Mayday !! Mayday !!

“Mayday-mayday-mayday”.

“ABK Deck standby – ABK Deck standby – ABK Deck stanby”

Pengumunan itu terus dan berulang kali aku dengar dari pengeras suara yang ada di kapal.

“Pengumunan, bagi para penumpang yang belum selesai menurunkan barang dihentikan saja, nanti kapal balik baru diturunkan kembali”. Itulah instruksi yang kemudian dilontarkan kembali oleh kapten kapal masih melalui pengeras suara yang sama.

Aku terbangun dari tidurku pagi itu. Gelombang dilautan malam itu benar-benar membuatku mual tak karuan. Perus terasa kosong, kepala pusing, sehingga setelah kupaksakan makan nasi seadanya, obat anti mabukpun aku lahap agar aku bisa tidur terlelap.

Pagi itu adalah tepat tanggal 25 Desember 2015. Hari natal untuk kaum nasrani, dan juga merupakan hari yang mendebarkan buatku atau mungkin buat para penumpang yang turut menggunakan kapal yang sama untuk menuju kota Saumlaki.

 

kapal perintis

Aku mulai merenung, bukan tanpa sebab. Renunganku kembali teringat pada kejadian Empat atau lima tahun lalu (aku lupa waktu pastinya) dimana aku dan teman temanku hampir saja terdampar dan harus mempertaruhkan nyawa untuk menerjang gelombang besar di laut jawa. Kala itu kami sedang menjalankan liburan awal tahun di Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah. Namun apa daya, liburan itu sedikit menegangkan karena waktu yang tidak tepat. Cuaca musim barat mengharuskan kami untuk segera meninggalkan lokasi karena jika tidak, maka kami akan terdampar selama kurang lebih 2 bulan di pulau. Kenekatan yang berhasil mengeluarkan kami dari pulau tersebut. Dengan menggunakan kapal kayu bermuatan logistik dari Kalimantan yang singgah di Karimun Jawa, kamipun menyebrangi lautan Utara Jawa yang bergelombang hampir mencapai 4 meter.

Hari ini, aku mengalami hal yang sama. Namun tidak dengan menggunakan kapal kayu, tetapi dengan menggunakan kapal besi bernomor lambung GT 2090 No 3969/Ba atau familiar dengan sebutan Kapal Sabuk Nusantara 49. Rute kapal Kupang – Saumlaki yang seharusnya ditempuh dalam waktu sekitar 2 hari dari Pulau Luang, namun harus terus mundur karena cuaca yang sangat buruk.

 

cara kami naik dan turun dari kapal perintis tanpa dermaga

Ketakutanku muncul bermula pada saat aku akan menaiki kapal tersebut dari Pulau Luang. Informasi yang diberikan kapal melalui radio SSB mengatakan bahwa kapal akan berlabuh di laut Luang pada pagi hari pukul 06.00 WIT. Alhasil kamipun (aku bersama rombongan yang akan menaiki kapal) harus segera keluar dari Desa Luag Barat sekitar pukul 01.00 WiT dini hari. Ini kami lakukan karena untuk keluar dari Pulau Luang, penentuan waktu akan naik turunnya air laut harus pas dan tepat. Kurang beberapa menit saja akan menyebabkan kapal atau Jolor karam. Mengingat perairan dangkal Pulau Luang sangat panjang sekali, bisa mencapai hampir 2 Kilometer lebih. Oleh karena itu bukan hal yang bijak apabila kita keluar pulau pada saat air laut surut. Sekitar 1 jam perjalanan keluar dari perairan dangkal, kami pun dihadapkan pada ujung dari perairan dangkal, atau orang lokal menyebutnya kepala meti. Gelombang di kepala meti saat itu benar-benar membuatku kehilangan nyali. Aku bisa dengan jelas melihat tingginya lengkungan dasar gelombang karena jolor ku saat itu tepat sedang berada di puncak gelombang. Mungkin saat itu rasanya seperti sedang menaiki Roller Coaster yang akan turun dari puncak menaranya guna menambah kecepatan lajunya. Namun ini bukan roller coaster yang sedang beraktraksi, apabila jolor salah kemudi, maka saat itu juga lambung jolor bisa saja pecah dihantam gelombang. Dan kita harus bersiap untuk berenang dikedalaman kurang lebih 2000 meter. Aku tidak bisa berbuat banyak, aku hanya bisa berdoa untuk meminta keselamatan dan kedua tanganku terus memegang erat kedua sisi jolor tersebut. Pikiranku bercampur aduk saat itu. Dan aku sudah tidak mempedulikan lagi pakaianku yang mulai basah oleh guyuran air laut. Alam bawah sadarku hanya bisa berkata : percaya saja pada keahlian pengemudi jolor, ia putra asli Pulau Luang yang berarti sudah terbiasa dengan ganasnya gelombang lautan di pulaunya. Akan tetapi pikirankupun tiba-tiba tertuju pada cerita ayah dari pengemudi jolorku bahwa beberapa bulan lalu, gelombang tinggi hampir saja menewaskan sang ayah. Dan segera pikiran itupun aku singkirkan dan berusaha melawan ketakutan ini. Jolorpun singgah di perairan pulau kelapa, dimana diperairan laut ini gelombang sedikit tenang.

Jam sudah menunjukan pukul 06.00 WIT, namun kapal sabuk tersebut belum juga menunjukan batang hidungnya. Aku sudah bosan dibuatnya. Kecilnya kapal jolor tidak memungkinkanku untuk banyak bergerak, alhasil aku hanya bisa duduk dan sesekali tertidur dalam posisi duduk. Bergerak sedikit, jolor akan miring sehingga yang aku khawatirkan adalah jolor yang membalik. Kami semua penumpang jolor mulai bosan, sehingga pada akhirnya pada pukul 10.00 WIT kami sepakat untuk berkeliling pulau sambil memancing ikan. Tidak sia-sia usaha kami, karena niat kami memancing membuahkan hasil berupa ikan besar yang cukup untuk mengganjal perut kami yang sudah mulai kelaparan. Sambil menunggu ikan dibakar, sesekali aku menceburkan diri ke laut untuk melihat-lihat indahnya terumbu karang di pulau ini.

Tepat jam 13.00 WIT, kapal yang kami nanti akhirnya datang. Gelombang laut mulai tinggi kembali. Seperti halnya pulau kecil lain di wilayah Maluku Barat Daya, untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, kapal tidak bisa bersandar di demaga, bukan tanpa alasan, karena memang belum tersediannya demaga di setiap pulau yang disinggahinya, oleh karena itu kapal cukup berhanti di tengah lautan, dan kemudian kapal-kapal jolor kecil lah yang mengantarkan penumpang kebagian tangga kapal. Di pulau lain, aku tidak merasa takut untuk menaiki kapal dengan cara seperti ini. Tetapi di pulau Luang, semua bulu kudukku berdiri seketika sesaat setelah aku melihat bagian ekor kapal yang terbang akibat besarnya gelombang. Selain itu, akupun melihat dengan jelas bagaimana gelombang besar berhasil membuat badan kapal miring sampai (mungkin) 12 derajat dari garis horizontal. Pikiranku berkata bahwa kemiringan seperti itu bisa membuat kapal terjungkir dan karam. Aku betul-betul ketakutan saat itu. Pada saat tiba giliranku untuk menaiki kapal, kakiku tiba-tiba tidak sanggup untuk melangkah, kakiku lemas entah kenapa. Mungkin karena aku ketakutan dengan besarnya gelombang, sedangkan aku harus meloncat ke tangga kapal tanpa penyangga. Salah melangkah saja, otomatis aku akan tercebur ke lautan bersama dengan tas yang aku gendong. Suara keras dari pengemudi kapal jolor kemudian membuatku sadar bahwa aku harus segera menaiki kapal sabuk karena semakin lama aku naik, maka gelombang akan semakin tinggi dan akibatnya penumpang lain tidak bisa masuk ke dalam kapal tersebut. Aku bersyukur karena aku berhasil menaiki anak tangga tersebut, dan tanpa komando akupun langsung mencari tempat untuk segera tidur.

 

jolor pengangkut penumpang kapal

Setelah semua penumpang naik, kapal sabukpun berlayar ke pulau berikutnya. Di dalam lambung kapal, ditempat dimana aku tidur, aku masih bisa merasakan besarnya gelombang dan derasnya hujan disertai angin saat itu. Keadaan ini sekali lagi membuatku takut. Pusing di kepalaku tak berhenti. Aku hanya bisa pasrah dan berusaha untuk terlarut dalam keadaan.

Kapal pun singgah di Pulau Tepa, dan berdasarkan instruksi dari syahbandar juga warning dari BMKG, kapal tidak bisa berlayar selama kurang lebih 4 hari kedepan karena cuaca buruk dilautan. Apa boleh buat, demi keselamatan semua penumpang, termasuk aku pun, dengan sabar harus memahami dan menerima keputusan ini. Selamat Natal 2015.

Kapal Sabuk Nusantara 49, Pulau Tepa – 25 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s