Tiakur, City Of Center Goverment Maluku Barat Daya

Malam itu, tepat jam 10.00 Waktu Indonesia Bagian Timur, kapal sabuk nusantara 43 bertolak dari tempat perhentiannya di tangah laut Pulau Liran. Kapal Motor tersebut akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Ambon. Bunyi klakson kapal selama 3 kali menandakan bahwa kapal siap berjalan mengarungi dalamnya perairan di timur Indonesia. Saat itu kapal sabuk nusantara sangat penuh sesak dengan barang bawaan penumpang. Seperti biasa, beratus-ratus karton mie instant dan berkarung-karung beras tersimpan berantakan disepanjang lorong kapal. Lorong menjadi sangat sempit dan hanya cukup untuk satu orang berjalan saja. Sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa apabila akan menjelang musim barat, dimana angin dan gelombang laut akan sangat ganas sehingga akan banyak pulau-pulau di sekitar Maluku Barat Daya ini yang akan terisolasi dari dunia luar. Maklum, gelombang tinggi membuat lautan menjadi super ganas, sehingga tidak banyak perahu ataupun kapal motor yang berani menyebrangi lautan tersebut. Imbasnya, para pedagang akan memenuhi kebutuhan dagangan mereka selama 3 sampai 4 bulan mendatang. Laju kapal dirasa sangat lambat malam itu. Waktupun berjalan sangat lambat. Suhu di dalam deck kapal meyerupai suhu ruang sauna yang sangat panas dan membuatnya tidak nyaman untuk beristirahat. Selain karena barang bagasi yang penuh sesak, ditambah lagi dengan cuaca yang sedang masuk pada puncak musim panas. Tidak ada sedikit anginpun di lautan, angin hanya bertiup pada saat kapal sedang berjalan saja, sehingga tidak heran apabila deck bagian ataspun penuh dengan penumpang yang beristirahat.
Perjalanan dari Pulau Liran menuju Pulau Moa berlangsung selama 3 hari 2 malam. Banyak pos pulau yang harus disinggahi oleh KM ini. Pulau Wetar, Kisar, Letty, dan terakhir Pulau Moa sebelum melanjutkan ke pulau kecil lainnya dan berakhir di Ambon. Waktu bongkar muat juga terkadang membuat waktu perjalanan semakin lama. Kapal bisa berlabuh sampai 12 jam di satu pos apabila muatan yang diturunkan di pos tersebut sangat banyak.

 

kaiwatu port

Lama menanti, akhirnya aku sampai di Pulau Moa. Pulau Moa sendiri merupakan salah satu pulau dimana Ibu kota kabupaten Maluku Barat Daya berada. Dermaga kecil dan permanen menyambut kedatangan kapal ini dengan tenang. Arus air tidak besar, gelombang lautpun demikian. Kapal bersandar dengan sempurna tepat jam 14.00 WIT.
Tiakur, nama kota pemerintahan MBD berada di Pulau ini. Dari dermaga perlu waktu sekitar 20 menit lagi untuk sampai ke pusat kota. Ojek menjadi sarana transportasi satu-satunya di Pulau ini. Belum ada angkot, apalagi taksi. Pemerintah kota hanya menyiapkan bus pedesaan yang beroprasi setiap jam 06.00 dan 14.00 untuk mengantarkan para pegawai dan anak sekolah dari desa-desa ke kota. Tarif ojek disini Hanya 100.000 rupiah sekali perjalanan menuju kota. Akupun sontak kaget dibuatnya. Bukan tanpa alasan mengapa harga ojek begitu mahal, keberadaan bensin dan bahan bakar lainnya sangat sulit di kota ini. Kalaupun ada yang menjual, harga satu liter bisa mencapai 50.000 rupiah. Wajar jika semua kebutuhan pokok disini menjadi sangat mahal.

 

goverment office

Menuju kota tiakur dari pelabuhan utama kaiwatu begitu mengesankan. Pulau Moa dikenal dengan kerbaunya. Disini terdapat sebuah gunung dimana terdapat ratusan bahkan ribuan kerbau yang mencari makan. Jadi tidak heran apabila gunung tersebut dinamakan gunung kerbau. Sepanjang jalan menuju kota, aku selalu melihat kerbau yang sedang asik mencari makan. Pepohonan yang masih lebat disepanjang jalan menemani perjalanan aku. Jalanan masih belum rata dan mulus, walaupun sudah dicor dan diaspal kasar. Ilalang kering tumbuh subur disetiap pekarangan rumah. Pekerja-pekerja jalan, talud penahan longsor dan rumah ramai selama perjalanan. Truk pengangkut air, pasir, batu, dan bahan material lainnya datang silih berganti. Pemandangan hutanpun kemudian bergeser menjadi sebuah daratan luas dimana bangunan-bangunan beton dengan type dan model yang sama berjejer rapi dan masih dalam tahap pembangunan. Rumah-rumah dewan, kantor bupati, sekolah,, kantor-kantor dinas masih dibangun. Masih belum rapi karena pekarangan bangunan-bangunan itu masih dipenuhi ilalang yang tingginya melebihi orang dewasa. Rumah-rumah penduduk sementara masih terbuat dari bilik-bilik triplex dan berjajar rapi menyerupai sebuah barak. Kota ini masih dibangun.

 

bilik bilik rumah penduduk

Sarana dan prasarana umum masih belum 100% jadi. Bank masih sulit, bahkan air dan jaringan telekomunikasi pun masih sangat terbatas. Berdiri di tengah kota, dan melihat sekeliling, hutan rimbun kontras dengan jalan-jalan aspal dan bangunan beton yang telah dibangun. Kota tiakur begitu kecil dan berada tepat di tengah hutan belantara Pulau Moa yang disulap menjadi daratan. Pembangunan di kota ini baru berjalan kurang lebih 3 tahun. Pemerintah daerah memindahkan kota pemerintahannya ke pulau ini dari pulau sebelumnya yaitu pulau Kisar. Impian Kabupaten Maluku Barat Daya kedepan adalah menjadi sentra perikanan nasional 2015-2025. Semoga impian itu bisa tercapai, dan sesegera mungkin menjadikan kabupaten ini lepas dari status Daerah Tertinggal.

 

rumah rumah baru

Info akomodasi dan transportasi
KM Sabuk Kupang – Moa – Ambon (PP) : 85.000 – 220.000 (tergatung naik dipos mana)
Ojek Pelabuhan – Kota : 100.000
Pesawat Ambon – Tiakur : estimasi 1.000.000 (booking jauh-jauh hari)
Pesawat Saumlaki – Tiakur : estimasi 1.200.000 (booking jauh-jauh hari)
Penginapan : 200.000 perkamar

Tiakur – 29 November 2015

Advertisements

9 thoughts on “Tiakur, City Of Center Goverment Maluku Barat Daya

  1. Apa ada penginapan di Pulau Moa ? boleh share info nya ke saya di 08111636545. Terima kasih banyak. Saya sangat menghargai bantuan informasi rekan sekalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s