Perjumpaan dan Perpisahan

Kami memang baru bertemu dan berkenalan saat pelatihan pendampingan untuk pulau kecil terluar dimulai. Hotel mercure ancol menjadi saksi bisu bagaimana kami 24 orang anak muda dipertemukan. Latar belakang pendidikan kami semua berbeda. Ada lulusan teknik kelautan, sastra indonesia, arsitektur, teknik sipil, bahkan ada juga yang berasal dari lulusan kriminologi. Saya sendiri berlatar belakang teknik industri. Program kami bernama program pendampingan sarana dan prasarana berbasis masyarakat di pulau pulau kecil terluar indonesia. Dimana kami dilatih untuk menjadi seorang fasilitator yang mampu menjembatani masyarakat di desa kecil untuk berinteraksi dengan pemerintah. Selain itu, program kami pun mengemban misi dan amanat dari kementrian kementrian kelautan dan perikanan melalui bagian pulau kecil terluar untuk dapat membantu perekonomian masyarakat lokal. Sungguh berat rasanya mengamban tugas ini, namun rasa penasaran akan kehidupan di Pulau kecil terluar membuat saya bersemangat dan merasa tertantang untuk mencobanya.
Awalnya kami semua masih belum mengenal satu sama lain. 24 orang dipanggil dan dikumpulkan di hotel mercure ancol untuk menerima pembekalan sebelum masuk ke lokasi dampingan yang sebenarnya. Dari 24 orang yang dipanggil ini masing masing memiliki program dampingan dengan goal yang berbeda. Banyak lokasi yang menantang yang saya sendiri belum tahu dimana letak lokasi tersebut. Misalkan saja pulau sangihe, pulau dampingan stave yang baru saya ketahui bahwa pulau itu ada di perbatasan antara Indonesia dan Filipina. Belum lagi pulau seperti pulau beras di papua, pulau lingayan di sulawesi tengah, atau pun pulau simeleu yang masuk ke wilayah aceh.

kami, Fasilitator PPKT

Sulit rasanya membayangkan bagaimana bisa sampai ke pulau pulau kecil terluar tersebut. Karena memang armada yang ada masih sangat-sangat terbatas dan medan perjalanan yang sangat menantang. Tapi dibalik sulitnya akses ke lokasi dampingan, sebenarnya saya menyimpan rasa salut kepada 24 orang terpilih ini untuk siap menghadapi semua kondisi yang ada lapangan. Mendengar cerita perjalanan yang menantang dan beresiko akan kematian seakan tak menjadi halangan buat mereka. Membayangkan tinggal disebuah desa terpencil, tanpa listrik, air, dan sinyal telekomunikasi pun belum pernah ada dibayangan saya. Tetapi, rasa penasaran dan kemanusiaan yang benar benar membuat kami, khususnya saya menjadi berani untuk menjalaninya.

Di Hotel Mercure Ancol, kami dilatih bagaimana cara berinteraksi dan menggali informasi mendalam mengenai hal yang dapat membantu tugas kami di lapangan. Kami diajarkan cara pendekatan dengan masyarakat, sampai diajarkan bagaimana memberdayakan masyarakat untuk mengambil keputusan keputusan yang mungkin sulit buat mereka. 9 hari di Mercure bukan waktu yang lama bagi kami untuk saling mengenal satu sama lain. Materi materi ice breaking yang diberikan oleh trainer seketika mampu membuat kami saling akrab dan membentuk sebuah keluarga baru. Selesai pelatihan, kami, 24 Fasilitator Pulau Kecil Terluar Indonesia langsung bergerak ke desa dampingan masing-masing.

 

bertemu kembali di Bali

5 bulan bukan waktu yang sebentar bagi kami yang kemudian dipertemukan kembali disebuah workshop regional. Tempat dan waktu workshop pun telah ditetapkan, yaitu Bali, pulau Dewata. Seperti halnya perjalanan menuju pulau dampingan yang memerlukan perencanaan matang, perjalanan menuju pulau bali untuk mengikuti kegiatan workshop tidak kalah sulitnya. Misalkan saja perjalanan mida, dia harus beberapa kali sabar menunggu kepastian penerbangan dari natuna yang delay berulang kali. Penyebab utamanya memang bukan masalah pesawat, melainkan masalah kabut asap yang saat itu menutupi hampir semua daratan sumatra dan kalimantan. Oleh sebab itu, mida haruslah mengganti sarana transportasinya agar bisa sampai di Bali tepat pada tanggal yang sudah ditetapkan. Begitupun dengan Irda, yang kebetulan sama kasusnya dengan mida. Ia terpaksa harus bermalam di Bandara Kuala Namu Medan, kemudian terbang ke Bandung, dan lalu menuju Bali. Perjalanan saya sendiri sebenarnya juga bisa dibilang sulit, namun bukan sulit karena adanya kabut asap, namun pada saat itu perjalanan saya bertepatan dengan pelayaran terakhir kapal yang merupakan kapal satu-satunya yang singgah di Arwala. Jika saya tidak ikut pelayaran tersebut, otomatis saya tidak akan sampai dan mengikuti workshop yang sangat penting itu. Semua perjuangan kami lakukan demi berkumpul dan berbagi pengalaman di workshop bali tersebut.

 

Siap kembali Bertempur

Senang rasanya saat saya bertemu dengan teman teman lain yang akhirnya sampai di bali. Di Hotel Harper Legian, kami kembali berkordinasi dan bercanda gurau sambil menceritakan pengalaman pendampingan yang sedang kami lakukan. Merinding saat nyawa menjadi taruhan takkala program gagal tender di papua, sampai isu gempa tsunami dahsyat yang dikabarkan akan melanda mentawai. Cerita kocak tentang potensi rumput rawa di Papua, sampai bagaimana Minyak Nilam bahkan dodol rumput laut menjadi sebuah potensi usaha yang menjanjikan. Belum lagi kegiatan karaoke dadakan di ruangan kelas dengan menggunakan speaker dan microphone seadanya yang kemudian memanfaatkan streming karasongs sebagai video karaoke yang ada text lagunya. Semua kami lakukan dengan penuh keceriaan dan canda tawa namun tetap serius. Beberapa harapan pelatihan kami diawal menjadi kenyataan saat review diakhir pelatihan, bahkan rasa kekhawatiran pun semuanya tidak terbukti. Saya salut dengan kinerja trainer yang mampu dengan sabar mengajarkan dan memberikan arahan kami. Semua protes protes kami mengenai aturan dan kontrak kerja pelatihan mampu diselesaikan dengan dewasa.

Sekarang, kami semua harus kembali lagi ke desa dampingan kami masing-masing. Sedih rasannya jika mengingat bagaimana perpisahan yang terjadi di bandara ngurah rai bali. Memang, tidak ada teresan air mata yang jatuh dari mata kami, tapi saya sendiri pun merasakan ada sebuah rasa sedih karena pertemuan kami tidak bisa berlangsung cukup lama.

Selamat bertugas semua, tuntaskan dan selesaikan tanggung jawab yang masih menggantung di pulau dampingan. Keep contact dan selalu bersemangat untuk kita semua. Selamat jalan dan selamat sampai tujuan. Sampai berjumpa kembali dilain kesempatan.

6 Oktober 2014 – Bali

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s