Study in Kampoeng Inggris – Pare

Study in Kampung Inggris

Hari itu adalah hari rabu. Hari dimana merupakan hari pertamaku memulai sebuah program yang ada di Kampung Inggris Pare. Sehari sebelumnya, teman-temanku menyarankanku untuk menyewa sepeda untuk mempermudahkanku dalam segi transportasi. Aku tidak pernah tertarik untuk menyewa sepeda tersebut. Karena aku berfikir bahwa tempat dimana aku belajar tidak jauh, jadi jalan kaki mungkin jauh lebih hemat daripada harus menyewa sepeda. Terlebih aku tidak berniat untuk berpergian jauh-jauh dari kampung ini. Selama berada di Kampung Inggris, aku tinggal disebuah asrama pria yang letaknya tidak begitu jauh dari kantor pusat tempatku belajar. Saigon, itulah nama asramaku. Tempatnya sendiri lebih meyerupai sebuah kost-kostan yang memiliki kurang lebih 30 kamar. Ohya, di pare, khususnya Kampung Inggris jangan harap bisa menemukan tempat kost campur, dimana laki-laki dan perempuan berada dalam satu atap. Disini hampir semua tempat kost selalu homogen. Namun bagi yang sudah menikah, jangan khawatir, karena di kampung ini juga terdapat tempat kost yang dikhusukan untuk pasutri (pasangan suami istri).

IMG_1783
Rainbow Lamp : Saigon Warior

Kampung Inggris di Pare sudah berdiri sejak lama. Menurut cerita yang beredar dari masyarakat, kampung ini berdiri karena perjuangan bapak Kalend Osen. Beliau berasal dari Kalimantan timur. Beliau merupakan seorang tokoh guru yang bersahaja dan mungkin sekarang sudah memilik ribuan murid yang tersebar di seluruh Indonesia dan dunia. Perjuangannya dimulai ketika beliau mendirikan tempat Kursus pertama di desa Tulungrejo. Tempat kursus itu bernama B.E.C (Basic English Course) dan sekarang merupakan tempat kursus bahasa inggris tertua di Kampung Inggris ini. Sejarah pun menyebutkan bahwa kampung ini berdiri secara kebetulan, kebetulan yang dimaksud terjadi pada sekitar tahun 1976, dimana ada dua orang mahasiswa IAIN Sunan Gunung Ampel yang sedang mencari seorang tokoh ulama bernama Kyai Ahmad Yazid. Maksud kedatangan mereka mencari sang Kyai taklain adalah untuk belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab untuk mengikuti sebuah ujian Negara. Kyai Ahmad Yazid ini menguasai berbagai macam bahasa sehingga pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, Sang Kyai sering diminta oleh presiden untuk menerjemahkan beberapa tamu asing yang menjadi tamu Negara. Akhirnya, kedua mahasiswa tersebut belajar dengan bapak Kalend Osen yang taklain adalah murid sang Kyai, setelah bapak Kalend Osen mendapat mandat untuk mengajar oleh Kyai Ahmad Yazid.

IMG_1763
Preparing Dorm Program

aku sendiri memilih Global English sebagai tempatku menimba bahasa Inggris. Aku senang bisa menjadi bagian dari temapt kursus ini. Bukan karena tempat ini lebih bagus dari tempat lain, tapi karena suasana belajar yang menurutku mengasikan. Terlebih karena disini, teman-teman yang sudah lama belajar tidak pernah ragu untuk mengajarkan mereka yang baru belajar. Tidak ada GAP antara mereka yang baru dan mereka yang telah lama mendiami asrama. Bahkan penghuni lama selalu mengajak kami yang baru untuk bermain dan “ngopi” bersama. Dalam rangkaian programaku, selain program bahasa inggris, aku juga ikut dalam program asrama. Program ini selalu dimulai pada pagi hari tepatnya pukul 04.30 dan juga malam hari pukul 19.00. Mirip sebuah program asrama yang pernah aku lihat dibanyak liputan pesantren. Program ini lebih menekankan pada sebuah kekompakan antar penghuni asrama. Sesuai dengan motto asrama : Respect, Dicipline, Togetherness. Program ini juga merupakan ajang bagi siapapun untuk sharing tentang apapun. Ada satu aturan asrama yang menurutku menjadi sebuah tantangan tersendiri. Rule itu adalah keharusan berkata dalam bahasa inggris saat kita berada di asrama. Dimanapun tempatnya, baik itu parkiran, kamar mandi, kamar tidur, sampai kantin, kami diharuskan untuk berbicara bahasa inggris. Hukuman bagi yang melanggar sebenarnya cukup sederhana, hanya Rp.1000,- per satu kata. Dan uang yang terkumpul biasanya digunakan untuk acara pesta asrama yang bisa berlangsung hampir setiap malam minggu. Dengan bagini, kekompakan dan kebersamaan antar penghuni asrama akan semakin melekat. Saigon hampir dipenuhi oleh orang-orang dari beragam pelosok Indonesia. Mulai dari Aceh sampai Papua semua berkumpul disini. Semua kamar penuh terisi. Bila ditotal, hampir ada 150 orang lebih yang mendiami asrama ini. Maka jangan heran apabila suasana asrama akan berubah menjadi sebuah pasar atau bahkan tempat konser apabila program asrama berlangsung. Cukup unik menurutku. Karena mereka semua datang dengan tujuan yang sama denganku. Cara belajar di kampung inggris ini juga unik. Suasana belajar tidak dibuat formal. Suasana belajar lebih mirip dengan suasana bermain. Tidak ada kecanggungan untuk berkata dalam bahasa inggris. Entah itu salah atau benar, yang pasti kita seakan berada disebuah Negara yang memang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa kesehariannya. Jangan heran apabila seorang tukan bakso sekalipun sangat mahir berbahasa Inggris. Aku pernah membuktikannya pada saat aku ingin membeli Pentol, ketika aku bertanya dengan bahasa inggris, penjual tersebut langsung menjawabnya, bahkan sangat fasih dan lancar sehingga justru aku merasa malu dengan kemampuan bahasaku sendiri.

IMG_1785
New Friend, New Family.

Menurutku, Kampung Inggris menjadi kampung yang wajib dikunjungi apabila ingin belajar bahasa ataupun untuk sekedar jalan-jalan. Akupun kemudian berfikir untuk bisa menetap di Kampung ini sampai kemampuan bahasa inggrisku benar-benar meningkat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s