Alor, Pemandangan Sepanjang Jalan.

Ini pagi pertama saya berada di pulau alor. Semalam saya tidur lumayan pulas sekali. Mungkin efek tidur yang tidak enak di kapal. Ohya, semalam saya mendapatkan rejeki luar biasa, karena teman-teman di WWF mau menemani saya selama berada di pulau alor. Sehari sebelumnya, setelah mengantar teman berkeliling ke dinas dinas pemerintahan untuk memberikan surat undangan, saya diajak untuk mampir sebentar ke kantor WWF di alor. Saya kemudian bertemu dengan anggota wwf indonesia, mas tutus namanya. Setelah perkenalan dan ngobrol kesana kemari, sayapun diberi informasi mengenai tempat-tempat terbaik di pulau alor. Saya senang sekali karena mas tutus sangat baik dan bersahabat.  

Setelah sarapan, saya memang berencana untuk berkeliling alor bersama citra, namun saya teringat pada adik junior saya di kampus, yang menurut info dia berada di alor. Sayapun mencoba menghubunginya dan memberi tahukan bahwa saya sudah berada di alor. Kamipun akhirnya bertemu. Meskipun sedang sibuk, tapi saya senang sekali juan bisa meluangkan waktunya untuk bertemu dengan saya. Sayapun memberi tahu rencana jalan jalan saya, dan juan pun akhirnya ikut bersama kami untuk mengelilingi pulau alor.

 

pemandangan perjalanan

Destinasi pertama yang kami datangi adalah kecamatan alor timur laut. Sebenarnya saya belum tahu itu tempat apa, tapi menurut juan dan citra yang lebih tahu lokasi alor, disana ada sebuah air terjun dan air panas di sebuah bukit. Lokasi ini dikenal dengan nama TUTI. Kami mun langsung menancap gas motor yang kami sewa, karena sudah tidak sabar untuk melihat tempat itu. Ditengah perjalanan, kami harus terhenti sekitar 2 jam, karena ada pelebaran jalan utama. Backhoe pengeruk batu berada melintang di tengah jalan, sehingga jalanan otomatis harus ditutup sementara. Kami pun mau tidak mau harus menunggu dengan sabar sampai jalan kembali dibuka. Setelah jalan dibuka, kamipun melanjutkan perjalanan menuju TUTI. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Jalan mulus yang berada tepat di garis pantai membuat perjalanan ini berasa sangat indah. Hamparan laut biru dengan gradasi hijau tosca ditambah dengan awan putih dan siluet pulau betul betul memanjakan mata. Pemandangan ini benar benar sangat indah dan menakjubkan. Semakin mendekati tujuan, sayapun bisa melihat rumah rumah yang masih sederhana khas daerah alor yang berjejeran disepanjang jalan. Jalan yang naik turun melintasi bukit menjadikannya sebuah perjalanan yang menarik, karena saya bisa melihat lautan dari atas bukit secara langsung. Jalanan menuju Lokasi masih sangat sepi. Hanya ada beberapa kendaraan saja yang berlalu lalang. Beberapa kali saya melihat gereja yang masih dibangun. Semakin ke pelosok, semakin jarang di temukan masyarakat muslim di pulau ini. Kami di ajak oleh juan untuk mampir sejenak di rumah kepala desa. Kami berbincang sejenank dengannya untuk menggali info mengenai pulau alor. Juan sendiri ternyata memang memiliki kepentingan dengan kepala desa tersebut. Dengan begitu, sayapun otomatis secara tidak langsung dibawa kedalam percakapannya mengenai bisnis pengolahan madu hutan. Cukup lama juga kami bercengrama, dan tanpa melihat waktu ternyata sudah menjelang magrib. Karena waktu yang tidak memungkinkan, akhirnya kami sepakat untuk tidak melanjutkan ke lokasi tujuan kami, alasannya karena sore hari, pemandangan sudah tidak bagus lagi. Dan alkhirnya kami pun pulang ke kalabahi.

 

hijau di kemarau

Batalnya wisata ke TUTI tidak membuat saya kecewa, alasanya karena ternyata pemandangan sunset di pantai sepanjang perjalanan pulang benar benar kembali memanjakan mata. Matahari sangat bulat sempurna ketika akan meninggalkan peraduaannya. Cahaya orange pekat pun menghiasi langit yang sudah mulai gelap. Deburan ombak menambah syahdunya irama alam. Beberapa burung mulai berterbangan menghasilkan siluet di udara, dan lampu lampu perumahan di bawah gunung atau bukit satu persatu mulai menyala. City light disini masih belum terlihat jelas, karena memang belum semua rumah memiliki jaringan listrik yang mampuni. Tapi, lampu lampu yang berkedip dibawah kaki gunung justru memberikan kecantikannya tersendiri. Bintang bintang mulai bertebaran di udara, bulan purnama memantulkan cahaya yang sangat terang, sehingga jalanan yang tidak memiliki lampu penerangannpun masih tetap terang. Saya hanya bisa melihatnya, dengan sesekali mengabadikannya dan berulangkali takjub akan keindahan pulau kecil ini.

-continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s