She is amazing sea kayakers : Sandy Robson

Hanya satu kata yang bisa aku ucapkan saat itu : WOW! Pagi hari aku sudah dikagetkan dengan banyaknya orang-orang kampung yang berlarian menuju pantai. Aku tidak berfikir macam-macam, yang ada dipikiranku hanyalah hal biasa yang sering terjadi di desa yang aku singgahi : berantem. Memang, dari cerita yang sempat diungkapkan temanku, di Pulau Luang kerap kali sering terjadi perkelahian, baik itu perkelahian antar pemuda, ataupun perkelahian antar kampung. Beragai macam memang pemicunya, mulai dari mabuk sampai saling ejek. Maka, melihat banyak orang berlarian seperti itu, pikiranku berkesimpulan bahwa di pantai sedang ada orang yang berkelahi.

Sebenarnya aku tidak tertarik untuk melihatnya, namun tubuhku tiba-tiba saja mengajakku untuk segera menuju pantai dan melihat apa yang sedang terjadi. Sambil berjalan, sesekali aku bertanya pada ibu-ibu atau siapapun yang bisa aku tanyai sekedar berbasa-basi.

“Ada apa ini bu?” Tanyaku pada seorang ibu yang aku temui dijalan.

“Itu, ada orang pakai sampan kecil dari laut” Jawabnya singkat.

“Hah?” Aku mulai bingung, karena aku pikir banyak sekali masyarakat desa yang menangkap ikan dengan menggunakan sampan, jadi apa apa anehnya? Dan mengapa banyak sekali orang yang sampai berlarian menuju pantai?

 

warga berkumpul penasaran

Rasa penasaranpun langsung membawa tubuhku sedikit berlari kearah pantai. Benar saja, semua orang, termasuk aku pasti akan kaget melihat seorang dengan sebuah kayak datang dari tengah lautan Pulau Luang yang bisa dibilang memiliki gelombang yang tidak kecil itu. Dalam hati aku berdecap kagum, karena orang itu benar-benar pemberani sekali bisa sampai di pulau ini. Akupun kemudian kembali ke rumah hanya untuk mengambil kamera HP seakan tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa mengabadikan kejadian yang sangat langka ini. Setelah kamera sudah ditangan, awalnya aku sedikit kecewa karena ternyata orang tersebut tidak jadi singgah di perkampungan karena mungkin ketakutan dengan kerumunan orang yang melihatnya. Aku hanya bisa menangkap gambar saat orang tersebut kembali mengayuh dayung kayaknya meninggalkan pelabuhan desa, namun akupun melihat ada sebuah jolor nelayan yang menghampirinya, yang mungkin berbicara dan mengajak orang tersebut untuk singgah sebentar di pedesaan. Dan akhirnya orang tersebutpun mau singgah karena aku melihat kayak yang ia tumpangi merubah haluan menuju pelabuhan desa.

Dia adalah seorang bule, orang asing yang jelas membuat semua warga desa penasaran untuk melihatnya. Tidak banyak warga desa yang bisa berbicara bahasa inggris. Bahkan bisa dibilang tidak ada satupun dari masyarakat di Desa Luang Barat ini bisa berbahasa inggris. Karena rasa penasaran, akupun mencoba untuk berbincang dengannya, bertanya seputar maksud dan tujuannya seperti apa.

 

bersama sang petualang

Setelah ia sampai di daratan, akupun langsung menyodorkan tangan sambil bertanya nama dan maksud kedatangannya. Ia pun memberitahu namanya dan memintaku untuk bersabar sebentar karena ia harus merapikan kayakknya terlebih dahulu sebelum melanjutkan berbincang denganku. Akupun menyetujuinya sambil sesekali memotonya dengan kamera HP. Selesai membereskan kayaknya, ia memintaku untuk memberi tahu pada masyarakat untuk tidak mengganggu kayaknya, serta memintaku juga untuk menempatkan orang yang bisa dipercaya menjaga kayaknya tersebut. Awalnya masyarakat meminta agar kayaknya diangkat keatas permukaan, namun bule tersebut menolaknya dan hanya meminta untuk menjaganya saja dan jangan diganggu sama sekali. Kamipun menyanggupinya dan kemudian aku mengajaknya untuk bertemu dengan kepala desa.

Namanya sandy robson. Ia adalah wanita 46 tahun asli Australia. Dari penjelasan singkatnya ia adalah seorang petualang kayak atau sea kayakers yang sedang melakukan ekspedisi dari jerman sampai australia dengan kayak. Jarak tempuh yang dilaluinya sekitar 5000 kilometer. Kemudian ia menargetkan lama perjalanan sekitar 5 tahun. Rute perjalanan di Indonesia ia mulai sekitar 8 bulan yang lalu dari Pulau Batam. Ia pun kemudian menunjukan sebuah gambar seorang lelaki tua dengan menggunakan sampan tradisional yang kemudian di berkata bahwa ia sedang mengikuti jejak pak tua tersebut untuk keliling dunia dengan menggunakan kayak. Aku lupa siapa nama pak tua yang ada di gambar tersebut, yang jelas sandy ingin sekali melakukan tapak tilas perjalanan sang bapak tua tersebut.

 

exploring luang

Sandy menjelaskan juga, ia singgah di Pulau Luang hanya sekedar untuk mencari perbekalan perjalannannya. Ia perlu membeli beberapa makanan dan minuman karena dirasa perbekalannya sudah menipis. Ia pun menunjukan surat izin berlayar dari kementrian perhubungan dan di izin tersebut nampak jelas instruksi bagi beberapa kapal motor yang mungkin berpapasan dengannya diperjalanan agar mau membantunya. Iapun kemudian bercerita bahwa sebelum sampai di Pulau Luang, ia sampai terlebih dahulu di Pulau Liran – Dili (Timur Leste) – Pulau Kisar – Pulau Letty – Pulau Moa – Pulau lakor sebelum akhirnya ia sampai di Pulau Luang. Dan ia pun kemudian berkata bahwa rute selanjutnya adalah Pulau Sarmatang – Pulau Tepa – dan berakhir di Saumlaki, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Ia harus beristirahat sekitar 3 bulan sambil menunggu musim hujan selesai sebelum ia melanjutkan perjalannya ke Papua dan mengelilingi Papua Nugini dan finish di Australia.

Benar-benar seorang wanita pemberani batinku. Akupun kemudian dihadiahi sebuah kartu pos bergambarkan sang idola sandy robson : Oskar Speck. Dan berpesaan padaku agar bisa menemuinya apabila aku berkunjung ke Australia. Dalam hati, semoga aku diberi kesempatan untuk bisa sampai di Australia.

Melihat semangat Sandy, timbul dalam benakku untuk tidak takut pada mimpi. Aku sendiri menilai perjalanannya sebagai tindakan gila yang tidak sayang terhadap nyawa. Perjalanan bodoh menantang maut dan benar-benar tidak masuk diakal. Namun kemudian aku belajar darinya, bahwa mimpi harus benar-benar diperjuangkan. Menghadapi semua rintangan yang ada merupakan suatu keharusan demi manggapai mimpi.

 

see you !!

Setelah beberapa jam berada di desa, berkeliling desa dan memenuhi segala keperluan perjalanannya, sandy pun kemudian berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalan kayaknya.

Thanks sandy robson, melihat perjalananmu timbul rasa percaya diri buatku untuk tidak takut dalam menghadapi apapun yang ada didepan nanti. Have nice journey, See you soon!

Visit too : http://www.sandy-robson.com to support her journey.

Pulau Luang – 23 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s