Camping darurat di sebanjar

Selesai berpetualang di Pulau Rote Ndao, kami bertiga yaitu saya, fajar, dan citra langsung merencanakan untuk kembali berpetualang di Pulau Alor. Perjalanan dari Rote ke Alor harus melalui Kupang terlebih dahulu. Saat itu, kami memilih memakai jasa penerbangan Wings Air karena biaya yang tidak jauh berbeda dengan kapal cepat Bahari Express. Kami pun tanpa pikir panjang langsung membooking jadwal penerbangan yang hanya megudara selama 15 menit tersebut. Diantar oleh ka Leny ke bandara dengan ojek, kami pun tiba di Bandara D.C Saudale Rote. Kamipun segera checkin dan menunggu kedatangan pesawat ATR 80 yang akan kami tumpangi.

Pesawat akhirnya tiba 5 menit sebelum jadwal take off, hanya ada waktu sekitar 10 menit bagi penumpang untuk bergegas kedalam pesawat, karena setelah itu pesawat akan segera mengantarkan kami ke Kupang. Algia, sang pramugari cantik pun dengan ramah melayani penerbangan kami walau hanya 15 menit di udara. Tanpa terasa kami tiba di Bandara Eltari Kupang, dan langsung melanjutkan perjalanan dengan mobil sewaan ke tempat kami bermalam sebelum keesokan paginya berlayar ke Pulau Alor dengan menggunakan kapal ferry.

 

masak darurat

Pelabuhan Penyebrangan Ferry Bolok hari itu nampak ramai. Penumpang sudah mengantri tiket sejak lama. Pedagang makanan dan minuman silih berganti menawarkan barangnya kepada kami yang baru saja turun dari mobil sewaan yang sama saat menuju penginapan. Jam saat itu menunjukan pukul 09.00, namun pelabuhan sudah sangat ramai. Kamipun bergegas membeli tiket kelas bisnis, dan kemudian mencari warteg untuk sarapan. Perjalanan dari Kupang ke Alor ditempuh dengan waktu 20 jam, itu berarti kami akan tiba sekitar jam 07.00 keesokan harinya di Alor. Persiapan perjalanan 20 jam tersebut kami siapkan dengan matang. Maka tak heran bila pada akhirnya kami pun membuka dapur darurat di dalam kapal guna menekan biaya pengeluaran. Di Ferry, harga makanan akan meningkat 100% karena menang tidak ada penjual lain selain kantin satu-satunya yang dikelola oleh swasta atas izin perusahaan.Kapal Ferry ini berjalan sangat lambat sekali, ini terbukti bahwa 20 jam perjalanan tidak ditepati. Total perjalanan kami saat itu menjadi 22 jam untuk tiba di Pelabuhan Kalabahi Alor. Kami tidak bisa protes, yang penting sampai dengan selamat sudah merupakan anugrah bagi kami.

Sampai di Alor, kami langsung mencari makan siang, sambil menghubungi beberapa rekan untuk menanyakan tempat penyewaan tenda dan alat-alat camping lainnya. Senang sekali rasanya karena hampir semua teman yang berada di Alor mau membantu keperluan kami. Ohya, saat makan kami bertemu dan berkenalan dengan Bang Marga, dan itulah hari pertama kami bertemu sampai pada akhirnya kamipun melakukan petualangan bersama selama di Pulau Alor. Semua peralatan camping sudah kami dapatkan, tinggal mengambilnya saja di rumah yang bersangkutan, namun sayang, Bang Marga tidak bisa ikut camping malam itu, karena ia harus kerja keesokan harinya.

Setelah makan, kami pun meluncur segera ke rumah teman untuk mengambil peralatan yang kami sewa, dan kemudian pergi ke pasar untuk sedikit berbelanja kebutuhan makanan, dan langsung meluncur ke tempat tujuan utama camping, Sebanjar. Sampai di Sebanjar sudah terlalu sore. Penjaga kawasan resort tempat dimana kami akan membuka tenda tidak menjawab setiap telepon kami. Kami bermaksud meminta izin terlebih dahulu kepada penjaga sebelum mendirikan tenda. Sambil menunggu adanya jawaban dari penjaga kawasan, kami menyakalan api untuk membakar ikan yang kami bawa, itu karena memang perut kami sudah memanggil untuk diisi makan malam. Fajar dengan sigap menyalakan api, layaknya seorang survival, kami menggunakan peralatan apaadanya takkala menyalakan api dan membakar ikan. Untung ada pisau lipat kecil yang selalu saya bawa untuk memotong bambu yang kami ubah menjadi tusukan ikan. 3 ekor ikan pun kami habiskan dengan sekejap, tak peduli apakah sudah matang sempurna atau belum. Di saat akan menghabiskan ikan ketiga, penjaga kawasan datang dengan sepeda motornya, dan kami pun diizinkan untuk mendirikan tenda tepat di depan pantai.

 

santai di dalam tenda

Sambil berbincang, kamipun menikmati udara pantai sebanjar yang saat itu sama sekali tidak ada angin yang berhembus. Indomie menjadi sajian kami berikutnya karena 3 ekor ikan bakar dirasa masih kurang mengganjal perut yang masih terasa kosong. Hammock menjadi tempat santai paling nyaman saat itu. Walaupun panas, namun angin kecil tetep terasa sejuk saat berayun diatas hammock. Jam menunjukan pukul 22.00 dan kamipun sepakat untuk masuk tenda, tidur.
Ayam berkokok tepat pukul 04.00, namun menarik sleeping bag lebih bermanfaat daripada harus terbangun dari mimpi indah saat itu. Tak seorang pun dari kami yang terbangun sesuai dengan rencana mencari sunrise. Kami akhirnya dibangunkan oleh sinar matahari yang masuk ke tenda yang membuat tenda menjadi panas layaknya sebuah oven. Mandi bukan pilihan, karena kami langsung mengambil peralatan snorkling dan berlari kecil ke tepian pantai untuk berenang dan melihat indahnya terumbu karang pantai sebanjar. Disini, arus laut sangat kencang, jadi disarankan untuk melakukan snorkling sebelum jam 10.00 atau 11.00, karena dijam-jam tersebut arus laut mulai membesar. Benar saja, mendekati jam 10.00 kami memutuskan untuk kembali ke darat setelah puas melihat gerombolan dan warna-warninya ikan yang sedang mencari makan. Kami memutuskan kembali ke darat karena arus laut mulai membesar dan menyeret kami jauh ke tengah laut, dan itu cukup berbahaya. Namun namanya juga keindahan, rasa puas kami selalu kurang, sehingga akhirnya sekitar jam 14.00 kami kembali berenang untuk melihat cantiknya ikan dan terumbu karang tersebut.

 

peralatan santai

Menikmati pemandangan Pulau Alor, baik darat dan lautnya memang tidak akan pernah mencapai kata puas. Ini kami rasakan sendiri karena pada akhirnya kami memutuskan untuk membuka tenda selama 2 hari, sebelumnya kami hanya berencana membuka tenda 1 hari saja.Kami rela menunda dahulu destinasi lain yang kami rencanakan hanya untuk menikmati satu destinasi sampai dirasa puas. Salah satu teman tidak bisa berlama-lama di Alor, karena harus kembali ke tempat kerjanya yang menurut saya tidak kalah indahnya dengan Pulau Alor. See u soon bro.

Sekedar informasi biaya transportasi Kupang – Rote – Alor :

Kupang – Rote : kapal cepat Bahari Express : Rp 160000

Kupang – Rote : Wings Air : Rp 175000 (fluktuative)

Kupang – Alor : Kapal Ferry : Rp 137000 (bisnis)

Kupang – Alor : Wings Air : Rp 550000 (fluktuative)

Sewa motor di Alor : Rp 100000 permotor perhari (tergantung nego dan persahabatan)

Angkutan carter di Kupang : Rp 100000 sekali antar (tergantung nego dan persahabatan)

Sewa motor di Rote : Rp 80000 permotor perhari (tergantung nego dan persahabatan)
Pagi hari di rumah Ibu Pendeta Kahilin – 09 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s