Green Canyon – Pengandaran

Hanya tertawa dalam hati yang bisa aku lakukan ketika kedua orang tuaku memintaku untuk menemani mereka ke Pangandaran. Pantai Pangandaran bagiku dan keluarga memang bukan pantai yang baru. Sering kali disaat ada liburan entah dari kantor atau rombongan komplek, pasti pantai pangandaran selalu menjadi pilihan pertama dan satu-satunya pantai yang dituju. Entah apa alasannya yang pasti aku pernah mengunjungi pantai ini hampir 4 kali dalam satu bulan. Aku kemudian mulai menyadari, bahwa Pangandaran merupakan satu dari beberapa pantai yang memang dari segi lokasi dan transportasi paling mudah diakses. Untuk bisa sampai kesana dari Bandung, ada banyak trayek bus ataupun elf tujuan Pangandaran yang langsung berhenti tepat di terminal Pangandaran. Tarif angkutanya pun bisa dibilang ramah di kantong, sehingga tidak heran jika pantai ini selalu ramai dikunjungi wisatawan saat hari libur tiba. Jarak dari Bandung ke Pangandaran berkisar 230 kilometer. Hanya perlu waktu maksimal 7 jam untuk bisa sampai pantai ini, itupun bila kondisi jalanan tidak padat. Apabila musim liburan, mungkin lama perjalanan bisa lebih dari itu. Pangandaran sendiri resmi memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2013. Itu berarti Pangandaran merupakan Kabupaten pemekaran baru. Kabupaten yang resmi berdiri pada tanggal 25 Oktober 2013 ini ber ibukota kan di Parigi.

DSC04940
Sungai Cukang Taneuh

Akupun pada akhirnya mengiyakan ajakan kedua orang tuaku itu. Dengan dalih bahwa sebelumnya aku pernah berjanji untuk mengantar mereka jalan-jalan. Sejujurnya aku sangat jarang sekali berpergian bersama keluarga, apalagi dalam suasana traveling. Entah mengapa aku lebih nyaman berpergian seorang diri, atau bersama dengan teman sekalian. Atas permintaanku, akhirnya kami berangkat menuju Pangandaran pada malam hari. Sudah menjadi kebiasaanku apabila menghabiskan weekend di Pangandaran, aku akan pergi pada hari jumat malam sehingga bisa sampai pada sabtu pagi disana. Pertimbanganku lagi-lagi masalah akomodasi yang lumayan tinggi harganya apabila weekend. Merekapun setuju dengan permintaanku tersebut. Akhirnya, setelah aku menyelesaikan beberapa pekerjaanku, kamipun berangkat menembus kesunyian jalanan perkotaan. Perjalanan kami diawali dengan gerimis kecil sampai ke perbatasan kota dan kabupaten. Perjalanan selanjutnya lumayan lancar dan tanpa kendala apapun. Karena memang musim liburan belum tiba, maka sisa jalanan begitu kosong sehingga laju kendaraanpun bisa melesat dengan bebas.

Kami sampai pada pagi hari, bisa dibilang masih dini hari. Penjaga pos pintu masuk terlihat sudah mengantuk. Masing–masing dari mereka memegang kopinya sambil sesekali menghembuskan kepulan asap tebal dari rokok mereka. Aku kemudian membunyikan klakson pada mereka, hanya dengan 2 kali klakson dan tersenyum, aku berhasil masuk ke wilayah Pangandaran tanpa harus membayar tiket masuk. Ini memang tindakan illegal, namun karena seringnya aku berkunjung ke pantai ini, maka beberapa pertugas pintu pos sudah banyak yang mengenalku. Terbukti pada saat siang hari aku hendak keluar wilayah pantai ada seorang penjaga yang kemudian memanggil keras namaku, akupun hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.

DSC04997
Kang Ade

Siang hari itu keluarga mengajakku untuk mengunjungi greencanyon. Aku tersentak karena aku sama sekali belum pernah mengunjungi tempat wisata itu. Berulang kali aku berkunjung ke Pangandaran dan Batukaras, namun aku selalu luput untuk mengunjungi tempat wisata yang satu ini. Keluargaku mengira bahwa aku sudah hafal betul dengan greencanyon. Namun saat aku berkata bahwa aku belum pernah mengunjunginya, kedua orang tuaku hanya tertawa sambil sedikit mengejekku. Akupun kemudian tertawa bersama dan dengan antusias kamipun bergegas menghidupkan mesin mobil dan pergi mengunjungi greencanyon.

Ternyata perjalanan menuju greencanyon tidak begitu jauh. Sebenarnya lokasi ini pasti dilalui jika kita akan menuju Batukaras. Aku selalu melaluinya setiap perjalanan menuju batukaras, namun tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk memasukinya. Mungkin karena setiap kali aku datang, pengunjung begitu ramai sehingga apabila aku masuk, aku tidak dapat menikmati keindahannya dengan maksimal. Jarak tempuh greencanyon dari Pangandaran sendiri sekitar 20 kilometer. Benar saja, kali inipun sama, suasana pengunjung di objek wisata yang memiliki nama lokal cukang taneuh itu sangat ramai sekali. Melihat suasana ini sebetulnya aku malas untuk turun dari mobil, namun lagi-lagi karena paksaan dari kedua orang tuaku, akhirnya akupun mau tidak-mau menuruti ajakannya. Setelah orangtuaku membeli tiket masuk, kami mendapat antrian nomer 202, karena nomor bergulir masih di antrian 187, maka akupun memilih bersabar untuk mendapatkan giliran menaiki perahu dengan mesin ketinting tersebut.

DSC05020
Sahiyang Tikoro

Sambil iseng, aku bertanya pada seorang kernet perahu yang kemudian dia memberitahuku bahwa ia sudah bekerja sebagai kernet selama kurang lebih 5 tahun. Ia mengenalkan diri dengan nama ade. Perwatakannya santun, dan sedikit terlihat memelas. Ia memberitahuku bahwa sehari-hari hanya mengandalkan upah dari dinas perhubungan yang mengelola wisata tersebut. Menurut penuturannya, hasil sewa perahu dibagi kepada tiga oknum. Yang pertama adalah dinas perhubungan yang mengelola, kedua adalah sang pemilik perahu, dan ketiga adalah pengemudi perahu dan kernetnya. Biasanya setiap kali ramai pengunjung, pemilik perahu mendapatkan seratus ribu rupiah dari setiap kali jalan pulang-pergi memasuki goa. Biaya sewa satu perahu paling maksimal adalah 125 ribu rupiah. Dalam satuhari, maksimal perahu ketinting tersebut bisa mendapatkan 5 sampai 6 kali balikan. Upah pengemudi dan kernet tergantung dari pemilik perahu. Ade sendiri mengatakan bahwa apabila pengunjung sangat ramai, ia bisa mengantongi uang sebesar 300-500 ribu rupiah dalam satu hari.

DSC04968
Perahu Ketinting

Akhirnya tiba juga giliranku untuk naik perahu ketinting. Kebiasaanku menggunakan perahu selama berada di Pulau Wetar membuatku tidak takut lagi menaikinya. Apalagi perahu disini cukup aman dalam hal keseimbangan, sehingga dapat dipastikan perahu tidak akan terjungkal apabila hilang keseimbangannya. Perjalanan menuju goa yang disebut sahiyang tikoro ini memakan waktu sekitar 15 menit. Dengan jarak tempuh 3 kilometer, kita akan berjalan menyusuri sungai besar dengan gelombang yang sangat kecil. Sepanjang perjalanan kita disuguhi panorama yang lumayan sangat indah. Air sungai yang hijau dengan rasa payaunya, ditambah dengan dinding-dinding karang yang terkikis oleh air sungai, sampai dengan goa yang menganga tepat diujung pemberhentian perahu. Suasananya benar-benar tidak seperti berada di jawa barat. Aku kemudian menyesal tidak mengetahui keindahan tempat wisata ini lebih awal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s