Moning, Desa Selamat Pagi di Pulau Wetar

Moning, Desa Selamat Pagi di Pulau Wetar.

“Alkisah pada jaman dahulu kala, disaat belum banyak masyarakat yang bisa mengunjungi Pulau Wetar, hiduplah salah satu suku yang dikenal dengan nama Suku Perai. Awalnya Suku Perai ini berkelompok, namun membentuk dua desa yang bersebelahan. Sampai pada suatu ketika, disaat Indonesia masih berada di bawah kekuasaan Belanda, ada seorang warga kolonial yang singgah dan menetap di Pulau Wetar ini. Entah masuk sebagai penjajah atau sebagai sahabat, yang pasti menir tersebut memiliki kecintaan yang mendalam terhadap pulau yang ia kunjungi. Sang menir sudah menganggap bahwa pulau yang ditempatinya adalah rumah kedua baginya. Maka tidak heran jika semakin lama ia berada di pulau itu, semakin akrab juga ia dengan penduduk lokal di pulau itu. Aktifitas yang dilakukannya di pulau itu tidak banyak yang diketahui masyarakat, namun satuhal yang selalu diingat oleh masyarakat lokal adalah ucapan selamat pagi dalam bahasa inggris yang selalu ia sampaikan saat menyapa masyarakat pulau. Morning, dengan logat khas belanda yang kental membuat masyarakat di desa itu mendengarnya tanpa huruf “R”. Ucapan yang terus berulang setiap pagi hari dan selama ia berada di pulau menjadikan masyarakat Suku Perai ini mengira bahwa menir tersebut memberikan sebuah nama desa bagi mereka. Mulai saat itu, para leluhur dan tetua adat sepakat bahwa desa Suku Perai ini bernama Moning”.

IMG_1492
Suasana Desa

Lucu memang asal usul terbentuknya desa ini. Dari enam desa yang berada di wilayah adminstrasi Kecamatan Wetar Timur, Pulau Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya ini, hanya Desa Moning-lah yang nama desanya kebarat-baratan. Ini kali pertamaku traveling ke sebuah tempat yang sangat jauh dan tergolong daerah tertinggal. Lokasi traveling-ku kali ini berada di sebuah pulau kecil terluar, terdepan Indonesia yang berbatasan dengan Republik Demokrasi Timor Leste. Sebenarnya, desa ini memiliki nama awal yaitu Desa Iliraramera. Iliraramera dalam bahasa Suku Perai berarti negeri darah merah. Dinamakan demikian karena konon pada saat itu daerah desa ini masih banyak dipengaruhi oleh hal gaib sebagai unsur kepercayaan masyarakat. Iliraramera merujuk pada apapun yang apabila dilukai atau disakiti pasti akan mengeluarkan darah yang berwarna merah. Dalam tradisi adat, masyarakat tidak boleh sembarangan untuk melukai (baca : memotong) tumbuhan apapun apabila tumbuhan tersebut dilindungi oleh adat. Jaman sekarang istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan sasi (larangan).

IMG_1501 (1)
Kebersamaan dan Persahabatan

Dari segi keturunan asli suku, hanya ada dua desa yang merupakan keturunan asli Suku Perai di Pulau Wetar ini. Salah satunya adalah Desa Moning. Akan tetapi, khususnya di Pulau Wetar bagian timur, ada dua Suku asli yang mendiaminya, yaitu Suku Perai dan Suku Tugun. Perbedaan suku tidak menjadikan kehidupan di pulau ini penuh dengan pertikaian. Meskipun pada awalnya hal itu terjadi, namun pada akhirnya para leluhur dari masing-masing suku telah mengikrarkan janji damai dengan sebuah ritual pengorbanan nyawa sebagai symbol persaudaraan. Sampai sekarang, ikrar perjanjian tersebut tetap diemban secara turun-temurun sehingga masyarakat desa hidup secara damai.

IMG_7384
Anak Desa

Desa Moning sendiri resmi berdiri pada tanggal 25 Januari. Namun tahun berdirinya tidak diketahui secara pasti. Biasanya pada saat hari ulang tahun desa tiba, adat dendang badendang selalu ditampilkan. Adat dendang adalah adat dimana tua muda sampai anak-anak akan bernyanyi bersama sambil saling membalas pantun. Tidak tanggung-tanggung acara ini akan berlangsung semalaman suntuk sampai pagi menjelang. Adat dendang badendang sebenarnya mirip dengan acara adat dari Ambon. Masyarakat Desa Moning sangat gemar bernyanyi dan bermain musik. Tak heran jika kemudian banyak sekali lagu yang dihasilkan dari tangan-tangan piawai masyarakatnya. Umunya, lirik lagu yang mereka ciptakan bertemakan alam dan persaudaraan. Walau banyak juga yang menceritakan tentang keindahan alam Pulau Wetar sendiri. Kegemaran mereka akan musik juga menjadikan mereka kreatif untuk dapat membuat alat musik sendiri. Dengan alat seadanya, sebatang kayu dan selembar triplex pun dapat mereka ubah menjadi sebuah gitar kecil ukulele. Aku terkesima dengan kreatifitas dibawah keterbatasan mereka.

IMG_1436 (1)
Landscape Desa

Landscape alam Desa Moning kental dengan nuansa pegunungan dan pantai. Di wilayah desa ini kita bisa melihat dengan jelas gunung kedua tertinggi yang ada di Pulau Wetar, yaitu Gunung Ilporo. Namun, masyarakat Desa Moning percaya bahwa Gunung Ilporo adalah gunung tertinggi yang ada di pulau mereka, bahkan tertinggi di dunia. Aku hanya bisa tersenyum saat seorang tetua adat dengan serius berkata demikian padaku. Kurangnya pendidikan dan pengetahuan masih menjadi faktor utama ketertinggalan desa kecil di timur Pulau Wetar ini. Aku berharap, dimasa yang akan datang desa ini akan menjelma menjadi desa yang lebih maju dan bersinar seperti halnya pagi hari. “Good Moning”.

Advertisements

3 thoughts on “Moning, Desa Selamat Pagi di Pulau Wetar

    1. woow, akhirnya ada saudara dari moning membaca blog beta.. terima kasih sudah membacannya..

      jika boleh tau, bagaimana kabar terbaru desa moning ? terutama desa di wetar timur ? arwala ? kahilin ? tomliapat dan ilway ?

      senang sekali bisa berkomunikasi dengan teman dari wetar timur.. kalwedoo..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s