Ling’al, eksotisme dibalik kesederhanaan

Pagi itu mentari sudah memancarkan sinarnya. Masyarakat kota sudah mulai beraktivitas sesuai dengan profesinya masing-masing. Pak guru sudah siap mengajar murid-murid sekolah yang ramai beriringan berjalan disamping-samping trotoar jalan. Para pegawai bank sudah siap bekerja lengkap dengan kemeja rapi berdasi warna-warni. Pengendara motor seolah saling berebut penumpang dengan pengendara ojeg. Di kota ini, masyarakat yang mempunyai motor sering kali beralih profesi sebagai tukang ojeg dadakan. Para kenek angkot sudah kompak dengan supirnya berteriak memanggil para penumpang yang hendak menggunakan jasanya.

Saya, pagi itu bangun tepat waktu. Itu dikarenakan saya sudah memiliki janji dengan teman saya untuk melakukan perjalanan ke pantai cantik nan eksotis di Pulau Alor. Pantai Ling’al, begitulah semua masyarakat menyebutnya. Saya bergegas mandi dan mempersiapkan semua peralatan karena rencananya saya akan camping bermalam di pantai tersebut. Drybag pun terisi beberapa pakaian dan tidak lupa masker beserta snorkle untuk berenang di pantai. Hari itu saya tidak membawa sleeping bag, karena pengalaman malam sebelumnya, saat camping di daerah sebanjar, saya merasakan panas yang berlebihan karena tidak adanya angin yang datang saat malam tiba. Flannel pun saya rasa cukup untuk menghangatkan tubuh dikala malam datang.

 

ojek perahu

Kami pergi menuju pelabuhan Alor Kecil, sebuah pelabuhan kecil tempat beberapa ojeg perahu singgah dan mengantarkan penumpangnya ke berbagai tujuan pulau-pulau kecil di sekitar Alor. Ada trayek ke Pulau Pantar, ke Pulau Buaya, ataupun ke Pulau Tepa. Tapi ojek-ojek perahu tersebut juga bisa disewa untuk mengantarkan penumpang ke lokasi tujuan yang diinginkan. Kami harus menunggu lama ojek perahu sewaan saat itu. Janji berangkat jam 09.00 WITA harus mundur sampai dengan waktu kedatangan sang ojek perahu. Kami menunggu dengan sabar karena memang Pantai Ling’Al sudah ada dibayangan indah kami.

Ojek perahu datang pukul 11.00, dan tanpa menunda waktu, kami pun langsung memasukan semua peralatan dan berlayar menuju lokasi tujuan. Perjalanan menuju Pantai Ling’Al ditempuh dengan waktu kurang lebih 2 jam, tergantung dari arus laut dan speed perahu saat itu. Waktu 2 jam tidak begitu lama, karena disepanjang perjalanan pemandangan yang disajikan sangat indah dan nyaris membuat mata untuk terbuka selalu seakan tidak rela untuk kehilangan sedikit pun detail pemandangan alam saat itu. Pulau Ternate, Pulau Treweng, Gunung Sirung di Pulau Pantar, dan juga hijaunya laut yang masih bersih, serta samar-samar terumbu karang di bawah perahu yang masih bagus. Sayapun naik ke atas perahu karena memang tidak ingin melewatkan keindahan pemandangan tersebut.

 

masyatakat yang arif

2 jam selesai, perahu merapat ke bibir pantai, karena memang tidak ada pelabuhan di sana. Pantai berpasir putih itu masih sangat bersih. Tidak ada sampah sedikitpun. Paduan warna air lautnya membuat siappun yang datang pasti terpesona. Pasir putih, hijau toska perairan dangkal, biru pekat perairan dalam seakan memiliki bagiannya masing-masing yang sangat kontras. Pantai ini adalah pantai berpasir, tidak ada karang disepanjang pantainya. Cocok sekali untuk berenang santai, karena ombak dan arus laut lumayan cukup tenang. Di atas pantai, bukit berbatu yang gagah seakan menjadi penjaga keindahan pantai ini. Di Pantai Ling’al, pengunjung akan dilayani bagaikan raja. Hanya ada 11 kepala keluarga di desa ini. Dengan total penduduk yang hanya 60 orang. Jadi jangan heran apabila penduduk akan mendatangi pengunjung yang datang untuk bisa bercengkrama bersama.

Di Pantai yang indah ini, masyarakat desanya masih jauh dari kata makmur dan sejahtera. Belum ada penerangan masuk ke desa ini. Air bersih pun bisa dibilang sangat sulit, karena desa ini hanya memiliki satubuah sumur sedalam 15 meter yang akan kering pada saat musim kemarau berkepanjangan tiba. Bantuan-bantuan seperti bak tadah air hujan sama sekali belum membantu masyarakat dalam hal air bersih. Bak-bak tersebut lebih sering kering karena memang curah hujan di daerah tersebut cukup sedikit. Mata pencaharian warga di desa itu tidak jelas. Meraka hanya makan apa saja makanan yang diberikan atau disediakan oleh alam. Jagung, ikan, singkong, ubi, kerang laut merupakan menu andalan masyarakat disana. Makanan khas daerah NTT, jagung bose akan mereka sajikan apabila kita datang ke sana dan mengunjungi perkampungan. Kemiskinan tidak membuat mereka selalu mengemis akan uang. Mereka tetap akan berusaha menjamu semaksimal mungkil para pengunjung yang mampir ke perkampungan mereka.
Sedikit pesan buat para pelancong yang ingin berkunjung ke pantai ini, sebisa mungkin datang mengunjungi perkampungan sebelum menikmati keindahan pantai, janganlah membuang sampah sekecil apapun, karena masyarakat desa sendiripun sangat menjaga pantai dari sampah. Bawalah sumbangan secukupnya seperti baju, buku, ataupun peralatan sekolah anak-anak SD karena meskipun mereka tidak meminta, tapi mereka sangat membutuhkan itu. Jangan takut dengan penduduk lokal disana, meskipun penampilannya yang sangar dan kotor, tapi mereka sangat ramah dan enak untuk diajak bercengkrama.

 

pantai oke!!

Pantai Ling’al, dengan keindahan yang dimilikinya, seharusnya bisa membuat masyarakat sekitar jauh dari kata miskin. Pembangunan dan promosi pariwisata serta akses penunjangnya seakan masih menjadi kendala bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi yang ada. Saya sendiri bersyukur pernah mengunjungi pantai cantik di pulau terdepan Indonesia ini. Sebenarnya saya tidak ingin terlalu mengekapose keindahan pantai ini, karena takut suatu saat nanti pantai indah ini akan menjadi kotor. Tapi, demi perekonomian masyarakat sekitar, ayo kunjungi pantai ini, pantai indah dengan segala dilematis kehidupannya.

Mengingat Ling’al – 27 Oktober 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s