Rahman, sang pahlawan alor

Tubuh kecilnya harus terkulai lemas takkala angin dari samping kapal sore itu berhembus kencang. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain tertidur dengan mata yang terus menatap ke langit langit kapal. Bantal empuk penopang kepala dan sehelai tikar tipis menjadi alas tempatnya terbaring. Dengan memakai baju tidur dan kaos kaki tebal, serta seutas selang yang ditanam ke lambung melalui lubang hidung, ia berusaha untuk menahan rasa sakitnya saat perjalanan itu. Namanya Rahman, ia seorang bayi yang masih berusia 15 bulan,yang berasal dari Pulau Alor .saat itu ia sedang bersama orang tuanya dalam perjalanan pulang dari kota Kupang. Orang tua Rahman pertama kali saya lihat sedang berusaha menidurkan Rahman di deck bawah lantai kelas ekonomi kapal ferry tujuan alor. Deck ekonomi itu tidak lain adalah tempat perkir kendaraan bermotor baik itu bus, truck pembawa sembako, ataupun mobil dan motor pribadi yang akan masuk ke Pulau Alor. Saya melihat keluarga ini persis di samping WC yang sangat kotor dan mengeluarkan bau yang sangat menyengat. Awalnya tidak ada yang aneh, namun setelah saya mendekat, ternyata saya melihat seorang bocah kecil yang sedang tertidur lemas dengan selang putih transparan yang masuk ke dalam lubang hidungnya. Sayapun tercenang dan langsung menghampiri keluarga tersebut dan menanyakan penyakit yang sedang diderita sang anak, serta menanyakan mengapa tidak berada di tempat yang lebih layak. Saya menjadi miris takkala sang ibu berkata bahwa sebetulnya mereka sudah berusaha untuk mendapatkan ruang khusus kelas bisnis yang ada tempat tidur untuk sang anak, namun tiket untuk kelas bisnis tersebut sudah habis, sehingga sang ibu hanya mendapatkan tiket ekonomi. Sang ibu sebetulnya sudah mencari tempat yang layak di kapal ferry tersebut, namun apa daya kapal tersebut sedang penuh sehingga mau tidak mau sang ibupun terpaksa menidurkan rahman tempat kosong yaitu di samping WC tersebut. mendengar kondisi itu, sayapun langsung meminta sang ibu untuk memindahkan rahman ke tempat saya tidur yang kebetulan berada di kelas bisnis. Bukannya saya sok pahlawan atau apa, tapi saya benar benar merasa prihatin dengan keadaan rahman yang harus tertidur di tempat yang sangat tidak layak. Awalnya sang ibu menolak karena takut akan diusir oleh petugas tiket apabila tidak bisa menunjukan tiket sesuai dengan kelasnya, namun saya memaksa sang ibu untuk pindah, dan jika terjadi apa-apa, biar tiket saya yang saya berikan kepada sang ibu tersebut. akhirnya sang ibupun mau memindahkan rahman yang memang tidak berdaya tersebut ke tempat duduk saya.

perjuangan rahman

Saya baru mengetahui bahwa rahman menderita sakit kejang-kejang. Selama hampir 3 bulan setelah hari ulang tahunnya yang pertama, ia harus berusaha melawan demam tinggi yang berujung pada kejang seluruh anggota badannya. Semua anggota badan rahman menjadi sangat kaku dan sulit untuk digerakan. Rumah sakit daerah di Pulau Alor tidak sanggup untuk mengobatinya, dan akhirnya rahman dirujuk untuk bisa mendapatkan pelayanan terbaik di Rumah Sakit Daerah Kupang. Perjalanan dari desa kediaman Rahman di Pulau Alor sampai ke Kupang tidaklah singkat. Meskipun pulau Alor masih masuk dalam wilayah Nusa Tenggara Timur, namun jarak Pulau Alor ke Kupang sangatlah jauh. Perlu 22 jam menaiki kapal ferry dari pelabuhan kalabahi alor untuk sampai ke pelabuhan bolok di Kupang. Selain itu, untuk bisa sampai di pelabuhan Kalabahi Alor, Rahman harus menempuh sekitar 4 jam perjalanan laut dengan menggunakan sampan kecil. Berat sekali rasanya perjalanan yang harus ditempuh oleh rahman ini. Keterbatasan tenaga medis malah menjadikan nyawa sebagai taruhan yang sangat mahal. Selain itu, keterbatasan akan sarana transportasipun lagi lagi menjadikan nyawa sebagai taruhan hidup atau mati seseorang. Kapal ferry tujuan kupang dari kalabahi alor hanya berjalan dua kali dalam satu minggu, itupun bisa dibilang sebagai sarana yang paling terjangkau oleh masyarakat di pulau alor. Meskipun sebenarnya ada pesawat tujuan kupang dari alor, namun terkadang pesawat itu sudah habis dipesan dan tidak memiliki jadwal penerbangan yang banyak, hampir sama dengan jadwal ferry yang hanya dua kali dalam satu minggu. Keterbatasan ekonomi pula yang membuat orang tua rahman lebih memilih kapal ferry daripada memakai pesawat.

Sekarang, rahman sudah bisa meminum air dari mulutnya. Sudah ada tanda tanda pergerakan dari jari jari tangannya, setelah kurang lebih satu bulan beradi di rumah sakit kota kupang. Dengan kasur empuk pun, rahman bisa mendapatkan minimal kenyamanan selama perjalanan pulang dari Kupang ke Pulau Alor. Dalam hati saya seraya mendoakan rahman, supaya cepat sembuh, dan kelak menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya.

Semoga cepat sembuh rahman. Sehat selalu dikemudian hari.

Kapal ferry – 23 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s