Eksotisme Pulau Kecil Indonesia : Luang, Kecil tapi kaya.

Kapal Lintas Bahari Indonesia hari itu tidak penuh sesak oleh penumpang. Kondisi ini tidak seperti biasanya, aku benar-benar merasa nyaman dengan kondisi kapal yang kosong seperti ini. Perjalanan kali ini akan mengantarkanku ke sebuah pulau kecil yang memiliki potensi wisata dan potensi alam yang menakjubkan. Pulau Luang namanya. Walaupun perjalanan sempat terkendala karena adanya kasus bunuh diri di kapal LBI, namun semua urusan akhirnya dapat diselesaikan secara damai oleh baik dari pihak Kapal ataupun pihak keluarga. Aku sendiri sempat dimintai keterangan selama kurang lebih 3 jam di kantor polisi di Pulau Kisar. Semua pertanyaan polisi aku jawab dengan sejujur-jujurnya karena mamang tidak ada unsur ketidaksengajaan dalam kasus ini. Korban resmi bunuh diri tanpa ada paksaan ataupun dorongan dari pihak lain. Kapal sempat tertahan sampai 7 jam di pelabuhan Kisar, dan itu berarti estimasi kedatangannku di Pulau Luang menjadi terlambat. Sesuai estimasi, diperkirakan aku akan memasuki Luang sekitar pukul 12.00 tengah malam. Namun waktu tersebut sangat dihindari oleh kebanyakan kapal karena memang pernah ada kejadian orang tenggelam. Sejak kejadian itu, semua pelayaran kapal yang singgah di Luang diharuskan masuk siang atau sore hari. Ini bukan tanpa sebab, gelombang lautan Pulau Luang yang ganas sangat membahayakan apabila penumpang harus naik dan turun pada malam hari. Oleh karena keputusan itu, maka kapal LBI yang aku tumpangi mau tidak mau harus menunggu sampai pagi hari, alhasil kapal tersebut merapat ke Pulau Kelapa, yaitu Pulau kecil di sebelah timur Pulau Luang yang gelombangnya aman untuk berlabuh kapal.

 

pulau luang dari kejauhan

Pagi haripun tiba. Tepat pukul 07.00 WIT, kapal-kapal jolor penjemput penumpang datang. Aku belum bisa melihat keindahan Pulau Luang saat turun dari kapal LBI. Ini karena memang keindahan Pulau Luang masih jauh dari tempat aku berlabuh. Dengan menggunakan jolor kecil akhirnya akupun diantar menuju daratan dimana desa Luang Barat dan Desa Luang Timur berada. Waktu tempuh menuju daratan berdurasi hampir 1 jam lebih. Selama perjalanan menuju daratan barulah aku bisa melihat indahnya alam bawah laut Pulau Luang. Sepanjang perjalanan aku disuguhkan oleh hijaunya air laut, dan juga terumbu karang yang masih terjaga. Sesekali aku melihat warna-warni ikan tanpa harus menceburkan kepala ke dalam laut. Perairan dangkal pulau ini sangat panjang. Warga lokal menyebutnya air meti. Apabila air laut sedang surut, jangan harap kapal jolor bisa berlayar. Oleh karena itu, air pasang menjadi andalan warga untuk mencari ikan atau berlayar menggunakan jolor-jolornya. Aku terkejut takkala aku melihat banyaknya botol air mineral yang sudah berlumut terapung-apung dilautan. Dalam batin, aku menyesalinya karena aku kira itu adalah botol-botol sampah yang dibuang sembarangan di laut. Sesekali aku berusaha untuk mengambil botol-botol itu dan mengumpulkannya di dalam jolor, namun pengemudi jolor justru selalu mengarahkan jolornya untuk tidak mendekat botol-botol tersebut. Aku semakin penasaran mengapa takkala ada orang yang berusaha untuk membersihkan sampah laut, justru warga lokal menjauhkan jolornya dari sampah-sampah itu. Setelah aku perhatikan dengan seksama, aku baru sadar bahwa sampah botol itu berjejer dengan rapi pada seutas tali yang membentang sangat panjang. Saat itu aku baru sadar bahwa botol-botol itu tenyata adalah pelampung budi daya rumput laut. Botol itu digunakan agar untaian rumput laut tidak tenggelam dan berantakkan saat air pasang ataupun air turun. Itu sebabnya pengemudi jolor selalu menjauhkan jolornya dari botol tersebut, karena bisa saja baling-baling kapal menyangkut pada tali-tali tersebut. Sadar akan hal itu, akupun hanya tersenyum sambil mengagumi banyaknya untaian rumput laut di Pulau ini.

 

pemandangan dari puncak bukit luang

Kontur permukaan Pulau Luang dipenuhi oleh bukit. Bukit tersebut merupakan bukit tandus yang hanya ditumbuhi oleh rumput ilalang. Tidak banyak terdapat pohon di pulau ini. Bebatuan gunung lebih mendominasi permukaan. Pohon kelapa pun bisa dibilang sangat sedikit, maka tidak heran jika banyak pohon kelapa yang kemudian di SASI oleh gereja. SASI berarti larangan yang diberikan oleh gereja yang bertujuan untuk menjaga sesuatu, termasuk menjaga agar pohon kelapa tersebut tidak habis ditebang oleh masyarakat. Khususnya di desa Luang Barat, terdapat sebuah gereja dengan mimbar berupa mulut ikan kerapu dan ikan napoleon yang sedang menganga. Ini dibuat guna mensyukuri bahwa uang pembangunan gereja ini didapat dari hasil penjualan ikan kerapu dan ikan napoleon dengan kualitas eksport. Tidak heran jika banyak pedagang asing dari berbagai belahan dunia, khususnya china, hongkong, jepang, dan negara asia timur lainnya yang rela datang ke pulau ini hanya sekedar untuk membeli ikan-ikan tersebut. Pulau Luang ini kaya akan hasil lautnya. Ikan, rumput laut, teripang, sampai penyu banyak sekali di temui di sini. Bahkan saat aku masih berada di desa, aku diberi seekor penyu hidup untuk santap makan malam. Namun, karena rasa iba ku, maka penyu tersebut tidak jadi dipotong. Aku sudah meminta agar penyu tersbut dikembalikan ke laut, namun memaksa untuk meminta hal tersebut aku rasa kurang sopan, karena aku hanya berkunjung di Pulau Ini. Masyarakat sebenarnya sudah paham akan larangan penyu untuk di konsumsi, namun kesadaran itu hanya sementara, karena jumlah penyu di pulau ini sangat melimpah dan tidak untuk di perjual belikan, melainkan untuk di konsumsi secara pribadi. Aku hanya bisa terdiam menanggapinya. Roda perekonomian di Pulau Luang ini hampir sepenuhnya digerakan oleh hasil laut. Teripang menjadi sumber pendapatan yang sangat besar, maka takheran apabila kita akan melihat seorang penjaga yang selalu sigap apabila ada teripang yang sedang di jemur. Harga teripang bisa mencapai 1 juta rupiah perkilogram dengan ukuran super. Dan, hampir semua teripang yang ada di pulau ini berukuran super, jadi jangan heran apabila penjemuran teripang akan selalu diawasi oleh empunya, berbeda dengan proses penjemuran rumput laut.

 

mimbar gereja di luang barat

Aku jatuh cinta sekali dengan pulau ini. Meskipun pulaunya sangat kecil, namun rasa kekeluargaan antar masyarakatnya sangat terjaga. Keamanan dan kenyamanan bagi pendatang sangat menjadi prioritas di Pulau ini. Keramahan penduduknya membuat aku enggan meninggalkan pulau ini dengan cepat. Namun apaboleh buat, kapal yang akan aku tumpangi sudah datang, dan itu berarti aku harus segera meninggalkan pulau ini. Sebanarnya masih banyak lokasi wisata potensial di pulau ini yang belum aku kunjungi. Waktu 5 hari sangat singkat untuk mengexplore keindahan pulau ini. Aku berharap, bahwa suatu hari nanti aku akan diberi kesempatan untuk mengunjungi kembali pulau ini. See u again Luang!!

 

teripang kelas super

 

rumput laut pulau luang

Info transportasi dan akomodasi :

Kapal perinstis kupang – Luang – saumlaki (sabuk nusantara 49) : 120.000

Kapal LBI kalabahi – Luang – Saumlaki : 100.000

Kapal perintis kupang – luang – ambon (sabuk nusantara 43) : 120.000

Jolor menuju Desa di Luang : 50.000 – 100.000

Akomodasi : tidak ada, kita bisa menginap di rumah warga atau rumah kepala desa.

Pulau Luang – 25 Desember 2015

Advertisements

One thought on “Eksotisme Pulau Kecil Indonesia : Luang, Kecil tapi kaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s