Learning from village

Ini adalah bulan terakhir aku berada di pulau kecil terdepan Indonesia. Banyak pengalaman dan petualangan yang aku alami selama berada di dalamnya. Pengalaman senang, sedih, sampai marah aku alami dengan penuh suka cita. Tidak mudah memang mengatur masyarakat awam dengan waktu yang sangat singkat. Watak dan sifat mereka berbeda, ada yang menerima dan juga ada yang kurang menerima kehadiran aku. Berbagai macam karakter manusia pun aku temukan dalam tugas aku ini. Keras, lembut, ramah, arogan, sampai yang berani “main” dibelakang pun aku jumpai. Aku sendiri bersyukur karena berkesempatan untuk dapat masuk ke pulau kecil terdepan tersebut. Bersyukur karena dapat melihat dengan nyata bagaimana pola kehidupan mereka disana. Bersyukur pula karena secara tidak langsung aku mendapatkan banyak keluarga baru.

 

pisang rebus dan gurita goreng

Sesuai dengan judul tulisan ini, aku ingin sedikit bercerita mengenai apa yang aku pelajari selama aku berada di desa. Dari desa, aku belajar bagaimana membedakan apa itu keinginan dan kebutuhan. Sangat jelas perbedaan antara keinginan dengan kebutuhan tersebut. Namun, rasanya selama berada di kota besar, aku pribadi kurang mengerti makna kedua kata tersebut. Di kota, aku merasakan bahwa kebutuhan dan keinginan itu sangat tipis sekali perbedaannya. Mengapa aku berkata demikian, karena memang saat di kota, hampir semua keinginan dan kebutuhan bisa aku dapatkan dengan mudah. Contohnya, aku sedang menginginkan sekali makanan siap saji ala barat yang terkenal. Mudah saja bagi aku untuk mendapatkannya karena memang keinginan tersebut berubah menjadi sebuah kebutuhan akan makanan. Namun apa yang terjadi saat kejadian yang sama aku alami di desa? Bagaimanapun usaha aku, keinginan tersebut harus aku tahan, karena memang sangat tidak mungkin ditemukan. Membuat sendiri pun rasanya sulit, karena keterbatasan akan bahan yang ada.

Banyak keinginan aku yang pada akhirnya harus dilupakan takkala aku berada di desa. Oleh karena sering menunda dan melupakan keinginan tersebut, pada akhirnya muncul satu pelajaran penting lainnya dalam hidup aku, yaitu sabar. Memang bukan hal mustahil keinginan tersebut bisa aku dapatkan, namun sabar menjadi jalan aku untuk mendapatkannya. Yakin bahwa suatu hari nanti keinginan tersebut bisa didapat, walau rasanya sudah tidak senikmat pada saat pertama kali menginginkannya.

 

kelapa muda campur wafer

Mengenai kebutuhan, aku sependapat dengan banyak pepatah yang menyebutkan bahwa belilah apa yang kamu butuh, bukan apa yang kamu ingin. Mengapa aku satu pendapat dengan pepatah tersebut? Karena pada umumnya warung-warung kecil di desa hanya menyediakan barang-barang yang memang dibutukan oleh konsumennya. Meskipun harga barangnya mahal, namun konsumen pasti membelinya termasuk aku karena memang butuh. Misalkan saja minyak bensin. Meskipun harga sampai 100.000 rupiah satu liter, tapi tetap saja aku membelinya karena memang dibutuhkan untuk kendaraan yang aku sewa. Memang kebutuhan orang itu berbeda-beda, namun umumnya pedagang atau warung di desa kecil hanya menyediakan barang-barang yang memang menjadi kebutuhan dasar pelanggannya saja. Jangan harap kita bisa mendapatkan minuman kemasan dengan banyak varian rasa atau merek. Cemilan ringanpun demikian. Oleh karena itu, banyak keinginan yang harus aku tunda pada saat aku berada di desa.

Memaksimalkan apa yang ada di alam. Itu kemudian menjadi pelajaran berikutnya yang aku dapatkan dari masyarakat desa. Keterbatasan membuat mereka harus pintar memutar otak untuk bisa memaksimalkan apasaja yang telah alam berikan. Tak ada rotan akarpun jadi demikian benar adanya. Selalu saja ada barang pengganti yang diberikan oleh alam untuk keberlangsungan hidup masyarakat di desa. Misalkan, bila saat ini sedang kesulitan beras, singkong dan ketela pohon serta jagung bisa menjadi makanan pengganti bagi mereka. Tidak ada alasan menjadi malas makan atau tidak bernafsu untuk tetap bertahan hidup. Bahkan aku pernah merasakan bagaimana anehnya takkala pisang rebus di makan bersamaan dengan daging gurita goreng. Buah labu di buat sayur bening pun pernah aku rasakan. Memang awalnya lidah aku belum terbiasa, namun lama kelamaan sayur kacang hijau dengan masako seadanyapun aku makan dengan lahap.

Keterbatasan sarana permainan tidak menjadikan anak-anak di desa berhanti bermain. Buktinya, perahu sampan seolah menjadi kendaraan bermain mereka saat panas menyengat kulit mereka. Sampan-sampan yang mereka mainkan bisa diibaratkan seperti sepeda yang dipakai bermain oleh anak-anak di perkotaan. Sampan-sampan itu dipakai balapan. Merasa keren apabila sampan yang dikendarainya lebih besar dari sampan-sampan yang lainnya. Miniatur kapal pun manjadi mainan yang menyenangkan bagi balita-balita di desa, mirip miniatur mobil truk yang terbuat dari kayu di kota. Dari mainan-mainan ini aku belajar bagaimana cara bersyukur yang sebenarnya. Kebahagiaan tidak melulu diukur dengan materi yang dimiliki. Banyak yang bilang bahwa kebahagiaan itu sederhana. Tergantung bagaimana pribadi merasakannya. Pepatah tersebut memang benar adanya.

 

membuat dayung dengan papan seadanya

Masih banyak sebenarnya pelajaran yang aku petik selama berada di desa, namun pelajaran tersebut masih sulit rasanya untuk aku tuliskan dalam sebuah tulisan. Intinya, bersyukur atas karunia dan rejeki sang maha pencipta, rasa sabar dan mulai berani mengedepankan kebutuhan adalah pelajaran paling penting yang telah aku pelajari selama berada di desa.

Terima kasih desa.

Desa Tomliapat – Pulau Wetar – 10 Desember 2015

Advertisements

2 thoughts on “Learning from village

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s