Alor, kecil kotanya, besar keindahannya.

Mengunjungi alor bukan sebuah keinginan yang pernah dipikirkan sebelumnya. Saya mengenal alor dari sebuah iklan rokok terkenal yang banyak beredar di masyarakat. Hastag ngantor di alor pakai kolor seakan membuat semua orang yang menonton iklan tersebut menjadi iri dibuatnya. Saya sendiri sebenarnya takjub dengan cerita cerita dibanyak blog yang menulis mengenai alor. Hari ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi pulau tersebut. Setelah sekitar 7 hari berada di kupang, saya berencana untuk memaksakan diri pergi ke kalabahi, ibu kota kabupaten alor dengan tujuan mencek jadwal kapal Lintas Bahari Indonesia (LBI). Ohya, kapal LBI ini sekarang menjadi kapal barang satu-satunya yang bisa mengantarkan saya kembali ke pulau wetar. Saat ini kapal perintis sabuk 43 yang biasa saya gunakan untuk ke pulau wetar sedang off karena pihak perusahaan pengelola harus melakukan tender ulang sewa kapal dengan pemerintah daerah Maluku. Dengan menaiki kapal ferry dari pelabuhan bolok, saya pun harus bersabar sekitar 22 jam untuk sampai di pelabuhan kalabahi, alor.

 

senja di kapal ferry

22 jam berlayar memang tanpa aktifitas yang mengasikan. Pemandangan laut kembali menjadi teman selama perjalanan. Ikan terbang saling berlomba menunjukan kecepatan mereka untuk berlomba mengalahkan laju kapal yang saya tumpangi. Ibu ibu dan bapak bapak nampak sedang berbaring dan meroko di sudut sudut kapal yang memuat banyak kebutuhan pokok dan sayur mayur yang mereka beli di kupang. Matahari lambat laun mulai tenggelam disebelah barat. Para penumpangpun mulai mengeluarkan kamera masing-masing dan mulai mengabadikan momen sunset di atas kapal yang sungguh menakjubkan. Warna orange matahari bersatu dengan warna putih awan dan biru langit sehingga menghasilkan sebuah pemandangan yang sangat luar biasa untuk dipandang dan diabadikan. Kapal melaju dengan santai dan tenang saat itu.

Kesabaran berada di kapal pun terbayar takkala kapal mulai memasuki teluk pulau alor. Pagi hari sekitar jam 05.00 WITA, kapal sudah memasuki teluk kalabahi dan diperkirakan akan berlabuh pada pukul 06.00 WITA. Saya terbangun dari tidur saya karena seorang ibu mulai berkemas dan berkata bahwa kapal sebentar lagi akan berlabuh. Saya langsung mengambil kacamata dan segera melihat keluar kapal. Di atas deck, saya kembali tertegun dengan pemandangan pagi hari di teluk ini. Embun pagi seakan menjadi filter yang bisa menambah eksotisme pulau dan air laut yang akan diterangi oleh sang surya. Ornamen lain seperti tanjung, kapal nelayan, dan tambak ikan menambah lengkap pemandangan pagi hari saya. Sayapun menjadi sangat tidak sabar untuk segera menginjakak kaki di pulau kecil yang terletak di utara kota kupang. ferry pun membunyikan sirene yang menandakan kapal akan berlabuh dan penumpang diminta untuk bersiap turun.


Dermaga ferry pelabuhan kalabahi tidak begitu besar. Setelah kapal singgah, dan gate dibuka, semua penumpang mulai berhamburan keluar deck kapal. Sayapun mengambil ransel dan langsung bergegas keluar untuk mencari makanan

Berjalan di pelabuhan ferry kalabahi saat pagi hari begitu menyenangkan. Kabut yang masih turun dari gunung membuat udara begitu segar. Sepanjang jalan pemandangan pulau dan kapal kecil atau besar benar benar sangat memanjakan mata. Lautan yang masih hijau membuat saya ingin segera menceburkan diri kedalamnya. Tapi saya harus bersabar karena saya harus mencari penginapan terlebih dahulu. Saya berjalan menyusuri pantai di pelabuhan. Sejauh mata memandang, lautan biru dan hijau tosca benar benar membuat saya tercanang. Ucap syukur akan kebesaran illahi pun tak pernah saya lewatkan. Mata benar benar segar dibuatnya. Tidak ada kecacatan dalam lukisan alam yang sempurna ini.

Saya bertemu dengan teman saya, citra. Dia merupakan teman satu profesi dengan saya. Dia ditugaskan disebuah pulau kecil yang masih masuk di kecamatan alor. Sungguh iri dengan tempat citra bertugas ini. Pemandangan yang begitu indah tidak bisa saya dapatkan di pulau penempatan saya. Berkali kali saya mengungkapkan rasa iri saya kepada citra, dan berkali kali pula saya tawarkan untuk bertukar lokasi dampingan. Dan hasilnya sangat jelas, citra menolak dengan keras tawaran saya tersebut.

Setelah makan pagi, saya diajak citra untuk menyimpan beberapa barang bawaan saya dikostnya, lalu saya menemani citra untuk bertugas sedikit sebelum akhirnya kita akan berpetualang melihat keindahan pulau alor. Saya diajak citra untuk bertemu temannya yang kebetulan bekerja di WWF – Indonesia, dan dengan sangat antusias, saya langsung mengiyakan ajakan tersebut. Karena saya akan lama berada di pulau alor, maka sayapun tidak terburu buru untuk langsung menikmati dan mengexplorasi keindahan pulau alor, walaupun sebetulnya saya sudah tidak sabar untuk itu. Tapi karena ini bagian dari kerjaan, maka mau tidak mau saya harus menjalankan kewajiban saya dulu sebelum puas dengan jalan-jalan saya di pulau ini.

-continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s