Amazing view ; Tangga 300

“Selamat pagi”, ucapan pertama saya pada bapak kost yang sedang asik memainkan sound system 1500 watt PMPO-nya. Entah sudah menjadi kebiasaan atau bagaimana, setiap pagi sound system tersebut selalu dinyalakan dengan volume paling keras. Suara bass-nya terdengar mau pecah. Bukan suara musik yang enak didengar, namun hanya suara musik rombeng yang benar-benar membuat telinga akan pecah rasanya. Lantunan lagu cinta dari mitha, diva dari timur menjadi tidak merdu lagi dibuatnya. Saya mulai berfikir, apakah ini salah satu trik bapak kost agar saya bisa bangun pagi?Secangkir the manis saat itu sudah tersaji dan siap untuk diminum oleh siapapun yang menginginkannya. Sayapun langsung menenggak gelas tersebut karena memang tenggorokan terasa sangat kering sekali.

“Kemana lagi hari ini?” Tanya bapak sambil terus mengencangkan baut-baut yang dilepasnya dari body sound system.

“Belum tau pak” jawab saya singkat.

“Cobalah sana ke tangga 300” lanjut bapak memberikan saya pilihan tempat bagus yang ada di pulau ini.

“Dimana itu pak?” Saya mulai antusias untuk segera tancap gas motor mengunjungi tempat yang dimaksud oleh bapak.

“Dari sini, bla.bla.bla.bla…….” Panjang lebar penjelasan bapak dan langsung saya ingat-ingat dalam memori otak saya, walaupun pada ujungnya saya lupa dan akan bertanya pada warga sekitar yang lebih tahu lokasi tempat tersebut.

“Baiklah pak, saya pergi yah”, sayapun pamit dan langsung menuju kamar mandi dan bersiap pergi.

 

Perjalanan ke tangga 300

Setelah mandi, dan merapikan semua peralatan, saya pun pamit lagi ke bapak kost dan langsung menancap gas mencari pom bensin. Ohya, pom bensin disini punya jam oprasional yang terbatas, tidak buka 24 jam seperti di kota. Pom bensin hanya buka selama 4 jam setiap harinya, maksudnya sih mungkin agar pasokan bbm bisa terus terjaga keberadaannya, dan membuat para pelanggan menjadi irit, walau sebenarnya penjual bensin eceran di pinggir-pinggir jalan tetap saja merajarela.

Antrian bensin cukup panjang juga, namun berkat kesabaran, giliran sayapun tiba. Isi full menjadi satu-satunya pilihan karena harga di PertaMini akan semakin mahal apabila semakin jauh dari pusat kota.

Motorpun saya pacu kearah barat pulau ini. Jalanan aspal dan liukan bukit-bukit kecil mengingatkan saya pada jalanan ke Subang Jawa Barat. Bukit-bukit kapur yang sudah ditambang oleh penduduk membuat saya mengingat kembali perjalanan bukit di Rajamandala Padalarang Jawa Barat. Sungguh luar biasa jalur perjalanan ini. Bukit kapur, bukit kering, gunung yang sudah terbelah, dan Pantai yang masih bersih membuat saya terpesona dalam setiap perjalanan menuju sebuah tempat di Pulau ini. Untuk pertama kalinya saya merasa takjub melihat adanya oase ditanah kering. Oase hanya saya temukan dicerita-cerita para nabi dan rosul ketika saya masih TK sampai SD. Dalam cerita itu, selalu disebutkan bahwa oase itu ada di Gurun pasir yang panas dan terik, namun karena kuasa Allah, maka oase tersebut seakan menjadi penghilang dahaga dikala haus berjalan. Oase yang saya temukanpun hampir mirip menyerupai cerita-cerita kuno tersebut. Disaat semua tempat kering, oase ini tetap menyimpan cadangan air dan digunakan oleh warga untuk irigasi sawah dan tambak ikan tawar. Ini bukan bendungan yang sengaja dibuat oleh warga, namun benar-benar danau alami yang terbentuk dengan sendirinya.

Sempat bingung karena tidak ada petunjuk satupun untuk menuju lokasi, akhirnya saya bertanya beberapa kali kepada warga yang sedang bersantai di pekarangan rumahnya. Sampai suatu saat, saya bertanya pada seorang anak remaja yang sedang mengendarai motor, dan akhirnya iapun dengan senang hati mengantarkan saya ke tempat tujuan. Masyarakat disini rela meluangkan waktunya untuk sekedar membantu siapapun, terutama wisatawan yang kebingungan untuk menemukan tempat tujuan tanpa imbalan apapun. Mereka sangat senang sekali mambantu sesama.

 

Dari Atas Tangga 300

Sayapun akhirnya diantar sampai belokan terakhir menuju tangga 300. Sebelumnya pemuda tersebut meminta maaf tidak bisa mengantarkan sampai depan gerbang tangga 300 karena bawaan yang dia bawa harus segera diberikan pada yang punya. Kamipun memaafkannya dan berterimakasih atas waktu luang yang dia berikan. Kamipun melanjukan perjalanan, dan tidak lebih dari 200 meter dari belokan terakhir tersebut kami menemukan sebuah gerbang bertuliskan selamat datang di objek wisata mando’o.

Objek wisata ini sangat sepi, tidak ada pengunjung satupun yang datang selain saya dan dua teman saya. Tidak ada halaman parkir tempat menyimpan kendaraan, jadi mau tidak mau kamipun akhirnya memarkirkan motor kami tepat di depan gerbang tersebut. Sempat waswas akan keamanan kendaraan, karena sama sekali tidak ada penjaga satupun dilokasi ini, namun akhkhirnya kami yakin bahwa di pulau ini masih aman akan pencurian. Dari pintu gerbang, kami langsung disuguhi anak tangga yang lumayan sangat banyak. Tangga ini terlihat sangat baru, karena anak-anak tangga tersebut masih belum rusak dan juga pegangan tangga masih tercat hijau bersih, namun tetap saja ulah nakal pengunjung yang ingin eksis dengan mengabadikan namanya disetiap sudut sepanjang perjalanan menaiki anak tangga selalu terlihat. Tulisan dengan spidol warna warni membuat pemandangan area ini nampak kumuh. Ternyata, tangga yang kami naiki tidak pas 300 seperti nama tempatnya, jumlahnya skr ada 478 buah, dan itu nampak pada tulisan berwarna hijau dengan menggunakan cat semprot di anak tangga yang terakhir.

Di puncak, yang merupakan batu karang terdapat satu areal yang dibatasi oleh pagar, mungkin karena alasan keamanan, maka area ini dipagari. Dari atas saya dapat dengan jelas melihat Pulau Rote secara keseluruhan. Lautan lepas dan juga beberapa karang, serta hutan, hutan mangrove yang masih rindang bisa saya lihat disini, belum lagi saya bisa melihat garis pasang surut air laut yang kontras dengan pasir kering ditepian jalan. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa.

 

Bersama pak Kornelius

Kami tidak berlama-lama di tempat ini, karena kewaswasan kami pada keamanan kendaraan yang kami parkir. Akhirnya setelah istirahat kurang lebih 20 menit, kamipun memutuskan untuk kembali. Dibawah, kami bertemu dengan pak kornelius yang ternyata beliau adalah penjaga objek wisata tersebut. Darinya kami diceritakan sejarah asal mula tempat ini terbangun dan mengapa dinamai tangga 300. Namun Kami tidak banyak menggali informasi mengenai tempat wisata ini. Yang pasti kami sangat berterima kasih pada pak kornelius karena dengan senang hati sudah bersedia menjaga kendaraan kami. Setelah isi log book kunjungan, akhirnya kamipun berangkat meninggalkan tempat wisata tersebut dan berpetualang kembali ke tempat yang lain..

Pulau Rote – 8 Oktober 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s