GOTONG ROYONG, Azas Utama Pedesaan

Gotong royong, Azas Utama Pedesaaan

Jam masih menunjukan pukul 20.00 WIT, suasana rumah pak camat masih sepi. cuaca hari itu terasa sangat dingin. Taburan bintang di langit seakan menjadi satu-satunya penerangan yang diberikan oleh alam. Malam itu masyarakat sudah masuk ke rumah masing-masing. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat desa untuk tidak beraktifitas takkala matahari sudah terbenam. Aku melihat pak camat sedang asik duduk bersantai di halaman rumah dinasnya. Sesekali beliau menatap kearah laut yang memang menjadi pemandangan di depan halaman rumahnya. Aku terkejut ketika tiba-tiba pak camat bergegas masuk ke dalam rumah dan menyalakan radio SSB untuk berkomunikasi. Biasanya, radio desa memiliki jam kerja hanya sampai pukul 18.00 saja, radio tersebut tidak pernah beroprasi malam hari karena sudah merupakan kesepakatan bersama antar desa dan pulau pemilik radio. Ohya, radio SSB ini merupakan sarana komunikasi satu-satunya yang dimiliki oleh pulau-pulau di wilayah Maluku Barat Daya. Rupanya, dari kejauhan pak camat melihat ada sebuah kapal masuk ke perairan desa, sehingga untuk berjaga-jaga pak camat langsung mengubungi kepal tersebut melalui radio. Aku sendiri baru sadar setelah lampu-lampu kapal membesar ke arah desa.

IMG_1599
Persiapan Bangun Tenda

            “kantor camat arwala, masuk, kantor camat arwala” suara panggilan tiba-tiba masuk ke radio di rumah camat.

            “siapa panggil arwala ee ? siapa panggil arwala ?” pak camat pun menjawab panggilan tersebut.

            “panggil arwala tambah 10 ee.. panggil arwala tambah 10, tambah 10 copy”. Sambungnya.

            “oke, copy, oke copy”, jawab di radio.

            “Cek cek…. Mana panggil arwala?” terdengar kembali suara lantang dari pak camat untuk memanggil kapal tersebut.

            “lya masuk, lestari 05 cek panggil arwala.. arwala, lestari, arwala, lestari masuk..” kapalpun menjawab.

            “bagaimana lestari 05?”

            “begini ee, katong su bawa beras bulog untuk wetar timur. Bisa ka seng turung ni malam ee?”

            “ni malam ee ? sebentar, beta koordinasikan dulu ee..” jawab pak camat.

Sekejap, pak camat pun langsung bergegas keluar rumah untuk memanggil kepala urusan desa. Rumah mereka bersebalahan, sehingga tidak sulit bagi pak camat untuk memanggil dan kemudian berkordinasi dengannya. Pak camat mengistruksikan pada bapak kepala urusan untuk segera mengumpulkan semua kepala desa kecamatan wetar timur untuk segera berkumpul membahas teknis penurunan beras bantuan dari bulog yang sekarang berada di kapal lestari 05. Tidak lebih dari 30 menit, semua kepala desa sudah berkumpul di halaman depan rumah dinas camat.

            “bagaimana ini e ?” pertanyaan pun keluar dari pak camat.

            “itu kapal su siap bongkar muatan beras bulog e, bagaimana katong su siap terima ni malam ?” tambahnya.

            “katong su siap, tapi kan katong ini seng punya gundang, bahaya kal malam ni dibongkar e, nanti susah pembagiannya e” jawab salah satu kepala desa.

            “jadi gimana e ? suruh tunggu besok sa?” Tanya bapak kepala urusan.

            “baiknya tunggu besok sa, malam ni terlalu berisiko kalo katong bongkar tu barang, takut nanti su bongkar, seng ada tempat simpan, hilang sudah itu beras ee” lanjut kepala desa yang lain.

            “Coba pak camat kordinasi sama kapal, bisa kah seng dong tunggu sampe pagi?” lanjut salah satu kepala desa.

            “yasudah kal gitu eee, nanti katong radio kapal lestari, 05, katong jadwalkan besok saja e”, sambut pak camat.

Dan semua kades pun setuju dengan keputusan itu.

Hari masih terasa pagi, jam menunjukan pukul 07.00 WIT. Suasana diluar masih berangin dan sangat dingin. Matahari sudah menampakan dirinya, namun tetap masih belum bisa memancarkan cahayanya. Pagi itu langit sedang mendung. Awan gelap menutupi hampir sebagian langit desa Arwala, sehingga cahaya matahari pun tidak bisa masuk menyinari pedesaan. Lapangan samping rumah dinas sangat sepi sekali pagi itu. Belum terlihat adanya masyarakat yang berkaktifitas. Sesekali tampak anak sekolah yang berlalu-lalang lengkap dengan seragam khas putih merah dan putih biru berjalan beriringan sepanjang jalan utama desa. Aktifitas itu membuat siapapun yang ada pasti langsung terfokus padanya.

IMG_1590
Gelar Terpal

Aku yang sedang asik memikmati pemandangan tersebut tiba-tiba terkejut saat melihat segerombolan bapak-bapak desa datang membawa banyak parang. Suasana mirip sekali dengan suasana tawuran. Masing-masing dari mereka dengan gagah dan bersemangat memamerkan parangnya masing-masing. Ada juga yang mambawa cangkul, linggis dan beberapa alat tajam lainya. Lapangan yang tadinya kosong itu seketika langsung dipenuhi oleh warga. Dari belakang, remaja dan anak mudapun ikut berdatangan dan bersiap menjalankan aksinya. Tidak lama, gerombolan itupun berkumpul membentuk sebuah lingkaran dan berdiskusi. Aku tidak mengetahui apa isi dikusi tersebut, karena mereka berbicara dengan bahasa lokal mereka. Ternyata, aksi ini bukan aksi tawuran, ini adalah aksi dimana masyarakat turun lapangan untuk membantu mendirikan tenda darurat yang diperuntukan sebagai gudang sementara tempat penyimpanan beras bantuan bulog. Akupun tanpa mendapat instruksi langsung berbaur dengan mereka dan membantu mendirikan tenda yang dimaksud.

Aku kemudian menemukan keunikan dari kerja gotong royang yang dilakukan warga tersebut. Entah siapa yang menjadi leader, aku melihat setiap warga kemudian fokus pada bagiannya masing-masing. Beberapa pamuda serempak menggelar terpal di tanah lapangan, dan kemudian seorang bapak mengukurnya dengan sebatang kayu. Remaja lainnya dengan sigap membuat lubang-lubang untuk menancapkan tiang, dan yang lainnya sibuk mengukur dan memotong tiang sesuai dengan ukuran terpal yang ada. Batangan bambu hijau yang masih segar pun datang menyusul. Tanpa alat modern seperti meteran dan waterpass, masyarakat mampu membuat tenda yang tahan terhadap angin dan hujan hanya dengan menggunakan insting mereka. Cuaca dingin lambat laun mulai pergi bergantikan dengan sengatan cahaya matahari yang lumayan membakar kulit. Namun mereka tetap fokus pada pekerjaan dan tidak menghiraukan cuaca panas tersebut. Buruknya cuaca hari itu tidak membuat semangat mereka menurun. Ini terjadi saat tiba-tiba hujan besar turun, namun bukanya pergi dari lapangan, mereka malah larut dalam derasnya air hujan sambil terus mendirikan tenda.

IMG_1596
Potong dan Ukur bambu

Bambu, kayu, terpal, tali dari kulit bambu dan tiang penyangga siap dirakit dan ditanam di lubang-lubang yang sudah digali. Tanpa instruksi semua masyarakat sepertinya paham betul dengan pekerjaannya. Mereka semua kompak dan tidak ada yang saling berebut pekerjaan,. beberapa jam kemudian, datang segerombolan remaja datang dengan membawa pelepah daun kelapa. Pelapah itu kemudian dirangkai dan dijadikan dinding tenda. Hebatnya, hampir semua bahan yang mereka bawa dari hutan tidak ada yang tersisa. Semua habis terpakai tanpa ada satupun bahan yang terbuang. aku kemudian terkagum-kagum dengan perencanaan mereka. Tanpa hitungan yang pasti, bukan serta merta bahan yang mereka ambil tidak dimanfaatkan.

Banyak kegiatan di desa yang sudah jarang aku lihat dikota. Gotong royong memang sudah menjadi warisan dari nenek moyang kita terdahulu, namun rasanya konsep gotong royong yang saat ini berlaku di kota hanya gotong royong yang penuh dengan pertanyaan dan instruksi, atau bahkan banyak perencanaan sehingga tujuan yang dihasilkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Di desa, konsep gotong royong itu sangat sederhana sekali, seorang pemimpin hanya mengucapkan tenda, dan tanpa banyak berpikir dan argument tenda pun selesai dengan cepat.

IMG_1595
Rangka mulai terbangun

Aku hanya bisa berdoa, semoga konsep gotong royong yang ada di desa masih tetap bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang ada di kota. Tidak hanya gotong royong dalam membangun tenda, tapi menjadi gotong royong dalam membangun “tenda” Republik Indonesia ini.

Desa Arwala

21 agustus 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s