Make away with oneself : Suicide

Pagi hari saat hujan turun begitu besar di Pulau Luang, aku teringat akan kejadian mengerikan yang begitu jelas terlihat oleh mata kepalaku. Aku menoleh jam tangan yang tergeletak tepat di atas kepala kasur dimana aku tertidur. Jam masih menunjukan pukul 04.00 waktu Indonesia Bagian Timur. Aku berfikir bahwa Tuhan sedang menyuruhku untuk segera mengambil air wudhu dan melakukan sholat malam. Akupun langsung menuju kamar kecil dan kemudian bershalat malam untuk kali pertamanya setelah 6 bulan aku berada di Pulau kecil di bagian Timur Indonesia. Setelah selesai shalat, hujan semakin besar dan menjadi-jadi. Besarnya tiupan angin mampu memindahkan tumpukan kursi plastik dihalaman rumah. Aku menyaksikan besarnya hujan dan kencangnya angin disebuah jendela kamar yang kebetulan langsung menghadap keluar pekarangan rumah. Daun kelapa bergoyang keras seakan tidak mampu menahan kencangnya angin. Sekilas, aku melihat banyak lelaki yang keluar dari rumah membawa senter berlarian menuju pelabuhan desa. Beberapa dari mereka terdengar berteriak dengan bahasa daerah. Dan setelah kutafsirkan mungkin artinya bagini : “cek kapal motor, banyak yang tenggelam karena air pasang dan gelombang tinggi”. Aku hanya terdiam di kamarku dan angin besar dan hujan deras ini membuatku tidak beranjak untuk membantu.

Melihat angin dan hujan yang begitu kencang seketika pikiranku langsung mengawang-ngawang pada besarnya gelombang di lautan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ganasnya gelombang selat luang yang sudah menewaskan beberapa orang yang tenggelam saat turun dari kapal sabuk perintis. Seketika pikiranku pun kembali membayangkan kejadian dimana seorang kepala puskesmas di Desa Arwala loncat dari kapal Lintas Bahari Indonesia tepat dihadapanku. Kejadian itu begitu jelas terekam dalam memori otakku. Bagaimana tidak sebelum bapak itu melompat dari kapal, aku sempat mencoba untuk berbasa-basi mencairkan suasana. Saat itu aku mengetahui bahwa ia adalah seorang yang pernah datang ke desa ku untuk memerikasa kesehatan masyarakat. Aku tidak tahu siapa nama bapak tersebut, namun yang pasti dia telah berjasa untuk membantu kesehatan masyarakat desaku.

 

korban tidak selamat

Kejadian itu bermula dari kami yang sama-sama menjadi penumpang di kapal LBI yang masuk ke dermaga di Desa Arwala. Kapal LBI saat itu datang terlambat dari rencana. Tepat pukul 03.00 WIT, kapal masuk dan singgah di lautan Desa Arwala. Seperti biasa, jolor mulai merapat satu-persatu ke samping bagian kapal yang terdapat tangga untuk menaikinya. Aku pun menaiki palka kapal bersama dengan calon penumpang lainnya. Sembari mencari tempat duduk, sudah menjadi kebiasaan calon penumpang untuk bertegur sapa sekedar menanyakan tempat mereka turun. Ini menjadi sangat penting karena biasanya tempat mereka turun kemudian akan menjadi tempat kita duduk setelahnya.

Aku kemudian melihat seorang bapak yang kukenal sebagai orang yang pernah datang ke desaku untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sangat wajar bagiku untuk bertanya walau sekedar basa-basi. Pertanyaanku banyak yang tidak dijawab. Dan kalaupun dijawab, maka jawaban singkat yang kudapat. Melihat respon tersebut, akhirnya akupun menjadi dongkol dan malas untuk bertanya lebih banyak. Saat itu aku menutuskaun untuk mencoba tidur ditempat yang aku rasa sangat sempit. Bapak itu membawa tikar besar, dan 2 tas besar. Satu tas terus digendongnya dan satu tas lagi tergeletak dibawah palka. Tikar yang ia bawa tidak dibuka penuh. Aku berfikir mungkin ia sedang menunggu temannya dan lalu kemudian tikar tersebut akan dibuka sepenuhnya. Akupun tidak terlalu memusingkannya karena aku sendiri sudah diberi selembar karung bersih yang cocok untuk dijadikan tikar oleh seorang ibu yang berasal dari desaku. Jam menunjukan pukul 05.00 saat kapal kemudian kembali berlayar ke pulau selanjutnya.

 

proses evakuasi korban

Hampir semua penumpang kemudian mencoba untuk tidur pagi itu. Tidak terkecuali saya dan bapak kepala puskesmas tersebut. Tidak ada hal yang aneh yang aku lihat atau aku rasakan. Semua berjalan normal apa adanya. Belum 10 menit kapal berlayar, belum juga mata ku sempat tertutup, aku dikagetkan oleh bapak kepala puskesmas tadi yang tiba-tiba terperanjat dari tidurnya dan kemudian tangannya memegang tambang pengikat terpar kapal dan kakinya menginjak pembatas kapal, untuk kemudian tanpa ada komando dari siapun dan tanpa ada yang mendorongnya ia loncat begitu saja menceburkan diri ke dalam lautan. Sontak akupun kaget dan dengan reflek mulutku langsung berteriak : “loncat, bapak itu loncat, loncat…. Bapak itu loncat…”. Entah siapa yang mendengarnya kemudian serempak semua penumpang di kapal terbangun dan seketika ramai dengan teriakan yang sama. Kapal kemudian melambat dan berhanti. Aku kemudian dipanggil keatas ruang kemudi untuk memberikan informasi kepada kapten kapal. Dan saat aku menuju ruang kemudi, aku merasakan bahwa kapal berputar kembali menyusur lautan untuk mencari bapak yang loncat dari kapal tersebut. Aku menjelaskan dengan jujur apa yang aku lihat. Kaptenpun langsung meminta jurumudi untuk terus berputar disekeliling teluk untuk mencari jasad korban. Sesekali kapal berhenti dan membunyikan klakson untuk meminta warga di darat mendekat. Klakson isyarat dan lampu sorot terus dinyalakan guna memanggil masyarakat di darat. Lama sekali respon yang didapat walau pada akhirnya ada sebuah kapal jolor yang merapat ke kapal.

 

kapal lokasi TKP

Kapten menginstruksikan warga di darat untuk mengerahkan semua jolornya untuk membantu pencarian korban, setelah sebelumnya dijelaskan dahulu bagaimana kejadiannnya. Jolorpun mengerti dan segera kembali ke darat untuk memanggil rekan-rekannya dan membantu evakuasi korban bunuh diri tersebut. Pencarian memakan waktu yang cukup lama. Meskipun begitu, korban berhasil ditemukan oleh warga yang kemudian segera dibawa ke darat untuk di evakuasi. Aku melihat dengan jelas isak tangis warga yang mungkin keluarga di atas jolor yang mengangkat korban. Beberapa orang berusaha menekan dada korban dan memberikan nafas buatan berharap korban bisa diselamatkan nyawanya. Namun semua usaha itu gagal sehingga isak tangis pun kemudian pecah dari semua penumpang kapal.

Kejadian itu benar-benar terekam jelas dipikiranku sampai saat ini. Kejadian yang aku rasa menakutkan sekaligus menyedihkan. Ini kali pertama aku melihat secara langsung kejadian bunuh diri. Kapalpun kembali berlayar setelah jasad berhasil di angkat ke darat, dan kami beberapa perwalikan dari kapal turun untuk melayat korban.

Hujan deras di pagi hari ini masih belum juga selesai. Matakupun terkantuk dengan sendirinya. Akupun tertidur kembali sambil memegang handphone dan lagu yang terus terputar.

Luang barat – 22 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s