Pasar Tradisional

Pasar tradisional

Ayo, siapa yang belum pernah masuk pasar tradisional? Aku kira, hampir sebagian orang di Indonesia pernah masuk ke sebuah tempat yang namanya pasar tradisional. Aku sendiri, saat masih mengelola sebuah kantin di Bandung, hampir setiap pagi harus mengunjungi pasar tradisional. Tujuannya jelas, karena aku harus berbelanja bahan-bahan kebutuhan kantin tersebut. kebiasaanku ini pada ujungnya membuatku selalu penasaran untuk masuk ke sebuah pasar tradisional dimanapun aku berada.

Aku sempat merasa kangen pada sebuah tempat yang namanya pasar tradisional pada saat aku menjalankan tugasku di sebuah desa terpencil di Indonesia. Di desa dampinganku, belum ada yang namanya pasar. Kegiatan jual beli di desaku hanya sebatas warung kecil dan itupun sangat terbatas barang dagangannya. Aku menyukai pasar tradisional karena keunikan dan juga aktifitas masyarakatnya. Hampir setiap pasar yang pernah aku datangi memberikan kesan keunikan yang berbeda.

IMG_1355
suasana pasar cakke – enrekang – south sulawesi

Sebanarnya menurutku pribadi banyak sekali manfaat apabila kita berbelanja ataupun sekedar main di pasar tradisional. Aku sendiri sebisa mungkin selalu mengunjungi pasar tradisional pada saat melakukan perjalanan kemanapun. Bukan tanpa alasan, biasanya di pasar tradisional aku banyak menemukan hal unik yang tidak aku temukan di tempat lain. Ramainya suasanya tawar-manawar harga selalu memberikan nuansa yang menakjubkan. Belum lagi suasana ramainya orang yang berdagang membuat mataku tidak berhenti untuk mengamati kegiatannya.

Keuntungan berbelanja di pasar tradisional menurutku sangat banyak. Pertama, secara tidak langsung kita ikut mensejahterakan petani ataupun pedangan yang ada di sana. Kedua, kita bisa berinteraksi langsung dengan pedangang mengenai barang dagangannya apakah masih segar atau tidak. Ketiga, secara tidak langsung kita akan mendapatkan kenalan baru, dan apabila sudah sering berbelanja otomastis potongan harga selalu mengintai. Keempat, jika beruntung bonus tambahan belanja akan diberikan secara cuma-cuma oleh sang pedagang.

IMG_1351
Jamur Hutan

Umumnya, pasar tradisional memang tampak kotor. Jalanan yang becek, tempat kios yang berantakan, sampai dengan udara yang bau karena sampah selalu menjadi hal yang menakutkan bagi beberapa orang yang alergi terhadap tempat kotor. Aku menemukan pengalaman unik ketika aku mengunjungi sebuah pasar di Pulau Moa. Aku baru sadar bahwa ternyata hampir sebagian pedagang disana adalah penumpang kapal sabuk atau kapal perintis yang selalu aku gunakan untuk masuk dan keluar dari pulau dampinganku. Awalnya aku tidak mengenal pedagang tersebut, namun karena saat itu aku kebetulan singgah di kiosnya, secara otomatis si empunya kios langsung mananyakan kabarku, dan dimana tempat tinggalku selama di pulau moa tersebut. Aku sontak kaget karena si empunya kios itu seakan telah lama mengenalku. Aku sendiri sejujurnya lupa jika aku pernah bertemu dengannya di kapal. Aku baru sadar ketika sang empunya itu mengatakan bahwa ia sering satu kapal denganku, bahkan pernah suatu waktu dia tidur tepat di sebelahku. Aku sendiri kemudian langsung meminta maaf karena aku lupa pernah mengenalnya. Aku bukannya tidak ingat, namun selama tugas pendampingan ini, hampir setiap hari aku selalu bertemu dengan orang baru. Maka tidak heran jika pada akhirnya aku tidak begitu mengenal sang empunya kios, karena pertemuan kita hanya sekilas. Dan akhirnya aku menjadi pelanggan tetap sang empunya kios tersebut, dan tentu setiap kali berbelanja, aku mendapatkan keuntungan ketiga dan keempat tersebut.

IMG_1356
Danke

Aku kemudian merasakan nuansa yang berbeda saat aku mengunjungi sebuah pasar di daerah enrekang, toraja. Hiruk pikuk aktivitasnya memang tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional pada umumnya. Namun aneka jajanan dan barang dagangan yang dijual para pedagangnya sangat unik memurutku. Aku kemudian mencoba sebuah makanan khas yang dinamakan danke. Dalam bahasa belanda, danke artinya terima kasih. Akan tetapi, dalam bahasa lokal enrekang – Sulawesi selatan, danke adalah sebuah makanan yang terbuat dari susu sapi yang di fermentasi secara alami. Mirip keju, namun danke lebih sedikit anyir. Ibu pedagang danke kemudian meyakinkanku bahwa rasa danke tersebut mirip sekali dengan keju. Bisa dimasak dengan campuran sayuran lain, ataupun langsung dimakan begitu saja. Karena rasa penasaran, akhirnya aku membelinya, dan langsung aku makan di tempat. Di pasar tradisional, kita bisa mendapatkan informasi mengenai cara memasak apapun dari seseorang yang bahkan belum pernah kita jumpai. Itu terbukti saat aku bertanya sebuah jenis tanaman yang baru pertama aku lihat. Aku melihat ada sejenis sayuran yang berantakan penempatannya dalam sebuah ember. Saat bertanya pada penjualnya, ia memberitahuku bahwa itu adalah jamur. Dibelakangku kemudian ada seorang ibu yang tiba-tiba berteriak memberitahuku bahwa jamur tersebut lebih enak ditumis daripada digoreng. Beliaupun menambahkan instruksi untuk menambah bahan sayuran lain sebagai pelengkap seperti kol, brokoli, ataupun wortel, dan juga menyarankanku untuk menambah potongan ayam atau baso dan sedikit perasan lemon. dalam hati aku pun berkata : “lumayan dapat ilmu baru”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s