Roti, Pulau Paling Selatan Indonesia

Namanya juga pelatihan, pasti ada sesuatu yang bisa ditangkap oleh otak saya. Yah, 5 hari sudah berlalu saat pelatihan pengelolaan ekonomi produktif di Bali dilaksanakan. Setelah perpisahan dengan semua teman yang datang, saya mulai merencanakan sebuah petualangan lagi. Petualangan ini bukan tanpa alasan, sebab waktu untuk masuk kembali ke Pulau Wetar sudah terlambat. Pelatihan sendiri selesai pada tanggal 6 Oktober, dan kapal satu-satunya harapan untuk masuk ke Pulau Wetar sudah berangkat dari Kalabahi tepat pada saat acara pelatihan selesai, maka otomatis saya harus menunggu kapal kembali tidak kurang dari 2 minggu lamanya. Akhirnya sambil menunggu waktu, sayapun berpetualang mengunjungi tempat terdekat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.Pulau Rote menjadi destinasi pilihan saya. Dengan pertimbangan bahwa Pulau Rote adalah pulau yang dekat dengan kota Kupang, dimana akses transportasi menuju dan kembalinya sudah memiliki jadwal yang pasti, sehingga setelah itung-itungan tanggal, saya tidak akan terlambat untuk menumpang kapal barang ke Pulau Wetar. Ohya, perhitungan tanggal yang pas selalu saya lakukan untuk mengetahui kapan kapal perintis ini masuk dan keluar pulau. Jadwal perintis yang masih belum reguler mengharuskan para penumpangnya menjadi lebih pintar untuk meramalkan kapan kapal akan masuk.

 

antri tiket kapal cepat

Terbang dari Bali ke Kupang tidak membutuhkan waktu yang cukup lama. 2 jam perjalanan menggunakan Garuda Indonesia kami tiba tepat waktu. Palayanan ekomoni kelas 1 dari Garuda Indonesia benar-benar terasa nikmatnya. Singgah satu malam di Kupang, besok paginya sayapun memutuskan untuk pergi ke pulau paling selatan Indonesia, Pulau Rote. Pertimbangan saya mengunjungi Pulau ini karena memang biaya untuk menuju Rote hampir sama dengan biaya tunggu di Kupang, jadi alangkah lebih bijak jika saya memanfaatkan waktu untuk sedikit berpelesir ke Pulau tersebut. Sayapun langsung pergi ke pelabuhan dan kemudian membeli tiket kapal cepat Bahari Express tujuan Kupang – Rote.

Perjalanan dari Kupang menuju Rote ditempuh dengan waktu 2 jam. Tanpa terasa, sayapun sampai di Pelabuhan Baa, pintu masuk Pulau Rote. Selama perjalanan saya hanya tertidur pulas karena memang aktivitas semalam di Kupang terasa sangat melelahkan.

 

Marcusuar Pulau Rote

Pulau Roti, atau lebih di kenal dengan Rote ndao ini merupakan pulau terluar yang ada di Indonesia. Pulau paling selatan ini pernah masuk sebagai lirik tambahan lagu populer Indonesia yang pernah dinyanyikan oleh Presiden ke 5 Indonesia, bapak SBY. Liriknya kurang lebih seperti ini : “Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote”. Dan saya pun bersyukur karena diberi kesempatan untuk bisa sampai di Pulau paling selatan Indonesia ini.

Layaknya pelabuhan pada umumnya, Pelabuhan Baa di Rote Ndao ini terbilang pelabuhan kecil. Hiruk pikuk porter yang menawarkan jasa angkut barang saling hilir mudik menawarkan jasanya ke penumpang yang terlihat mambawa banyak barang bawaan. Sempat saya memperhatikan percakapan negosiasi seorang ibu dengan porter tersebut, sang porter menawarkan jasanya sebesar Rp.40.000.- untuk mengangkut 4 buah koper besar yang dibawa oleh ibu tersebut. Ibu pun menawarnya dengan harga yang lebih murah, namun berkat ketekunan si porter, maka sang ibu pun luluh juga dengan harga yang ditawarkan oleh porter tersebut.

Saya berjalan keluar dari pelabuhan. Sebuah marcusuar megah langsung membuat saya terpesona dengan pulau terluar ini. Marcusuar ini tampak baru direnovasi, karena masih terlihat jelas bahwa cat pelapis dindingnya masih sangat baru. Di depan marcusuar terdapat semodel lapangan besar, dan cukup besar untuk memuat banyak mobil yang diparkir, namun hari itu lapangan tersebut benar-benar kosong sehingga menjadi tempat yang bagus untuk mengabadikan momen di pulau terluar ini. Berjalan beberapa meter, saya melihat ada sebuah hanggar besar yang berdiri sendiri di tengah-tengah lapangan kosong itu. Saya penasaran dengan aktivitas yang ada di sana. Bukan tanpa sebab, karena mulanya saya kita hanggar itu adalah sebuah pasar tradisional, namun saya salah karena sebenarnya hanggar itu adalah sebuah gedung pertemuan atau lebih menyerupai gedung serbaguna yang biasa digunakan oleh angkatan laut untuk melakukan kordinasi. Tapi anehnya, gedung tersebut sementara dialih fungsikan sebagai kantin karena kantin yang ada sedang direnovasi oleh otoritas pelabuhan.

Hanya ada 2 sapaan yang selalu dilontarkan oleh penduduk lokal takkala melihat adanya turis yang masuk ke Pelabuhan. Sapaan pertama adalah : “mau kemana kaka?”, dan sapaan kedua adalah : “Nemberala,kaka?”, kemudian dilanjutkan dengan penawaran harga jasa yang menurutnya adalah paling murah. Saya selalu menolak tawaran jasa dari mereka, karena memang saya sudah ada teman yang akan menemani untuk berkeliling Pulau Rote Ndao ini.

Indonesia memang kaya ragam dan budaya, tunggu kisah selanjutnya tentang tempat-tempat menarik di Pulau Rote Ndao ini yah. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s