Surga tersembunyi di kawasan margasatwa

Berbicara keindahan alam Indonesia memang tidak akan pernah ada habisnya. Lokasi-lokasi indah nan tersembunyi masih menjadi sebuah fakta bahwa masih banyak destinasi indah di negara ini yang masih belum diexplorasi bahkan belum dikembangkan menjadi suatu lokasi pariwisata. Bagi saya sendiri, tempat-tempat tersembunyi itu bagaikan surga yang ada di dunia. Sangat sulit menemukan tempat yang indah apalagi yang masih belum terjamah banyak tangan manusia di dalamnya. Tidak banyak tempat indah di tanah kelahiran saya yang masih perawan. Namun bagi masyarakat di sini, di Pulau Rote, tempat-tempat indah itu merupakan hal yang biasa saja yanh bisa mereka lihat setiap hari, bahkan setiap saat.

Pagi itu, seorang kawan mangajak saya untuk melihat lokasi pembangunan PLTS di sebuah desa kecil di barat Pulau Rote. Dia mengajak saya untuk melihat progress pembangunan yang sudah ia tinggalkan selama 3 bulan karena ia dipindahkan ke lokasi lain di pulau yang berbeda. Bukan tanpa alasan kami ke lokasi pembangunan ini. Selain melihat progress, kami juga melakukan sebuah aksi kecil berbagi buku bacaan untuk sekolah dasar yang letaknya tidak jauh dari lokasi pembangunan PLTS. Buku untuk dibagikan sudah siap, peralatan tempur pun sudah siap, dan pagi itupun setelah sarapan mie instant, kami langsung meluncur menggunakan sepeda motor.

 

hidden paradise

Perjalanan cukup jauh juga. Hampir 3 jam barulah kami sampai di lokasi pembagian buku bacaan, yang berarti lokasi pembangunan PLTS pun tidak jauh dari tempat itu. Perjalanan kami diwarnai dengan keindahan panorama alam khas NTT yang umumnya kering kerontang. Padang savana tandus berwarna coklat, jerami jerami kering dan debu yang saling berterbangan, serta cuaca panas tidak menyurutkan semangat kami untuk mengunjungi lokasi. Banyak gerombolan sapi dan kerbau yang sedang mencari pakan. Jalanan di pulau ini tidak seramai Pulau Jawa. Masih sepi, sunyi, bahkan tidak banyak bengkel tambal ban sehingga kami harus hati-hati saat berkendara. Bisa kacau jika ban motor kami tiba-tiba meletus karena cuaca jalan yang sangat panas. Kendaraan yang lalu lalang pun masih sangat sedikit, bahkan bisa dihitung oleh jari tangan. Sehingga tidak heran jika saat itu jalanan berasa milik pribadi saja.

Lagi-lagi kami dikira “alien” oleh murid-murid sekolah dasar tempat kami akan berbagi buku bacaan. Mereka melihat kami secara keroyokan. Keadaan seketika menjadi ramai dengan sekumpulan anak-anak SD yang mengamati kami saat pertama masuk ke gerbang sekolah. Lucunya, saat kami bertanya siswa-siswa tersebut akan langsung menghindar dari pertanyaan kami. Bila perlu mereka akan berlari berhamburan untuk menghindar, dan akan berkumpul lagi saat kami berhenti bertanya. Melihat kejadian ini, spontan seorang bapak guru langsung menghampiri kami dan bertanya maksud kedatangan kami. Dan setelah menjelaskan, akhirnya kami disambut dengan gembira baik oleh siswa ataupun oleh staff guru yang bertugas saat itu. Selesai membagikan buku, kami lalu menuju lokasi pembangunan PLTS, walau sebelumnya kami mampir sejenak ke rumah kepala urusan desa yang sudah akrab dengan teman saya itu. Memantau dan mengumpulkan sedikit data dan informasi terkait PLTS pun segera kami lakukan, dan kemudian teman kami mengajak kami untuk melihat sebuah pantai didekatnya.

 

siswi lokal rote

Laju sepeda motor tidak bisa cepat saat itu, karena jalanan pasir dan berbatu sangat menyulitkan kami dalam berkendara. Kamipun tiba disebuah pantai yang tidak jelas namanya itu. Yang pasti masyarakat sekitar menyebut pantai ini adalah Gerbang Mulut Seribu. Nama tersebut diambil karena memang dari pantai ini kita bisa melihat pintu masuk mulut seribu yang merupakan labirin-labirin pantai yang terbentuk secara alami oleh kikisan air lautnya. Kita tidak mengeksplorasinya, karena perlu perahu dan guide lokal, jika tidak kita akan tersesat dil labirin-labirin tersebut. Oleh karena itu, kami hanya berfoto ria di depan pantai yang banyak ditanami rumput laut tersebut.

Puas dengan pemandangan Gerbang Mulut Seribu, kami diajak untuk mengunjungi rumah bapak kepala desa untuk sekedar mampir dan berbincang. Tidak lama kami disana dan setelah pamit teman kami mengajak untuk melihat satu lagi pantai yang ada di desa tersebut. Awalnya kami menolak, karena selain hari sudah siang, kamipun akan pergi melanjutkan perjalanan ke lokasi lain yang ada di pulau ini. Namun akhirnya kami penasaran dengan pantai tersebut, dan benar saja, kami akan sangat menyesal jika tidak mengunjungi pantai margasatwa ini. Inilah pantai tersembunyi yang samgat indah tersebut. Lokasi margasatwa yang dilindungi oleh undang-undang ini akan membuat siapapun yang datang langsung jatuh hati. Suasana yang tenang, air laut yang tenang pula, ditambah kicauan burung yang saling memanggil satu sama lain membuat lokasi ini benar-benar rilex, benar-benar damai. Dari atas kita bisa melihat dengan jelas dasar lautannya. Bebatuan dengan banyak ikan berenang benar-benar memanjakan mata yang melihat. Ornamen perahu kecil di atas air jernih berwarna hijau tosca itu semakin menambah keindahannya. Tempat ini sangat cocok bagi siapa saja yang ingin berdiam diri menghilangkan stress akan rutinitas. Yang disayangkan adalah belum adanya trasnportasi umum yang bisa mengantarkan kita ke lokasi ini.

 

pesona margasatwa

Puas berfoto dan mengabadikan moment di Pantai Margasatwa tersebut, kamipun meluncur kembali ke daerah perkotaan untuk mencari makan siang. Nasi Padang khas NTT menjadi sajian makan siang kami.

Informasi transportasi

Sewa motor : Rp 80000 perhari/permotor (tergantung negosiasi dan persahabatan)

Bensin : Rp 7600 (di Pom Bensin)

Bensin eceran : Rp 8000 – Rp 10000 (tergantung lokasi, semakin jauh dari kota semakin mahal)

Sewa Mobil : Rp 400000 perhari (sangat tidak disarankan, jalanan masih sangat rusak)
Rumah Pasturi Desa Kahilin – 10 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s