Tuti, Panasmu menggodaku

Siang itu, saya melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat dimana masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Tuti. Nama yang tidak aneh di tanah jawa, namun menjadi nama yang luar biasa gaungnya di tanah timur ini. Tuti bukanlah seorang wanita jawa apalagi sunda, tapi Tuti adalah sebuah pemandian air panas alami yang sudah beratus-ratus tahun ada di Pulau Alor. Untuk menuju kesana tidaklah sulit. Cukup dengan menyewa sepeda motor, atau dengan mobil pribadi, kita sudah bisa mengunjunginya. Perjalanan dari pusat kota Alor, bisa di tempuh dengan waktu kurang lebih 1.5 jam menggunakan sepeda motor. Tentu akan berbeda jika kita mengunjunginya dengan menggunakan mobil. Perjalanan menuju Tuti tidak berbeda dengan perjalanan penuh tantangan. Jalan yang berliku-liku dan naik turun bukit terbayar dengan indahnya pemandangan disetiap sisinya. Pohon-pohon rindang yang mulai mengering, ditambah dengan guguran daun silih berterbangan dan jatuhan jambu mette membuat pengunjung tidak akan pernah bosan menikmati perjalanan. Belum lagi hamparan lautan luas yang masih bersih nampak jelas disepanjang jalan. Paduan gradasi warna putih pasir, hijau toscanya perairan dangkal, dan birunga perairan dalam membuat mata seolah enggan untuk berpaling muka dari pemandangan itu. Memasuki jalanan berbukit, kita akan disuguhi oleh hijaunya pemandangan sawah yang ditanam oleh warga. Saluran irigasi nampak rapi, membuat petakan-petakan sawah seakan dibentuk sedemikian rupa sehingga sangat enak dipandang. Pohon-pohon kelapa dan pinang berjejer dibeberapa pematang sawah, menambah asesoris pemandangan yang menakjubkan. Jalanan yang sudah diaspal rapi dan masih hitam pekat memberikan informasi bahwa jalanan tersebut masih sangat baru, dan menandakan pembangunan kawasan sudah berjalan dengan baik. Pemandangan begitu unik takkala sepanjang jalan banyak ibu-ibu yang berjalan kaki sambil menggendong bawaan dengan menggunakan kain yang terikat dikepalanya. Ibu-ibu tersebut akan berjalan beriringan seakan ada seseorang yang mengomandoi.

 

jembatan ke tuti

Sampai dipintu gerbang tuti, kita diharuskan membayar retribusi sebagai tiket masuk tempat wisata. Jangan membayangkan loket masuk wisata yang mewah dan beroperatorkan wanita cantik seperti halnya di wahana permainan yang ada di ancol. Sebuah pos jaga sederhana, dengan palang portal sederhana terbuat dari bambu, dan juga lelaki penjaga dengan telanjang dada akan selalu siap melayani pungutan retribusi pada pengunjung yang datang. Tidak ada tiket resmi masuk ke wisata ini, kita hanya harus membayar tanpa mendapatkan selembaran tiket dalam bentuk apapun. Hanya ucapan terima kasih dan ucapan selamat berwisata yang diberikan oleh penjaga di pos tersebut. Selanjutnya, masih ada perjalanan memasuki hutan yang kering. Pohon-pohon hanya menyisakan batang-batangnya saja, dengan rumput ilalang yang juga telah mengering. Jika beruntung, kita bisa melihat burung-burung liar berterbangan kesana kemari dengan menyanyikan kicauan yang sangat merdu. Suasana kering kerongang khas Nusa Tenggara Timur sangat melekat di lokasi wisata ini. Jalanan mulai berbatu, dan hancur. Tetapi jalanan sudah lebar, cukup untuk dimasuki oleh mobil. Penanda bahwa kita sudah sampai di lokasi wisata adalah adanya kendaraan pengunjung yang diparkir disebuah tempat lapang yang sebetulnya merupakan tanah kosong tanpa adanya ilalang. Tidak jelas apakah itu memang diperuntukan untuk lapangan parkir atau bukan, yang jelas para pemilik kendaraan kompak tanpa ada yang memerintah untuk memarkirkan kendaraannya di tempat tersebut. Pengunjung harus berjalan lagi untuk sampai ke pusat wisata Tuti, yaitu berupa kolam pancuran air panas.

 

air mancur panas tuti

Setelah memarkirkan kendaraan, ohya di tempat parkir ini harus waspada terhadap helm bagi pengendara sepeda motor. Sebab, tempat parkir ini tidak ada yang menjaganya, sehingga kehilangan helm adalah hal yang biasa terjadi. Oleh sebab itu, alangkah bijaknya apabila helm dibawa serta pada saat menuju lokasi wisata utama. Yang unik, helm lebih berharga daripada motornya itu sendiri. Helm bisa saja hilang pada saat digantung di motor, walaupun tempat menggantung helmnya sudah sangat aman, namun motor yang tidak terkunci stang malah aman-aman saja dari pencurian. Setelah masuk di tempat parkir kendaraan, pengunjung harus berjalan lagi kurang lebih 500 meter melewati rumput kering dan jembatan kayu yang dibuat secara swadaya oleh masyarakat sekitar. Jembatan itu menghubungkan sungai kecil yang mengalir, namun akan kering pada musim panas seperti sekarang ini. Pancuran air panas akan terlihat setelah melewati jembatan tersebut, dan ada sebuah pondokan menyerupai rumah adat yang terbangun. Rupanya pondokan tersebut adalah tempat istirahat pengunjung yang datang. Dari pondokan itu, pengunjung bisa menikmati indahnya pancuran airpanas dan pelangi yang dibiaskan dari butir-butir air yang terbawa oleh angin.

Pancuran ini ibarat tempat pemandian air panas alami. Banyak pengunjungnyag datang untuk mandi dan menikmati langsung hangatnya Tuti. Namun, ulah tangan jahil tetap saja ada. Banyak pengunjung yang berusaha membendung ulang pancuran dengan meletakan batu-batu dipancuran tersebut. Akibatnya malah merusak pancuran yang sudah terbentuk secara alami tersebut. Hal ini sangatlah disayangkan, karena memang pengawasan taman wisata ini masih belum dikelola dengan baik. Tapi, kunjungan ke Tuti memberikan kesan tersendiri akan keindahan alamnya. Rasanya tidak akan pernah bosan untuk bisa terus berkunjung ke tempat eksotis ini. Semoga kedepan, Tuti bisa lebih cantik lagi.

Tuti 27 September 2015

Advertisements

One thought on “Tuti, Panasmu menggodaku

  1. HAhahahahahaha.. helm lebih berharga,, emang terkadang di suatu daerah malah lebih “perintilan” yang berharga dibandingkan yang “lebih berharga” semacam motor… btw, asik banget itu ada pelanginya..
    kalau belum dipublikasikan dan terkenal, suatu atraksi wisata tidak akan dikelola dengan baik hingga pada akhirnya terkenal, tapi ketika sudah terkenal, dikelola sih dikelola tapi malah tidak dijaga oleh wisatawan/pengunjung sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s