CROWDED in Pare !

Crowded in pare.

Siang itu aku baru saja tiba disebuah kantor di jalan Brawija, Pare. Sahid kemudian menyuruhku untuk turun dan juga mengingatkanku akan sebuah kertas kwitansi yang harus aku tunjukan pada resepsionis di kantor. Ya hari itu aku baru saja tiba di Pare dan Sahid mengantarkanku langsung ke kantor pusat tempatku belajar nanti. Bangunan kantor terlihat masih baru. Namun banyaknya orang yang datang membuatku tidak bisa memberikan penilaian terhadap keindahan dari tempat ini. Sebenarnya memang tidak ada keindahan sama sekali dari kantor ini. Hanya sebuah peta yang terbuat dari spanduk besar dengan ukuran hampir 4×4 meter yang merupakan peta Kampong Inggris secara keseluruhan. Di peta tersebut jelas terlihat beberapa tempat yang nantinya mungkin akan aku gunakan sebagai tempatku belajar.

IMG_1772
All student

Aku kemudian mengeluarkan lembar kwitansi yang dimaksud Sahid. Dan setelah mengucapkan terima kasih, Sahid langsung meluncur pergi meninggalkanku. Aku kemudian terdiam tepat di tengah pintu gerbang bangunan tersebut. Sekelilingku sekarang penuh dengan orang-orang yang nampaknya sedang sibuk mengurus sesuatu hal. Aku benar-benar terdiam saat itu. Aku kemudian terperanjat ketika ada seorang pengendara sepeda yang memintaku untuk segera pindah dari tempat tersebut. Bukan maksud mengusir, namun mamang posisiku saat itu berada bukan pada tempatnya. Akupun kemudian menyingkir dari tempatku tersebut. Entah memang aku yang masih merasakan kantuk atau memang energiku belum kembali, yang pasti aku kemudian kembali duduk dilantai kantor sambil memperhatikan orang yang berseliweran dihadapanku.

DSC05150
Tempat belajar

Dalam pengamatanku saat itu, yang lebih tepatnya adalah lamunan, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang pria yang memanggil namaku. Aku bukannya berbalik untuk melihat ke arah suara, namun justru aku semakin terdiam karena sampai saat itu aku sama sekali belum memiliki teman. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui keberangkatanku ku Kampong Inggris ini. Dan dapat dipastikan bahwa mereka yang tahu perihal keberangkatanku berada di Bandung. Jadi sangat tidak mungkin bahwa seorang pria yang memanggilku itu adalah para sahabatku itu. Pikiranku kemudian bertanya, apa betul sahabatku ikut juga ke Kampung Inggris? Namun pikiranku yang lain berkata bahwa suara itu bukan berasal dari salah satu sahabatku dari Bandung. Itu adalah suara yang baru yang masih belum familiar di telingaku. Benar saja, ketika aku membalikan muka menuju ke sumber suara, dari kejauhan aku melihat teman baruku yang dulu pernah satu pekerjaan denganku. Dia adalah Baso. Baso Hamdani nama lengkapnya. Aku mengenalnya saat kita bersama-sama tergabung dalam sebuah pekerjaan di Pulau Pulau Kecil Terluar Indonesia (PPKT). Akupun kemudian tersenyum padanya, dan melambaikan tangan padanya untuk segera bergabung satu tempat duduk denganku. Ternyata Baso tidak sendirian, ia bersama dangan Januar, dan Arif, yang masih merupakan teman satu pekerjaan denganku di PPKT. Kami sama-sama terkejut, karena sebelumnya memang kami tidak pernah membuat janji untuk pergi ke Kampong Inggris bersama, apalagi membuat janji untuk berada pada satu tempat kursus yang sama. Kamipun kemudian tertawa bersama dan masih dalam suasana yang sama-sama tidak percaya akan situasi ini.

DSC05159
belajar di kebun

Aku kemudian bertanya pada teman-temanku mengenai tata cara registrasi kursus. Merekapun kemudian menjelaskan padaku dengan lengkap dan mengajakku untuk bergabung dalam satu kamar di asrama nanti. Akupun kemudian mengiyakan ajakan mereka, dan segera melakukan registrasi dengan menunjukan kwitansi yang sebelumnya aku print di Bandung.

Pare, dalam banakku merupakan sebuah tempat yang sunyi, senyap, dan jauh dari hiruk-pikuk keramaian perkotaaan. Aku membayangkan bahwa tempat ini masih asri bahkan dikelilingi oleh sawah yang hijau dan siap dipanen. Suara burung yang riang gembira saat pagi hari, serta diiringi suara percikan air sungailah yang nantinya akan menemaniku saat sedang berada di dalam kelas. Cuaca yang adem, dengan hembusan angin yang sepoisepoi membayangi pikiranku selama perjalananku menuju tempat tersebut. Setiap paginya, yang dibayanganku adalah hangatnya sinar matahari yang disellingi oleh kabut dari rindangnya pepohonan. Bahkan aku ingin sekali merasakan berenang disebuah sungai kecil yang airnya masih bersih. Aku kemudian membayangkan betapa gembiranya anak-anak kecil yang sedang mandi di aliran sungai, mereka saling tertawa dan mengejek satu-sama lain sambil berlarian atau berlomba-lomba untuk memenangkan sebuah permainan tradisional.

DSC05156
jajanan unggulan

Namun, semua bayanganku itu seketika terhapuskan saat aku melihat betapa ramainya orang-orang bersepeda hilir-mudik disetiap jalan yang ada. Ditambah lagi dengan orang yang berjalan kaki serta mobil dan motor pengantar yang menurunkan peserta didik baru yang hampir setiap menit kedatangannya. Banyak orang berjalan dengan menjingjing kopernya, menggendong tas gunungnya, serta menjingjing apapun yang mungkin bisa menemaninya saat berada di kampung ini. Hampir setiap sudut rumah berubah menjadi penginapan atau tempat kost. Pedagang kaki lima ataupun café dan rumah makan banyak ditemui hampir di sepanjang jalan utama dan jalan-jalan kecil lainnya. Dan yang pasti, hampir setiap sudut tempat adalah tempat belajar bahasa, ya, English course. Dan mungkin situasi yang terakhir pula yang menjadikan mengapa Pare ini disebut Kampung Inggris.

Hari itu Pare, Kampung Inggris, begitu penuh dengan manusia. Entah berapa jumlah totalnya, yang pasti hampir semua penginapan yang ada penuh. Harga sepeda sewaan naik seketika karena banyaknya peminat. Dan nampaknya setiap orang yang hadir di kampung ini memiliki niat dan tujuan yang sama denganku. BELAJAR BAHASA INGGRIS!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s