Sulitnya Pendidikan di Desa Terpencil

Pendidikan di desa terpencil

Dalam setiap obrolan dengan beberapa teman di kota, hampir semua bertanya padaku bagaimana dengan sistem pendidikan yang ada di daerah terpencil? Bagaimana tingkat pengetahuan meraka dengan barang-barang bantuan itu yang notabennya adalah barang-barang dengan teknologi yang sangat canggih, dan bagaimana cara mereka menerimaku untuk menjadi bagian dari mereka. Memang aku sendiri menilai hal ini sangat miris dan aku kasihan setiap kali membahas masalah pendidikan yang ada di pulau tertinggal khususnya di desa dampinganku. Egoku kadang berkata, kenapa mereka para guru atau tenaga pendidik yang sudah punya SK di desaku tidak pernah ada bahkan tidak pernah sampai ke lokasi? Aku juga terkadang marah dan memaki mereka-meraka yang sudah mendapatkan tugas namun tidak mau untuk terjun langsung ke lokasi. Bahkan, suatu saat aku sendiri pernah menanyakan perihal tersebut kepada seorang kepala sekolah yang pada akhirnya mengabdi di desa tetanggaku.

Membahas masalah pendidikan di desa terpencil, khususnya di desa dampinganku memang sedikit memprihatinkan. Banyangkan, untuk sampai ke lokasi kerja tidaklah mudah. Perjalanan darat melintasi hutan, kebun, bukit terjal, bahkan dinding tebing harus dilalui dengan susah payah. Tidak ada sarana angkut lain selain kedua kaki yang masih utuh. Sepanjang perjalanan, hewan berbisa selalu mengintai apabila kita tidak awas. Bila tidak hafal betul jalurnya, kemungkinan nyasar sangat besar. jalanan setapak bukan lagi tanah yang padat, melainkan terkadang harus berjalan diatas tajamnya batukarang. Listrik dan komunikasi jelas masih belum tersedia di desa dampinganku. Apabila akan memanfaatkan jalur laut, maka kapal jolorlah satu-satunya perahu yang bisa mengantar ke desa dampinganku. Tantangan jalur inipun dirasa sangat butuh keberanian, karena gelombang laut dan arus laut terkadang tidaj bisa terkontrol kedatanganya. Jalur ini benar-benar tergantung pada musim. Bila musim sedang tidak bagus, maka nyawa adalah taruhannya.

IMG_1165
sarana transportasi menuju pulau

Bukan masalah tidak taatnya pada SK untuk tidak tugas di lokasi dampinganku. Beberapa guru yang pernah ditugaskan di desa dampinganku memilih untuk tidak melanjutkan bertugas kerena ketidak-pastian yang sangat tinggi.

Ketidak-pastian itu menyangkut beberapa hal. Pertama adalah ketidak pastian akan transportasi darat dan laut bahkan udara. Untuk masuk dan keluar dari pulau, satu-satunya transportasi adalah kapal perintis yang hanya berlayar setiap 2 minggu satu kali ke pulau. Itupun apabila cuaca bagus dan gelombang laut masih bersahabat. Apabila cuaca sudah buruk, jangan harap akan ada kapal yang singgah di pulau tersebut.

kedua adalah ketidak-pastian akan komunikasi. Suatu hari team survey dari kementrian pernah datang untuk melakukan survey pembangunan sarana komunikasi bagi penduduk pulau. Namun survey hanyalah survey yang pada kenyataannya sampai saat tulisan iniku rawi, sarana komunikasi tersebut masih belum juga terpasang. Apabila dihitung, maka menurut camat, sudah hampir mau 9 tahun survey tersebut hanya sebatas survey. Sulitnya komunikasi ini berimbas pada seberapa kuat para guru itu bertahan dipulau. Hampir semua guru rata-rata memiliki keluarga yang mungkin tidak siap untuk tidak mendapatkan komunikasi selama berbulan-bulan.

IMG_1487
Fasilitas Pendidikan di Desa

Ketidak-pastian ketiga adalah sistem pembayaran honor pagawai. Sesuai dengan penjabaran kepala sekolah yang aku temui, pembayaran honor dilakukan setiap 3 bulan satukali. Dan itupun pegawai harus mengambilnya sendiri ke kota kabupaten yang jaraknya hampir 3 hari menggunakan kapal perintis. Belum tersedianya system pembayaran elektronik membuat para tenaga guru tersebut kesulitan untuk bertahan hidup di desaku. Harga kebutuhan pokok di desaku bisa dibilang 400% lebih mahal dari harga yang beredar di kota besar. mahalnya harga kebutuhan pokok tersebut menjadikan para tenaga pendidik memilih untuk kemudian kembali ke kota asalnya.

Ketidak-pastian keempat adalah sarana dan prasarana pendidikan itu sendiri. Memang bangunan megah berupa ruangan sekolah bantuan dari PNPM mandiri sudah banyak berdiri kokoh hampir disemua desa, bahkan beberapa diantaranya sudah ada yang hampir rubuh kembali. Pembangunan sarana tersebut tidak diimbangi dengan sarana pendukung lainya seperti papan tulis, meja, kursi, dan juga buku-buku yang masih layak kurikulumnya. Bangunan itu hanya dibangun begitu saja, dan dibiarkan kosong tanpa perabotan. Hasilnya, bangunan-bangunan itu hanya menjadi hiasan tanah lapang yang lambat laun habis dimakan rayap.

Ketidak-pastian kelima adalah fasilitas tempat tinggal bagi para guru. Didesaku, jangankan rumah kontrakan. Rumah pribadi saja bisa dibilang jauh dari kata layak. Tidak adanya sanitasi yang baik, venitilasi yang buruk, juga dinding yang rapuh karena dimakan rayap lebih banyak berdiri. Sulitnya air dinilai menjadi faktor utama mengapa sanitasi di desaku begitu buruk. Sulitnya mendapatkan air menjadi hambatan dan kendala bagi siapa saja pendatang yang bertugas di desaku ini.

IMG_1890
Fasilitas Gedung Sekolah Yang Terbengkalai

Masih banyak sebenarnya ketidak-pastian yang ada di desa dampinganku. Sampai suatu waktu aku sempat mendengar sebuah istilah yang berbunyi : “Hanya PNS-PNS “nakal” yang dilempar ke Pulau Wetar”. “Nakal” disini diartikan bahwa meraka yang punya kasus berat dan kemudian menerima SK penempatan di Pulau Wetar. Dalam bahasa kasarnya mungkin lebih ke mereka yang dibuang dan diasingkan karena kinerja mereka tidak baik.

Tapi sekarang, aku rasa sudah bukan saatnya lagi menghindar dari lokasi-lokasi yang memang terpencil dan bahkan tertinggal. Meraka yang berada di lokasi-lokasi itu sudah sepantasnya menerima uluran tangan kita. Sudah saatnya penantian panjang mereka untuk bisa hidup lebih baik, lebih merdeka, dan lebih layak kita kabulkan bersama. Harapan mereka sebenarnya tidak banyak. Meraka hanya mengharapkan kita peduli dan membuka mata karena mereka masih satu : INDONESIA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s