Kehidupan dalam moda transportasi Indonesia

Uniknya kehidupan dalam moda transportasi di daerah Indonesia.

Dalam melakukan perjalan kemanapun, aku selalu berusaha untuk menggunakan moda transportasi yang terjangkau. Bukan tanpa sebab mengapa aku memilih moda transportasi yang terjangkau. Ini semata-mata karena selain hemat (baca : ngirit),

IMG_0649
semarak interior angkot di kupang

biasanya dengan menggunakan moda trasnportasi yang murah meriah, aku mendapatkan satu kelabihan yaitu bisa melihat langsung denyut kehidupan masyarakat lokal dengan jelas. Biasanya, moda trasnportasi yang paling murah masuk dalam katagori kelas ekonomi. Aku tidak pernah merasa malu untuk menggunkan kelas ini, justru dengan menggunakan kelas ini, aku memilki lebih banyak kesempatan untuk bisa mengenal siapa aku dan kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Aku melihat bahwa menggunakan kelas ini, tidak ada kepalsuan yang diperlihatkan oleh para pengunanya.

Misakan saja ketika suatu hari aku menaiki sebuah angkot di kota kupang. Setiap angkot di kota kupang memiliki keunikannya tersendiri. Keunikan angkot di Kupang hampir sama dengan angkot yang ada di Pandeglang Banten. Umumnya jenis mobil yang digunakan hampir sama dengan yang lainnya. Perbedaannya terdapat pada seberapa besar bunyi sound system yang digunakan. Selain sound system, lampu hias warna-warni dan juga interior yang dibuat semodern mungkin yang ternyata berpengaruh terhadap jumlah penumpang, terutama penumpang ABG yang naik ke dalam angkot tersebut.

Suatu hari aku pernah iseng bertanya kepada sang empunya angkot, mengapa angkotnya dibuat seperti sebuah PUB berjalan. Aku sontak kaget takkala sang empunya menjawab bahwa seringkali beliau mendapatkan pacar hanya karena angkotnya lebih keren dan lebih gaul dari angkot lainnya. Aku kemudian tertawa setelah mendengar jawabannya itu. kemudian beliau melanjukan, sudah banyak wanita-wanita yang berhasil dia pacari hasil dari angkotnya yang sangat modis. Bahkan beliau berkata, meskipun muka saya pas-pasan, namun saya berani diadu ke “playboy”an dengan bermodalkan angkotnya yang nyentrik. Hal Berbeda aku temukan ketika aku mencoba sebuah angkot yang berada di kota depok ataupun kota kelahiranku sendiri, Bandung. Di depok atau di Bandung, angkot tidak banyak yang di modif sedemikian rupa karena memang modif yang berlebihan seakan hanya menghabiskan banyak uang saja. Angkot ya angkot, berfungsi untuk mengangkut dan mengantarkan penumpang sesuai dengan tujuannya. Bahkan apabila menemukan angkot yang sudah dimodif biasanya penumpang menjadi terganggu karena bunyi musik yang terlalu keras dan dirasa sangat menganggu penumpang yang ingin mendapatkan ketenangan di dalam angkot tersebut. baik di depok ataupun di bandung, tidak ada kaitannya angkot yang full modif dengan banyaknya wanita yang lantas menggunakan jasanya.

DCIM100MEDIA
Angkot di Kota Kupang

Selanjutnya, aku pernah menggunakan mode transportasi laut berupa kapal cepat, ferry, dan juga kapal perintis. Meskipun kelas di kapal cepat terbagi menjadi beberapa katagori, namun tetap saja kelas ekonomi selalu menjadi pilihan utamaku. Kelas ekonomi di kapal cepat berbeda dengan kelas ekonomi di kapal ferry ataupun kelas ekonomi di kapal perintis. Di kapal cepat, denyut kehidupan kelas ekonominya terbilang biasa saja, tidak ada yang menarik bahkan tidak ada yang membuat saya tercenang. Rata-rata para penumpang hanya terdiam ditempat duduknya masing-masing. Kalaupun ada yang beraktifitas mungkin itu hanya teman satu rombongannya saja. Antar penumpangnya terkesan sinis dan selalu awas dengan barang bawaan yang dibawanya. Begitupun dengan kelas ekonomi kapal ferry. Bedanya, di kelas ekonomi ferry, antar penumpang selalu ada yang pada akhirnya bertegur sapa dan bercengkrama satu-sama lain. Selain itu biasanya masing-masing dari mereka selalu mengingatkan bahkan sampai saling menjaga barang bawaan sesama penumpang. Tapi meskipun begitu, aku selalu saja berhati-hati karena tidak semua kelas ekonomi di kapal ferry memiliki tingkat kenyamanan dan keamanan yang sama. Kapal ferry pada penyebrangan merak-bakauheni atau katapang-gilimanuk misalnya, rasa waspada harus selalu menjadi faktor utama, karena di pelabuhan ini pencurian sudah marak terjadi. Dalam hati, penilaianku terhadap kota besar malah menjadi terkesan negatif. Pikiranku seakan mengajakku untuk menarik kesimpulan, bahwa semakin majunya sebuah daerah atau kota, maka tingkat kriminalitas akan semakin meningkat. Entah hasil kesimpulan dari mana datanya, yang pasti pemikiranku berkesimpulan demikian.

IMG_0947
suasana di dalam kapal perintis

Sekarang, aku coba memberikan keunikan tranportasi udara. Disini aku hanya mencoba menilai beberapa maskapai penerbangan dengan kelas ekonomi yang pernah aku gunakan. Dalam pesawat, semurah-murahnya tiket ekonomi tetap saja aktivitas para penumpangnya tidak seramai angkot ataupun kapal perintis dengan kelas ekonomi. Para penumpangnya lebih larut dalam kesibukannya masing-masing dengan sedikit canda gurau sesamanya. Biasanya para penumpang pesawat hanya akan bertegur sapa dengan penumpang asing apabila memang akan pergi ke toilet. Itu pun apabila kursi penumpang tersebut berada di windows seat dan atau terhalang oleh penumpang disisi lainnya. Denyut kehidupan di dalam kabin pesawat kurang begitu menarik buatku. Mungkin hal ini ada kaitannya juga dengan waktu perjalanan setiap moda transportasi. Moda trasportasi pesawat pada umumnya tidak selama transportasi darat ataupun laut. Bayangkan saja, perjalanan dari Jakarta ke bali bisa di tempuh dengan waktu hanya 2 jam kurang. Sangat wajar jika kemudian aktifitas penumpang di pesawat tidak seperti penumpang di laut ataupun di darat.

IMG_1117
muatan di kapal perintis

Jaman dulu, saat kereta api masih menyediakan kelas ekonomi yang sangat murah, hiruk pikuk kehidupan di dalam gerbongnya sangatlah tidak beraturan. Murahnya tiket sangat berbanding lurus dengan fasilitas yang didapat saat itu. Ada dua kelas tiket ekonomi yang berlaku. Satu kelas ekonomi dengan seat, dan satunya lagi tanpa seat. Hasilnya, gerbong kereta yang seharusnya diperuntukan hanya untuk 200 penumpang bisa membludak sampai lebih dari 200 penumpang. Banyak penumpang yang kemudian tertidur dilorong-lorong jalan sehingga menyulitkan siapa saja yang ingin berjalan. Atau bahkan aku pernah melihat penumpang tidur di dalam toilet yang baunya sudah tidak lagi bisa ditolerir oleh indra penciuman manusia. Hewan ternak seperti ayam dan kambing pun ikut masuk ke gerbong kereta kelas okonomi. Kipas angin yang diperuntukan sebagai pendingin ruangan sama sekali tidak ada yang berfungsi. Menaiki kereta kelas ekonomi saat jamam itu benar-benar perlu kesabaran dan perjuangan extra. Aku pernah tidak mendapatkan tempat duduk saat perjalanan ke Yogjakarta. Tapi beruntung, aku memenukan seorang bapak yang baik hati yang akhirnya memberiku ruang untuk duduk, walau cuma 1 jam sebelum kereta tiba di stasiun yogjakarta. Tapi kini, PT.KAI telah merubah semua wajah kereta api, tidak ada lagi kelas ekonomi yang sangat tidak menusiawi, semua telah berganti dengan manajemen yang lebih modern. Semua gerbong dipasangi AC. Bahkan semua penumpang kelas ekonomi mendapatkan jatah tempat duduk sehingga tidak ada lagi yang berdiri atau bahkan tidur di lorong-lorong gerbong. Terkadang aku menjadi kangen untuk menaiki kereta api yang sangat tidak manusiawi tersebut. karena dibalik penuh sesaknya sebuah gerbong aku masih bisa menemukan penumpang-penumpang baik hati yang mau memberikan sedikit rejekinya pada yang membutuhkan. Di kereta api sekarang, jangankan pengemis, penjual makanan asongan saja hanya ada di stasiun-stasiun tertentu yang memang mandapatkan izin dari pihak stasiun dan PT.KAI tentunya.

IMG_1001
suasana di dalam pesawat

Aku hanya bisa melihat dan mengamati setiap kali aku berpergian kesuatu daerah. Menyaksikan langsung denyut kehidupan yang beragam memberikan sebuah pelajaran yang sangat berharga bagiku. Dalam perjalanan, kemudian aku sadar akan kekayaan yang dimiliki oleh negeri yang sangat indah ini. Aku bersyukur karena diberi kesempatan untuk bisa merasakan langsung bagaimana keadaan sebenarnya didalam moda trasnportasi tersebut. dan aku akan terus berjalan untuk melihat lebih dekat semua pesona keindahan itu.

Advertisements

2 thoughts on “Kehidupan dalam moda transportasi Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s