Penyu malang, Penyu Lezat

Berjalan menuruni anak tangga di Desa Kahilin ini benar-benar memerlukan kehati-hatian yang sangat extra. Bukan karena banyaknya anak tangga, melainkan karena hampir setiap anak tangga sudah dipenuhi oleh pasir halus sehingga sangat licin ditelapak sandal. Salah-salah injak kita bisa terpeleset dan terjatuh dari ketinggian 190 meter dari atas permukaan laut. Desa ini berada di atas tanjung karang besar dan sangat tinggi. Untuk sampai ke pemukiman warga, haruslah menaiki anak tangga yang sangat tinggi dan curam. Siang hari itu saya turun ke bawah, untuk sekedar mencari angin siang. Suhu panas di perkampungan membuat saya mengeluarkan banyak keringat. Pantai menjadi tempat paling sejuk saat itu, dan itu mengapa meskipun siang bolong sayapun berjalan menuju pantai.

Seorang kawan, mengajak saya untuk pergi ke laut menangkap ikan. Saya tidak pikir dua kali dan langsung mengiyakan sambil melepas pakaian dan menaruhnya disebuah tiang bekas sebuah penahan bangunan. Kamipun bergegas menurunkan sebuah sampan kecil yang terparkir bebas di pantai. Tidak tahu kepunyaan siapa sampan itu, yang jelas kami bisa memakainya dengan suka hati apabila tidak ada yang menggunakannya. Jaring dan dayung sudah siap, dan siang itupun kami berlayar ke tengah lautan untuk menangkap ikan.

tangga terjal menuju desa

Meskipun gelombang laut saat itu terbilang tenang, namun arus laut di dalamnya sangatlah kuat. Berenang menghadang arus bukan hal yang gampang dilakukan. Begitu masuk air, tubuh ini langsung terseret arus dan harus berjuang untuk kembali ke sampan. Pemandangan bawah laut Desa Kahilin tidak kalah indah dengan Alor. Namun karang-karang di desa ini banyak yang sudah patah karena banyak terinjak dan terhempas jangkar perahu masyarakat. Namun, itu hanya dibagian yang memang dekat dengan pelabuhan. Di laut tengahnya, karang-karang laut masih perawan dan masih indah untuk dilihat. Sayang, saya tidak sempat mengabadikannya karena saya tidak membawa kamera saat itu.

Dirasa tangkapan cukup, kamipun langsung kembali ke daratan. Setelah melipat jaring dan mengggantungnya disebuah pohon besar, kamipun langsung menikmati ikan tersebut dengan cara membakarnya. Sungguh lezat sajian cemilan sore hari itu.

Selagi makan, ada beberapa sampan yang juga merapat ke bibir pantai. Dewasa dan anak-anak turun dari sampan sambil membawa hasil tangkapan mereka. Namun ada yang membuat saya kaget saat melihat hasil tangkapan yang mereka angkat secara bersamaan. Mereka mengangkat 2 buah karung yang berlumur darah segar. Seorang anak yang sedang bermain di pantai dengan spontan berteriak : “penyu, penyu, penyu”. Sontak sayapun langsung berdiri dan meninggalkan ikan bakar saya. Seolah tidak mau kehilangan moment, saya langsung mengeluarkan kamera dan memfoto seorang anak yang menggendong penyu dibahunya. Kasian betul nasib penyu itu, karena sudah terkulai lemas dan akhirnya mati saat perjalanan menuju daratan.

penyu malang

Di pulau kecil seperti ini, menangkap penyu seakan menjadi sebuah rejeki yang tidak boleh ditolak. Bukan tanpa alasan, bagi mereka seekor penyu bisa memberikan tambahan penghasilan yang bisa mereka manfaatkan untuk membeli kebutuhan pokok. Meskipun banyak sapi dan kambing berkeliaran, namun memotong sapi atau kambing hanya membuang-buang banyak uang dan hasilnya tidak bisa di jual ke masyarakat, ataupun dibekukan disebuah lemari es. Daging penyu ini berbeda. Masyarakat di desa ini rela mengeluarkan uang untuk membelinya. Bahkan belum dipotong saja sudah banyak yang mengantri untuk mendapatkannya. Harga satu piring mentah mereka jual Rp 20.000, dan menurut mereka, seekor penyu tersebut bisa menghasilkan sebanyak 20 sampai 30 piring daging, yang berarti mereka akan mendapatkan kurang lebih penghasilan sebesar Rp 600.000. Uang yang lumayan besar untuk penghasilan satu hari. Menangkap penyu di desa ini tidaklah mudah. Sebetulnya mereka tidak pernah mempunyai niat untuk menangkapnya. Penyu yang mereka dapatkan itu berasal dari penyu yang secara tidak sengaja masuk ke jaring tangkap yang mereka tebar di laut. Dan kurangnya pengetahuan mengenai penyu lah yang membuat mereka seakan mendapatkan rejeki melimpah takkala secara tidak sengaja menangkapnya. Sayapun sedikit sedih menlihatnya, namun saya tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Kebutuhan hidup yang menjadikan mereka begitu senang saat mengetahui bahwa jaring yang ditebarnya menangkap seekor penyu.

bersama penangkap penyu

Si anak yang membawa penyu tersebutpun hilang dengan sekejap setelah berpamitan pergi menuju rumahnya. Dan tanpa disangka-sangka, malam harinya saat saya pulang ke rumah pasturi, ipen menyuruh saya makan dan berkata : “itu ada daging penyu mas, mas makan kan?”.

Pulau Wetar – Desa Kahilin – 16 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s