Apakah mereka sanggup ??

Sore ini, disaat senja mulai tiba, alunan lagu I will fly ciptaan ten2five membuat saya kembali berfikir mengenai sebuah pemanfaatan teknologi mutahir yang dihibahkan pemerintah ke desa-desa kecil di Indonesia. Sebuah pertanyaan kecil hadir tiba-tiba dipikiran saya. Sanggupkah mereka, masyarakat desa yang berpendidikan rendah memaksimalkan hibah tersebut? Sebelum tulisan ini saya buat, saya tidak bermaksud untuk mengucilkan mereka atas pengetahuan apalagi pendidikan, karena berdasarkan pengamatan dan penilaian saya selama berada di lokasi terpencil di Indonesia, saya melihat langsung betapa mirisnya pengetahuan mereka. Saya sendiri sempat berfikir pesimis bahwa bantuan tersebut pasti tidak akan bertahan lama. Bukan tanpa sebab pemikiran itu muncul setelah hampir 5 bulan berada di lokasi terpencil yang membuat saya sedikit mengerti akan tingkat pendidikan sampai pengetahuan mereka. Sekolah yang notabane-nya adalah untuk meningkatkan pengetahuan saja mereka sepelekan. Maksudnya sepele disini adalah belum adanya kemauan ataupun dorongan dari orang tua, apalagi yang sudah umur untuk membuat anak-anaknya pergi bersekolah. Bagi mereka, sekolah tak ubahnya seperti aktivitas buang waktu tapi di dalam kelas. Bagaimana bisa bertambah wawasan dan pengetahuan, jika di sekolah buku pelajaran yang ada sangat minim. Buku pelajaranpun terbilang kadaluarsa dan sudah tidak masuk lagi dalam kurikulum ajaran tahun 2015. Jangankan membaca istilah dalam bahasa inggris, membaca bahasa Indonesia-pun kebanyakan dari mereka tidak mampu. Tingkat buta huruf di desa ini sangat tinggi. Anak kelas 6 masih ada yang belum bisa baca dan tulis.

 

mesin reverse osmosis

Matahari semakin turun dan memerah saat saya berfikir bagaimana mereka bisa mengoprasikan dan menjaga serta merawat bantuan berupa alat desalinasi air laut menjadi air minum siap konsumsi jika mereka saja baru melihat, bahkan baru menyentuh dan baru tahu alat tersebut? Memang, teknisi kala itu memberikan sebuah pelatihan singkat yang digelar selama 3 hari. Tapi apa itu cukup? Apa dalam waktu 3 hari tersebut mereka yang diberikan tanggung jawab mengelola bisa terus menjaganya? Sudah langsung paham dan mengerti? Apakah buku pedoman yang diberikan bisa membuat mereka menjadi langsung pintar dengan alat yang baru mereka lihat itu?

Untuk menjawab pertanyaan saya diatas itu mungkin perlu beberapa pengamatan terlebih dahulu. Sisi positifnya, kelompok pengelola yang ada minimal tahu akan masalah mesin. Memang bukan mesin RO (Reverse Osmosis) tapi minimal mereka mengerti bagaimana cara menjalankan pompa listrik dan sudah paham dengan mesin genset. Tapi apa itu cukup? Dalam pelatihan singkat selama 3 hari itu saya melihat sedikit keraguan. Pertama, karena tidak banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh kelompok pengelola seolah mereka sudah paham dan mengerti. Kedua, saat ditanya oleh teknisi soal menjalankan RO, mereka semua kompak menjawab bisa. Lucunya, saat teknisi membiarkan mereka mengoprasikannya seorang diri, tanpa bantuan, mereka hanya bisa bengong di depan mesin dan bingung dengan apa yang harus dikerjakannya.

Pendampingan kelompok masyarakat yang saya lakukan bukan hanya untuk mengajarkan bagaimana masyarakat, terutama kelompok pengelola bisa dan paham dalam menjalankan mesin RO, tetapi lebih ke bagaimana masyarakat bisa merubah pemikiran mereka akan pengetahuan. Bagaimana mereka bisa melihat potensi potensi yang mereka miliki, tidak melulu soal mesin RO, walaupun misi utamanya adalah membuat pemahaman pada masyarakat akan pentingnya mesin RO. Peran saya di desa ini pun bukan sebagai dewa yang maha tahu, fasilitator juga memiliki keterbatasan dalam hal pengetahuan, namun saya sendiri bersyukur karena masih bisa ikut belajar juga bagaimana cara menjalankan mesin RO, sehingga pada ujungnya disaat teknisi meninggalkan lokasi, kelompok pengelola yang bertanya pada saya masalah mesin RO bisa saya jawab walaupun tidak sedetail teknisi.

 

pelatihan mengenal RO

Menurut saya, program-program peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) lebih penting didahulukan oleh pemerintah, baik pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat. Bukan tanpa sebab, ini karena program-program sejenis inilah yang lebih bermanfaat bagi masyarakat desa, apalagi desa kecil dan tertinggal. Program-program lain seperti pengadaan alat-alat, sarana dan prasarana memang penting juga, akan tetapi alangkah lebihbaik program pengambangan SDM bisa diberikan porsi yang lebih banyak. Banyak sarana dan prasarana yang telah dibuat di desa rusak terbangkalai karena SDM nya yang belum siap, bahkan belum mampu untuk mengelolanya. Masyarakat senang dengan bantuan, mereka tidak bisa menolak adanya bantuan-bantuan yang diberikan oleh pemerintah, namun pemerintah pun harusnya bisa jeli dalam memberikan bantuan. Jangan karena anggaran yang ada harus tersalurkan, membuat pemerintah asal kasih bantuan pada desa-desa kecil yang sebetulnya belum jelas kebutuhan mereka. Hasilnya, bantuan tersebut bukan menjadikan masyarakat lebih produktif, tetapi seolah menjadi beban tambahan bagi masyatakat, karena harus mengelola bantuan yang ada.
Saya hanya bisa berdoa, semoga program pendampingan saya yang sangat singkat ini bisa memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan terutama mampu dalam mengembangkan alat desalinasi tersebut. Saya berharap dan berdoa agar suatu saat nanti, saat saya kembali ke desa tersebut, sudah terjadi perubahan ekonomi yang lebih baik.

Kapal Lintas Bahari Indonesia – 30 Oktober 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s