Hai Pare !!!

Hei Pare !!

“Hai, How do you do ?”

“Are you Imam right ?”

“My name sahid, Ill pick up you to pare, kampong inggris.”

Aku hanya mengangguk ketika seseorang mucul tepat dihadapanku sambil memegang handphone ditangan kanannya. Pagi itu, aku baru saja sampai di stasiun kereta api Kediri. Aku masih terkantuk-kantuk karena memang semalam sebelumnya aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak di kereta kelas ekonomi. Sahid kemudian menuntunku ke sebuah motor yang diparkir di samping trotoar jalan. Sahid tidak langsung menghidupkan sepeda motornya karena ia berkata masih menunggu seorang taman lagi yang datang dengan kereta yang sama denganku. Aku mengira, aku adalah orang terakhir yang ada didalam stasiun setelah kereta berhenti. Namun nyatanya tidak. Padahal aku sempat duduk-duduk santai dahulu sambil menghabiskan kopi kemasan yang aku bawa dari Bandung.

IMG_1743
Sponsor sign

Sahid kemudian sibuk dengan handphone-nya seakan tidak sabar untuk segera bertemu dengan tamu yang harus ia jemput. Sahid ternyata tidak sendiri, seorang temannya yang sama-sama mengendarai sepeda motor datang dari kejauhan. Ternyata temannya itu juga adalah team penjemput siswa baru yang akan belajar di kampung inggris pare. Aku tidak banyak mengexplorasi tempat tujuan baruku ini. Bukan tanpa sebab, disamping aku masih mengantuk, aku juga merasa bahwa sisa energi yang ada ditubuhku semakin menipis. Terakhir kali aku makan yaitu beberapa jam saat kereta tujuan Kediri berangkat dari statsiun kiaracondong Bandung. Dan aku merasakan lapar yang luar biasa sehingga aku hanya pasrah untuk bisa segera sampai di kampung inggris. Hatiku kemudian tersenyum takkala aku dan sahid melihat ada seorang lengkap dengan koper datang menghampiri kami. Dan kamipun kemudian meluncur menuju Pare.

IMG_1752
Sunrise at Pare

Jarak pare dari stasiun Kediri lumayan jauh, hampir 25 kilometer dan dapat ditempuh dengan waktu 30 menit menggunakan sepeda motor. Sebenarnya banyak angkutan umum yang bisa mengantarkanku menuju kota pare, akan tetapi aku sedang malas untuk menggunakan angkutan umum, terlebih pihak kampong inggris sudah menyediakan jasa antar jemput yang harganya lumayan pas dikantong. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa terdiam sambil melihat suasana jalanan yang sangat bersahaja. Tidak ada percakapan yang berarti antara aku dan sahid salama perjalanan. Aku justru lebih sibuk membalas beberapa pesan whatsapps yang hampir lupa aku balas. Susana perjalanan dari Kediri menuju pare sungguh unik menurutku. Hampir sepanjang jalan, terlihat hamparan kebun tebu dan jagung yang sangat luas. Mungkin, karena daerah ini dekat dengan Kota Malang, sehingga tebu dan jagung menjadi sebuah komoditi utama penghasilan daerahnya. Sepanjang perjalanan, hampir semua pengendara kendaraan nampak sangat tertib. Rambu-rambu jalan terpasang dengan jelas, traffic light pun berfungsi dengan sangat baik. Hampir semua kendaraan bermotor di kota ini lengkap. Knalpot standar, kaca spion lengkap, sampai pengendaranya pun jauh dari kata ugal-ugalan. Semua tertib dan saling memberikan kesempatan bagi pengendara lain. Sebelum motor mengarah ke kampong inggris pare, aku melihat ada sebuah monument besar, yang bentuknya menyerupai gerbang yang sangat besar. Bangunan ini mirip sekali dengan bangunan arc de triomphe yang ada di Paris. Bangunan itu terlihat megah dan sangat indah untuk dipandang. Terlihat dari kejauhan beberapa pengunjung sedang asik berfoto ria menjadikan bangunan tersebut sebagai background-nya. Namun karena memang tujuanku adalah BELAJAR, maka tempat ini untuk sementara masuk dalam wishlist traveling-ku pada saat hari libur tiba. Akhirnya aku hanya bisa melihat dari boncengan motor sambil mengabadikannya melalui kamera handphone.

IMG_1746
view from camp

Setelah kurang lebih 30 menit berkendara, akhirnya kamipun sampai dikawasan kampung inggris Pare. Gerbang besar dengan tulisan : Kampoeng BNI Inggris, Masuk Desa Tulungrejo Pare, membuatku tertegun. Tempat ini, dahulu hanya menjadi sebuah tempat yang paling anti untuk aku kunjungi. aku takut sekali untuk belajar bahasa inggris pada waktu itu. Namun, pada akhirnya aku sadar, bahwa bahasa inggris itu penting, sehingga akupun memberanikan diri untuk pergi ke kota ini. Semakin dekat dengan tempat aku belajar, semakin ramai pula orang-orang bersepeda. Kata “unik” yang hanya bisa keluar dari mulutku saat itu. Sahid mendengar ucapanku tersebut namun ia tidak berkomentar apapun. Aku kemudian dibawa ke sebuah kantor untuk melakukan registrasi kedatangannku di kampung ini.

Hai Pare 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Hai Pare !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s