Aturan desa, pentingkah ???

Pertanyaan diatas tiba-tiba saja muncul dikepala takkala aku terbangun dari nikmatnya tidur siang. Aku terbangun karena bunyi speaker yang meledak siang hari itu. Tepat pukul 14.00 suara nyaring speaker cempreng itu kontan membangunkan siapun masyarakat desa yang sedang menikmati istirahat tidur siang. Bunyi cempreng speaker itu tidak sendirian, karena disaat yang bersamaan gaungan mesin genset diesel pun berbunyi. Yah, di Desa Kahilin ini masih belum ada jaringan listrik, sehingga kebutuhan akan listrik dipasok oleh mesin-mesin genset yang umurnya sudah tidak muda lagi.

 

serius menyaksikan
 
Aku pernah berdiskusi mengenai aturan desa ini. Disaat siang menjelang sore, aku pernah bertanya pada seorang kepala desa mengenai sebuah aturan yang ada di desa. Bukanya menjawab, kepala desa ini malah menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan yang menandakan bahwa ia tidak tahu akan aturan desa tersebut. Aku langsung terkejut dibuatnya. Bukan tanpa alasan, desa yang menurut aku relatif kecil ini sama sekali tidak mempunyai aturan antar masyarakatnya. Aku saat itu menanyakan usia desa ini berdiri, dengan sontak akupun terkejut kembali saat kepala desa berkata bahwa desa ini berdiri atau sudah ada saat jaman penjajahan belanda dulu. Tidak diketahui tahun pastinya, namun yang pasti dahulu desa ini adalah desa adat yang didirikan pada waktu jaman perang suku sering terjadi di Indonesia. Menurut kepala desa sendiri, untuk membuat sebuah aturan di desa ini tidaklah gampang. Minimnya pengetahuan selalu menjadi alasan kepala desa ini untuk menjawab setiap pertanyaan yang aku ajukan.

Selang beberapa hari. Obrolan tentang aturan desa ini lenyap dari permukaan desa. Namun, beberapa hari terakhir, aku menerima keluhan dari beberapa warga yang mengeluhkan tentang kebisingan yang selalu dibuat oleh bunyi speaker cempreng hampir disetiap siang ataupun menjelang malam hari. Di desa ini, nada tinggi volume speaker seakan menjadi pembuktian status sosial masyarakat desa. Semakin keras bunyi volumenya, makin bangga dan dipuji seantero masyarakat. Namun, lama kelamaan aku pun merasa terganggu dengan kondisi seperti ini. Tidur tidak menjadi nikmat, karena selalu terganggu dengan bunyi speaker dan generator yang saling berpacu, belum lagi tidak hanya satu warga saja yang membunyikan speaker keras itu, melainkan ada hampir 3 rumah dengan lagu yang berbeda, sehingga lebih mirip suasana pasar malam daripada suasana desa yang sepi dan damai.

 

hidup dengan babi
 
Taklama, obrolan mengenai aturan desa pun kembali menjadi perbincangan aku dengan beberapa orang masyarakat yang merasa mulai terganggu dengan bunyi speaker tersebut. Namun beliau menilai bahwa mengapa aturan desa tidak bisa dibuat dikarenakan pejabat desa yang ada sekarang merupakan salah satu keluarga dimana keturunannya paling mandominasi jumlah penduduk di desa ini. Dan lagi, orang-orang yang terbiasa menyalakan polusi suara tersebut adalah masih keturuan dari keluarga sang kepala desa. Disamping itu, seorang tokoh masyarakat pun berpendapat kepada aku bahwa bapak kepala desa sama sekali tidak memiliki wibawa di depan masyarakatnya. Keputusan-keputusan yang dibuat lebih banyak menyengsarakan masyarakat sehingga banyak masyarakat yang tidak peduli kepada kepala desanya. Sifatnya yang kalem dan berbicara pelan seperti berbisik seakan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri karena pada akhirnya banyak masyarakat yang tidak percaya bahkan tidak menanggapi omongan kepala desa tersebut.

Rasanya, semakin banyak saja masyarakat di desa ini yang mencurahkan keresahannya terhadap ganguan-gangguan yang ada di desa mereka. Entah soal speaker rebek yang menggelegar, atau mengenai gotoong royong masyarakat yang kian hari semakin tidak pernah dilaksanakan. Menurut mereka, perlu adanya semacam penggerak yang tegas yang bisa membuat masyatakat takut sehingga tugas kerja gotong royong dapat terlaksana. Bahkan, mereka sampai menyuruh aku untuk mendatangkan seorang babinsa yang bisa menegakan aturan di desa mereka.
Aku tidak ambil pusing dalam hal ini. Mencoba menerima dan beradaptasi baik dengan bunyi speaker cempreng dan raungan generator merupakan suatu keharusan bagi aku. Bukan tanpa alasan, dimanapun aku hidup, kemampuan beradaptasi dan bergaul dengan masyarakat apalagi di pedesaan adalah hal mutlak yang harus aku jalani. Menuntut adanya aturan desa bukan menjadi kapasitas aku selama berada di desa ini. Aku hanya bisa memberikan saran dan masukan terutama menyangkut kemajuan dan kemandirian desa kecil ini. Bagaimanapun peran peminpin desa dan masyarakatlah yang harus berunding secara formal dan duduk bersama untuk menyelesaikan permasalahan kebisingan melalui aturan desa.

Bagi siapapun yang tertarik untuk berdiskusi mengenai masalah aturan desa, aku tunggu komentarnya. Pertanyaan sederhana : Apa perlu sebuah desa kecil memiliki aturan di dalamnya? Mengapa alasannya?

Suasana Bising Desa Kahilin – 13 November 2015

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s