Nikmatnya rumput tetangga

Entah bagaimana mulanya, perbincangan aku dengan salah seorang guru SM3T asal Jawa Timur sampai pada topik membandingkan. Sore itu, karena memang cuaca sangat panas, aku merebahkan diri disebuah bale-bale bambu depan rumah dinas camat. Kebetulan beberapa hari ini bapak camat beserta keluarga sedang keluar pulau, sehingga rumah dinas tersebut kemudian aku pakai. Karena aku hanya seorang diri mendiami rumah dinas tersebut, otomatis rumah tersebut sudah berasa rumah pribadi saja. Bertelanjang dada selama berada di rumah menjadi kebiasaan baru aku selama berada di pulau ini.

Sedang asik mencari angin di bale-bale tersebut, datang seorang teman SM3T yang memang sudah aku kenal sekitar kurang lebih 4 bulan ke belakang. Sebut saja beliau bapak ari. Bapak ari berasal dari jawa timur. Dari logat bicaranya saja, aku sudah mengenal betul bahwa beliau pasti berasal dari jawa juga. Perbincangan kami awalnya hanya seputar kegiatan. Baik itu kegiatan aku di Desa Kahilin, ataupun kegiatan beliau di Desa Arwala. Aku juga taklupa untuk menanyakan kabar beliau dan juga aktivitas beliau di Kisar karena memang tempo hari beliau pernah curhat pada aku bahwa jika libur sekolah sudah datang, maka ia akan pergi ke kisar untuk mencari sinyal komunikasi dan bertukar kabar dengan keluarganya di jawa. Hari itu bapak ari nampak ceria karena memang beliau baru saja pulang dari kisar dengan menggunakan kapal cepat. 
 

ilustrasi rumput tetangga

Berbicara soal wetar memang tidak akan pernah ada habisnya. Mulai dari sumber daya manusianya, sampai dengan sumber daya alam yang melimpah ruah. Pembahasan mengenai topik itu kadang selalu berulang, namun tidak pernah ada kata bosan untuk membahasanya, karena masing-masing dari kami pasti memiliki cerita yang baru apabila sudah kembali dari desa masing-masing. Cerita bagaimana malasnya manusia wetar, sampai bagaimana perilaku manusia wetar saat menerima bantuan sering kami bahas walau setiap harinya pasti berbeda kejadian. Tapi cerita-cerita itu selalu menberikan pemahaman baru dan juga pengetahuan baru bagi kami.

Kemudian, tibalah saatnya pak ari kemudian membandingkan daerah lokasi kerjanya dengan lokasi tugas teman-teman SM3T lainnya. Perbandingan Papua dengan MBD (Maluku Barat Daya) dirasa MBD masih menang dalam hal tingkat kesulitan. Aku mengiyakan pendapatnya tersebut. Walaupun aku belum pernah sampai ke Papua, namun beberapa teman seperjuangan aku yang ditugaskan di daerah Papua masih tetap mendapatkan akses yang manusiawi dibandingkan dengan apa yang aku dapatkan di MBD. Pak ari pun bercerita, bahwa temannya yang berada di pedalaman papua masih bisa eksis dalam dunia media sosial, namun dirinya, jangankan aktif media sosial untuk sekedar sms saja sama sekali tidak bisa. Dan alasan itulah mengapa pada akhirnya pak ari dinilai terlalu sombong oleh teman-temannya karena memang jarang sekali bertukar kabar dengan mereka. Aku kemudian tersenyum mendengar cerita pak ari ini.

 

kesulitan merupakan tantangan tersendiri

Meskipun pak ari mendapatkan tugas selama satu tahun dan aku hanya 6 bulan, namun bukan berarti tingkat kesulitan yang dialami oleh aku lebih kecil dari apa yang harus dirasakan oleh pak ari. Misalkan saja dari segi lokasi. Desa aku, yaitu Desa Kahilin bisa dibilang salah satu desa dengan akses yang sangat sulit di wetar timur ini. Posisi desa yang ada di atas tanjung membuat siapa saja yang datang harus menaiki sekitar 160 anak tangga yang curam untuk sampai ke mulut kampung. Belum lagi dermaga. Tidak banyak kapal speed atau jolor yang mampu singgah di pantai kahilin. Bukan tanpa alasan, pertama karena pantai tersebut merupakan pantai berbatu besar, dan yang kedua adalah gelombang dan arus yang tidak pernah tenang. Salah sedikit melempar jangkar, kapal bisa langsung menabrak batu karang dan hancur. Kondisi desapun diperparah dengan sulitnya air bersih. Listrik dan komunikasi sudah tidak perlu ditanyakan lagi karena memang belum ada sama sekali. Ditambah, aku hanya ditugaskan seorang diri untuk berada di desa tersebut. Sedangkan Desa Arwala, tempat bapak ari tugas bisa dibilang sedikit lebih maju dan lebih nyaman. Ini karena Desa Arwala merupaka pusat kecamatan Wetar Timur yang berarti akses masuk desa lebih nyaman. Meskipun tidak punya pelabuhan, namun pantainya yang merupakan pantai berpasir putih tidak akan menyebabkan kapal hancur pada saat berlabuh dibibir pantainya. Air bersih mengalir 24 jam melalui jalur-jalur pipa yang berada tepat di depan rumah. Setiap malam, mesin genset selalu menyala untuk penerangan dan menonton tv atau pun menyalakan hiburan walaupun genset-genset tersbut milik pribadi. Meskipun komunikasi telekomunikasi belum masuk, namun setidaknya beliau bertugas dengan 2 orang teman sehingga apabila mengalami kebosanan, masih ada teman yang bisa diajak bersandagurau.

 

dermaga desa kahilin

Yah, apapun kondisinya, aku harus mensyukurinya. Menjalakanpekerjaan dengan penuh rasa tanggung jawab serta berdedikasi penuh untuk pekerjaan dirasa mampu membuat aku mampu beradaptasi dengan segala kondisi yang ada. Bukankah selalu ada pepatah : Rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput kita?

Rumah dinas camat wetar timur – 14 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s