Takpala, Desa Adat di Alor

Siang itu, saya tidak ada aktivitas yang menyenangkan. Malam sebelumnya, saya habiskan dengan menonton pertandingan sepakbola di sebuah stasiun televisi berbayar. Ohya, di Alor, untuk mendapatkan siaran yang jernih, kami harus berlangganan tv satelit, untuk itu harga voucher yang mahal harus kami manfaatkan semaksimal mungkin. Saya bangun lumayan siang hari itu. Perut sudah terasa lapar, namun terpaksa harus saya tahan karena memang tidak ada stok makanan di tempat saya menginap. Citra datang mengunjungi saya tepat beberapa saat setelah saya bangun. Setelah mengobrol sebentar, saya pun mengajak Citra untuk mencari makanan, sekadar untuk mengganjal perut.

Saat makan siang, saya bertanya kira-kira lokasi mana lagi yang bisa saya kunjungi di Pulau Alor ini, dan kami pun berdiskusi mengenai beberapa lokasi wisata yang bisa kami datangi siang itu. Desa Takpala menjadi titik temu diskusi kami. Hal ini karena hampir setiap hari kami selalu melihat dan mengunjungi pantai yang ada di sepanjang jalan di Pulau Alor. Makan siang pun segera kami selesaikan dan kami langsung meluncur menuju Desa Takpala.

IMG_4712
rumah tradisional desa takpala

Perjalanan menuju desa takpala tidak begitu susah. Jalanan aspal yang mulus dan jalanan yang belum terlalu ramai membuat kami bisa cepat sampai ke desa adat yang masih eksis di kabupaten alor ini. Seperti biasa, sepanjang jalan menuju lokasi, kami disuguhi oleh pemandangan alam yang sangat eksotis. Hembusan angin kencang dan deburan ombak yang menghempas karang menjadi sajian yang menarik bagi kami. Laut biru bergradasi hijau tosca dan beberapa perahu yang sedang berlayar selalu sukses membuat kami kagum dengan pemandangan di pulau ini. Perjalanan semakin menarik takkala kami melihat beberapa ibu yang sedang berjalan di pinggiran dengan membawa keranjang besar berisi kacang mete. Pulau alor sendiri merupakan pulau penghasil kacang mete. Tidak heran jika kacang mete bisa menjadi tumpuan ekonomi masyarakat di sekitar pulau alor ini. Umumnya, para petani kacang mete akan berjalan bersamaan dengan para petani lain, namun saat itu hari sangat panas sekali, sehingga tidak banyak yang berjalan dan memanen kacang mete.

Setelah jalanan aspal yang mulus habis, sepeda motor kami berbelok ke jalanan aspal yang lumayan rusak dan menanjak. jalan ini adalah jalan utama menuju desa takpala. Semakin dekat dengan desa, jalanan semakin menanjak dan semakin rusak, sehingga kami harus sangat berhati-hati mengemudikan sepeda motor tersebut, salah sedikit saja, kami bisa jatuh dan masuk ke jurang yang lumayan dalam. Suasana desa adat sudah terasa sesaat setelah kami memasuki jalan aspal rusak yang menanjak. anak anak kecil yang bertelanjang dada dan memakai kain khas desa sudah banyak terlihat. Sepanjang jalan saya selalu disapa dengan panggilan Mister. Anak anak ini bermain di halaman depan rumah tradisional mereka. Pohon-pohon jambu mete menjadi pemandangan selama perjalanan di jalan aspal yang rusak tersebut.

IMG_4740
pakaian tradisional desa takpala

Sampai di parkiran desa adat takpala, pemandangan laut di atas gunung tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Jepretan kamera handphone langsung menyimpan beberapa frame foto dengan beberapa angle yang berbeda. Panorama lautan lepas yang berdinding pulau dengan paduan warna biru putih dan hijau kembali memanjakan mata kami. Sinar terik matahari yang begitu panas menyengatpun tidak menjadi penghalang kami untuk terus mengabadikan momen tersebut. setelah dirasa cukup dengan foto-foto yang kami ambil, kami pun berjalan menaiki jalan setapak sebagai pintu masuk ke desa Takpala. Plang selamat datang di desa Takpala menjadi penyambut kami di desa ini. Rumah rumah beratapkan jerami dan beralas bamboo langsung bisa kami lihat didepan pintu masuk desa. Rumah disini hanya berjumlah 14 buah. Dimana 2 diantaranya adalah rumah leluhur yang tidak bisa dimasuki oleh sembanrang orang. posisi rumah disini sangat simetris dan berada pada satu garis lurus, sehingga tampak sangat begitu rapi. Keunikan rumah tradisional di desa takpala ini adalah fungsi dari tingkatan rumah tersebut. rumah ini terdiri dari 4 lantai. Lantai pertama digunakan sebagai halaman rumah, lantai 2 digunakan sebagai kamar tidur beserta dapur untuk memasak, lantai 3 digunakan untuk menyimpan jagung, dan lantai 4 digunakan sebagai gudang, baik itu gudang makanan atau pun gudang barang-baranag yang tidak terpakai. Saya sendiri terkejut saat sang empunya rumah mengatakan bahwa rumah ini terdiri dari 4 lantai, karena sekilas rumah ini kecil dan tidak mungkin untuk memiliki 4 lantai. Setelah bercengkrama dengan bapak yang bersuku asli, saya ditawari untuk mencoba memakai pakaian tradisional mereka. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan, dan dengan sigap sayapun mengikuti seorang bapak yang akan membawa baju tradisional tersebut. tidak perlu waktu lama bagi saya untuk memakai baju adat tersebut, karena baju ini terlihat sangat simpel untuk dipakai. Sayapun berkeliling desa dan berfoto dengan memakai pakaian tradisional tersebut, dan berpose seolah olah saya adalah penduduk asli desa takpala.
Sudah cukup berfoto dengan pakaian adat, kamipun berpamitan kepada kepala desa takpala dan melanjutkan perjalanan menuju tempat tempat keren lainnya di pulau alor.

Desa Takpala, 26 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s