Dilema keindahan pulau kecil terluar Indonesia

Siapa yang tidak mengenal Indonesia? Negara Kesatuan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau yang merupakan negara yang memiliki garis pantai terpanjang di Dunia, yang sampai sekarang masih masuk dalam katagori negara berkembang. Sampai kapan negara ini akan terus berkembang? Itulah pertanyaan yang sampai sekarang juga masih belum bisa terjawab. Korupsi yang terus meraja rela seakan menjadi polemik di pusat negara, jakarta. Namun sekarang saya akan mengajak para pembaca untuk tidak melihat jakarta dengan berbagai masalahnya. Saya akan mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat pulau-pulau kecil terluar di Indonesia yang sampai sekarang mungkin masih belum dilirik oleh orang-orang di Jakarta. Selain Bali, kekayaan panorama Indonesia memang sudah diakui secara internasional di seluruh dunia. Memang, sampai sekarang Bali tetap menjadi magnet wisatawan mancanegara untuk singgah dan berwisata karena kemudahan dalam hal transportasinya. Banyak penerbangan langsung dari berbagai belahan dunia menuju Bali, sehingga tak heran jika sampai sekarang Bali masih menjadi primadona pariwisata bagi turis mancanegara. Sedikit bergeser ke timur dari Bali, kita akan berkenalan dengan Pulau Lombok. Pesona Lombok pun tak kalah “pedas” dengan Bali. Sebut saja Gunung Rinjani, gunung api tertinggi kedua di Indonesia ini memberikan kesan keindahan dan petualangan yang sangat menantang bagi semua pengunjungnya. Keindahan danau Sagara Anakan yang merupakan jantung dari Gunung Rinjani mampu menarik banyak wisatawan macanegara rela berjalan berjam-jam menasuki hutan dan tanjakan terjal hanya untuk sebuah pengalaman. Belum lagi indahnya sunrise di Puncak Gunung setinggi 3726 meter diatas permukaan lautnya. Selain gunung, keindahan pantai di Lombok pun tidak kalah indah dengan Bali. Keindahan pulau kecil Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili – Gili lainnya selalu sukses membuat wisatawan baik asinh ataupun lokal untuk datang berkali-kali. Belum lagi pantai di Timur atau di Lombok Tengah yang banyak digunakan wisatawan mancanegara sebagai tempat pengganti Bali untuk surfing. Ombaknya tidak kalah dengan Bali yang semakin lama semakin padat oleh wisatawan.

 

pantai luketi – pulau moa

Semakin ke timur dari lombok, mungkin Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur masih menjadi magnet pariwisata Indonesia. Pulau dengan binatang endemiknya ini mampu melejitkan gaung Nusa Tenggara Timur yang indentik dengan kekeringan dan kemiskinan. Namun tetap saja, biaya untuk menuju Pulau ini tidak semurah pergi ke Bali. Penerbangan yang ada belum ramai seperti halnya penerbangan ke Bali atau Lombok. Pelayaran menggunakan Kapal Ferry cukup memakan waktu banyak. Akses laut melalui LOB (Life On Board) merupakan jalan terbaik untuk bisa menikmati keindahan di Pulau Nusa Tenggara Ini. Keindahan laut dengan panorama terumbu karangnya yang yang masih menggoda ini memberikan sebuah pengalaman baru bagi wisatawan yang datang. Selain Pulau Komodo, NTT juga masih memiliki sejuta destinasi wisata alam yang menakjubkan. Sebut saja Danau Kelimutu, Gunung Tambora, Pulau Alor, dan bahkan Nusa Tenggara Timur ini memiliki Pulau terluar paling selatan di NKRI, Pulau Rote. Miris memang melihat kenyataan bahwa pulau-pulau dengan keindahan panorama alam tersebut masih saja diselimuti dengan kemiskinan masyarakatnya. Indahnya Pantai Nemberala di Rote, Pantai Maimol di Alor, dan Pantai lainnya di NTT masih belum mampu menjadi daya tarik wisatawan, terutama wisatawan lokal. Memang, saat mengunjungi tempat-tempat tersebut saya lebih banyak bertemu dengan turis asing daripada turis lokal. Sedihnya lagi, banyak turis asing yang kemudian menetap lama sampai membangun beberapa villa di sepanjang bibir pantai yang keindahannya tidak bisa lagi disebutkan dengan kata-kata. Masyarakat disekitarnya hanya bisa menjadi penonton saja takkala turis-turis asing itu membangun kerajaan bisnisnya di sektor pariwisata. Pergi berwisata ke pulau terluar Indonesia tidak sama dengan berwisata ke negara tetangga Indonesia. Perbandingan ongkos transportasi dan waktu berkunjung menjadi kendala yang sampai saat ini masih menggangu. Sebut saja Pulau Alor, untuk mengunjunginya diperkirakan memerlukan biaya yang mencapai Rp. 3.4 juta rupiah dari Jakarta. Biaya itu hanya biaya tiket pesawat pulang-pergi dan menggunakan tiket promo yang ditawarkan oleh maskapai. Apa yang bisa didapat dengan uang yang sama jika kita mengunjungi Singapura? 3.4 juta rupiah bisa membayar harga tiket Jakarta – Singapura, plus biaya penginapan dan mungkin biaya makan selama 3 hari disana. Miris menang, disaat Negara Tetangga mulai mengekspos pariwisata sebagai penghasil devisa tertinggi, Indonesia masih saja belum bisa memaksimalkan atau minimal memberikan harga trasnportasi yang murah untuk menjangkau pulau-pulau kecil yang sangat luar biasa untuk dijual ke wisatawan. Memang, peran pemerintah daerah untuk membuka akses transportasi murah sudah dilakukan, namun murah bukan berarti mengesampingkan aspek kenyamanan dan keamanan. Lihat saja bagaimana “nyaman dan aman”nya kapal perintis. Memang, harga sekali berlayar menggunakan kapal perintis cukup terjangkau, namun apa layak manusia tidur bersebelahan dengan babi saat berlayar?

 

pantai barat – pulau liran

Masih banyak pulau-pulau di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk pariwisata. Baik wisata lokal ataupun wisata dunia. Bahkan beberapa pulau tersebut masih belum diekspos sama sekali. Masih belum terjamah manusia. Masih belum terjamah teknologi. Bahkan bisa dibilang masih rimba dan masih belum berpenghuni. Potensi sumber daya alamnya pun saya kira mampu membuat negara ini terlepas dari bantuan modal asing. Potensi-potensi yang ada masih belum dimaksimalkan oleh pemerintah baik daerah ataupun pusat. Pemerataan ekonomi masih dirasa sulit dilakukan. Pemerataan pembangunan apalagi. Semua keputusan yang dibuat di tanah Jawa masih selalu bertolak belakang dengan keadaan dilapangan. Daerah terpencil dan terbelakang masih tidak terpengaruh dengan keputusan-keputusan yang banyak menimbulkam domonstrasi besar di Jakarta. Bisa hidup dan menikmati kehidupan saja dirasa sudah menjadi anugrah terindah bagi masyarakat di pulau-pulau terkecil yang sudah terbiasa akan keindahan alam tersebut.

 

dermaga kaiwatu – pulau moa

Semoga kedepan, pemerintah daerah ataupun pusat bisa terjun ke lapangan langsung untuk melihat bagaimana potensi dan keindahan yang dimiliki pulau-pulau kecil ini mampu ditawarkan dan kemudian dikembangkan menjadi sebuah potensi yang bisa membantu perekonomian masyarakat lokal. Semoga.

Sebagai perbandingan biaya transportasi Pulau Alor dan Singapura :

Jakarta – Kupang – Alor (PP) : Rp 3.400.000 (Lion Air – Wings Air)

Jakarta – Singapura (PP) : Rp 700.000 (Air Asia)

Jakarta – Bali (PP) : Rp 800.000 (Air Asia atau Lion Air)

Bali – Kupang (PP) : Rp 2.800.000 (Lion air atau Garuda Indonesia)

Kupang – Alor (PP) : Rp 1.100.000 (Wings Air)

Jakarta – Kupang (PP) : Rp 2.900.000 (Lion Air)

Rumah Pasturi Pulau Wetar Desa Kahilin – 09 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s