini tidak banyak orang yang mengunjungi Gunung Wisata tersebut. Indikatornya adalah jalanan yang sepi dari kendaraan wisatawan yang berkunjung ke arah objek wisata tersebut. Hujan ringan mulai datang sesaat sebelum gerbang wisata gunung tersebut terlihat. Karena alasan waktu, kamipun menerobos rintikan hujan tersebut. Kami hanya berhenti beberapa menit saat hujan mulai membesar. Rupanya, perjalanaan dari gerbang utama menuju kawah gunung kelud lumayan cukup jauh. Namun tidak perlu khawatir karena jalanan sudah baik dan beraspal. Akan tetapi, yang namanya waspada itu harus selalu menjadi faktor utama, karena terkadang terdapat lubang atau jalanan yang rusak selama perjalanan. Aku tidak melihat sisa-sisa erupsi sepanjang perjalanan menuju objek wisata tersebut. Dari mulai pintu masuk objek wisata sampai dengan tempat parkir kendaraan yang kulihat adalah beberapa bangunan yang baru dibangun dan juga beberapa tempat duduk yang terbuat dari besi yang diperutukan bagi pengunjung untuk bersantai. Walau terdapat beberapa ruas jalan yang amblas membentuk sebuah jurang kecil, nampaknya pengelola di objek wisata ini sangat memperhatikan kenyamanan pengunjungnya. Dengan jelas lubang yang amblas itu diberi garis pengaman dan rambu-rambu agar pengunjung berhati-hati. Rumah makan banyak berjejer di sepanjang jalan menuju kawah gunung aktif tersebut.

DSC05623 (1)
Shelter

Pemandangan Gunung yang berketingian 1.731 Mdpl itu tidak sepenuhnya dapat aku nikmati. Hujan besar disertai dengan angin kencang mendadak turun beberapa saat setelah kami memarkirkan kendaraan bukan pada tempatnya. Awalnya hujan tidaklah besar, namun semakin lama hujan tersebut semakin menjadi-jadi. Semakin besar disertai dengan angin kencang yang membuat udara menjadi semakin dingin. Seketika semua pengunjung yang sedang asik berfoto langsung berhamburan menuju tempat berteduh. Kabut turun dan menutupi jarak pandang. Aku berteduh disebuah tenda kecil beratapkan terpal. Tenda berukuran 1×2 meter itu diisi oleh 7 orang dan saling berdesakan. Semakin lama, baju dan celanaku semakin basah oleh cipratan air hujan. Hujan berlangsung cukup lama sehingga kami memutuskan untuk segera turun menerobos hujan besar tersebut. Alasan kami menerobos hujan tersebut taklain karena hari mulai sore, dan masih ada tempat yang harus dikunjungi sebelum waktu sewa kendaraan habis. Pada akhirnya kamipun nekad menerobos derasnya hujan sampai tidak ada satupun bagian pakaian kami yang kering.

DSC05645
Waterfall

Meskipun hujan, setidaknya aku masih bisa menikmati pemandangan alam Gunung Kelud. aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melihat gunung yang hampir saja membuatku tidak bisa pulang dari perjalanan motorku keliling pulau jawa. Derasnya aliran air hujan membuat dinding-dinding gunung dipenuhi oleh aliran air terjun yang menyerupai akar rambat. Pemandangan tetap menarik dan menakjubkan walau hujan terus mengguyur kawasan tersebut, bahkan sampai kami kembali ke Pare. Suatu hari nanti, aku pasti akan kembali lagi untuk melihat keindahan gunung tersebut. See Kloete.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s