Eksotisme Pulau Perbatasan : Liran

Mendengar kata pulau perbatasan pastilah yang ada dibayangan adalah sebuah pulau yang memikili penjagaan yang ketat. Banyak tentara-tentara ataupun polisi perbatasan yang selalu siaga 24 jam penuh. Kata perbatasan begitu menakutkan untuk didengar. Namun tidak dengan Pulau Liran. Pulau kecil diperbatasan Indonesia danTimor Leste ini jauh dari kata menakutkan. Tidak banyak penjagaan dari Tentara tentara ataupun polisi-polisi perbatasan yang terkesan menakutkan.

 

tugu perbatasan

Mengunjungi Pulau Liran ini gampang-gampang susah. Mengapa, karena akses transportasi yang ada sangatlah terbatas. Hanya ada sekitar 3-4 kapal yang singgah di pulau kecil ini. Itupun adalah kapal perintis dan kapal barang lintas pulau di Indonesia. Pulau Liran hanya berukuran kurang lebih 14 km persegi. Hanya ada 2 desa disana. Pulau Liran sebenarnya masuk ke dalam daerah administratif pemerintahan Wetar Barat, namun letak pulaunya terpisah dari Pulau Wetar, maka pulau ini lebih terkenal dengan sebutan Pulau Liran saja. Ibu kota kecamatannya berada di desa Ustutun. Pulau yang belum memiliki pelabuhan ini memiliki keindahan alam yang sangat menakjubkan.

Ada 2 jalur untuk sampai di pulau ini. Pertama, dengan melaui Kupang, dan yang kedua dengan melalui jalur Ambon. Akan tetapi, jalur Kupang lebih banyak digunakan karena memang waktu tempuhnya yang sedikit cukup singkat. Pulau Liran juga merupakan pulau perbatasan dengan RDTL (Republik Demokratis Timor Leste) yang jaraknya tidak begitu jauh. Menurut warga sekitar, untuk menuju RDTL, hanya diperlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan kapal-kapal kecil atau jolor.

Setelah KM Sabuk Nusantara 43 yang membawa saya berlabuh di lautan, sayapun dijemput dengan kapal jolor untuk sampai daratan. Sebetulnya di pulau ini sudah ada dermaga, namun karena kesalahan kontruksi, dermaga ini harus kembali dikeruk karena apabila air surut demaga tersebut ikut surut. Meti, begitu masyarakat sekitar menyebutnya. Jika meti sedang kering, maka jarak daratan dan lautan akan sangat jauh sekali. Karang kering tepi pantai di Pulau ini sangat panjang sehingga tidak memungkinkan kapal besar bisa berlabuh didekat pantai apabila sedang terjadi meti.

 

pantai ujung barat pulau liran

Pulau Liran memiliki tugu perbatasan yang dibangun di sebuah bukit tepat di ujung barat pulaunya. Tugu ini berada di Dusun Manoha, yang berjarak sekitar 15 menit dari pusat kecamatannya yaitu Desa Ustutun. Pemandangan di Bukit perbatasan ini sangatlah indah. Karena kita bisa melihat secara langsung daratan RDTL dan juga Pulau Kambing yang sudah terpisah dari NKRI ini. Bangunan pos pengawasan dan marcusuar yang ada nampak sudah sangat tua, marcusuar ini dibangun beberapa saat setelah RDTL resmi berdiri. Pantai pasir putihnya begitu tenang saat musim timur berlangsung, namun akan bergejolak saat musim barat datang. Terumbu karangnya begitu alami, belum banyak terumbu karang yang rusak. Rumput laut liar tumbuh subur di pulau ini. Masyarakat tidak mengambilnya karena rumput laut liar dianggap tidak bernilai untuk dijual. Berbicara soal ikan sudah jangan ditanyakan lagi. Karena keberadaan ikan disini sangatlah melimpah. Ikan layang atau momar sampai dugong biasa dijumpai di perairan dangkal pulau ini. Sesekali saya disambut oleh lumba-lumba saat akan merapat ke pantai setalah turun dari Kapal Motor. Sunset terlihat sangat indah. Meskipun hari itu awan menutupi bundarnya matahari, namun dua buah batu besar di ujung pantai berhasil memberikan nuansa eksotis pulau ini. Ohya, berbicara mengenai batu besar di ujung pantai, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, disana ada seorang wanita belanda cantik denga gaun putih dan berambut panjang yang selalu duduk terdiam di celah sempit batu. Entah sedang menunggu apa, yang pasti masyarakat sekitar berpesan untuk tidak mengganggunya. Apabila kita bertemu, alangkah lebih baik untuk tidak mengatakannya kepada siapapun karena bila itu dilakukan, maka sesaat setelah itu kita akan langsung sakit demam. Saya sendiri hanya mengagguk dan sedikit terkaget, karena merekapun bilang bahwa biasanya nona tersebut akan muncul pada saat matahari tenggelam.

 

pantai eksotis

Rasanya 5 hari mengunjungi Pulau Liran begitu singkat. Saya belum sempat berkunjung ke 3 pulau kecil lainnya yang masih berada sekitar Liran. Lain waktu, saya pasti akan kembali ke pulau ini untuk melanjutkan petualangan yang masih belum selesai. Sampai jumpa kembali Pulau Liran.

Info transportasi dan akomodasi :

Kapal Motor Perintis Kupang – Liran : 60.000 – 80.000

Jolor pengangkut dari Kapal Motor : 50.000

Kapal Motor Perintis Ambon – Liran : 300.000

Kapal Motor Perintis Saumlaki – Liran : 150.000

Kapal Barang Perintis Kalabahi – Liran : 60.000

Belum ada penginapan di Pulau Liran, namun warga sekitar umumnya senang akan kehadiran kita, dan dengan senang hati pula jika rumahnya dijadikan tempat kita menginap.

Pulau liran – 20 November 2015

Advertisements

One thought on “Eksotisme Pulau Perbatasan : Liran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s