Wetar Vs Korea (layakkah di bandingkan?)

Setiap melakukan perjalanan, entah ke tempat apapun pasti akan memiliki sebuah cerita. Pagi ini saya akan memceritakan bagaimana selama hampir 40 hari ini saya menetap di sebuah desa yang masih berada di bawah garis kemiskinan di indonesia. Dua bulan sebelum di desa, saya pun tinggal di sebuah negara maju di asia yang sangat ramai dengan semua hiruk pikuknya. Korea selatan dan maluku barat daya ibarat bumi dan langit perbedaannya. Di korea selatan, semua akses bisa di dapat dengan mudah, telekomukasi gampang, listrik melimpah, air tidak pernah surut, dan arus informasi pun semudah mengklik sebuah folder di komputer super. Jaringan internet hampir ada di setiap pelosok negeri, meskipun di desa kecil sekalipun, akses apapun hampir ada di sana. Kebalikannya, maluku barat daya, tepatnya pulau wetar, untuk menuju sebuah desa, diperlukan perjalanan extreem lintas hutan dan tebing sampai jurang. Perlu tenaga super untuk bisa sampai ke satu desa, di korsel, tinggal masuk subway dan tentukan tempat turun semua berjalan lancar. Untuk sarana air bersih pun, di maluku barat daya ini, masyarakat harus mengeluarkan lagi lagi tenang extra untuk menikmatinya. Sumur yang dalam dan harus di timba, ada juga yang harus rela berjalan naik tebing tinggi dan turun sampai 200 meter menuju sumber air yang selevel dengan permukaan air laut harus mereka lakukan agar bisa menikmati air bersih, itupun tidak sepenuhnya bersih bisa langsung di minum, tetapi terkadang airnya sendiri berasa asin seperti air payau. Di korea, bila kita memerlukan air, keran keran tinggal di putar, dan seketika airpun keluar, bahkan sudah bisa langsung di minum karena pemerintah korea menjamin sumber air yang di pakai untuk kebutuhan sehari hari sudah bersih dari kuman kuman dan bakteri.

 

transportasi masyarakat pulau terluar

Listrik di korea hampir tidak pernah padam, meskipun banyak rumah rumah yang menggunakan tenaga surya sebagai pembangkitnya, namun pola hidup hemat listrik sudah sangat melekat di masyarakat di sana. Lampu lampu rumah ataupun jalan semua memakai sejenis sensor cahaya, yang berarti lampu akan mati dengan sendirinya apabila sinar matahari yang menyinari lampu atau sensor tersebut. Di maluku barat daya, di pulau wetar, entah saking hematnya atau bagaimana, setiap malam masyarakat hidup dalam kegelapan. Tidak ada penerangan sama sekali karena mamang tidak ada pembangkit listrik di sana. Mesin mesin diesel pembangkit listrik lebih sering mati karena harga minyak solar yang terlampau mahal. Listrik hanya menyala pada saat saat tertentu saja, itupun cuma sampai 6 jam paling lama. Plts memang sudah masuk, namun satu instalasi plts harus dipakai oleh satu desa, bukan satu rumah seperti di korea, yang berarti jatah listrik pun sangat terbatas. Kesadaran masyarakat akan kesehatan di korea bisa terbilang tinggi sekali. Di sana, makan selalu ditemani dengan sayur mayur yang baik untuk pencernaan. Ikan, daging, selalu tersaji di meja meja apabila akan makan.

 

potret masyarakat desa pulau kecil terluar indonesia

Di maluku, pulau wetar, jangan kan sayur, terkadang ikan pun sulit didapat karena meskipun masyarakat hidup tepat di bibir pantai, alat tangkap mereka tidak layak untuk menangkap hasil laut. Maka tak jarang masyarakat di sini hanya memakan nasi yang di campur dengan jagung tanpa adanya lauk pauk tambahan. Memang, harga ikan di korea terbilang sangat mahal. Untuk satu cup 150ml kerang (di korea, kerang dijual dengan menggunakan cup kopi) harganya bisa mencapai 3000 won, atau setara dengan 30 ribu rupiah. Namun di maluku barat daya, di pulau wetar, kerang tidak banyak di makan oleh masyarakat, kerang kerang hasil tangkapan di laut lebih banyak dibuang kembali karena masyarakat di sini tidak menyukainya. Dengan uang 3000 won, di wetar sudah bisa membeli satu buah ikan kerapu sebesar paha orang dewasa yang ditangkap langsung di laut dengan menggunakan pancingan, sehingga dijamin ikan tersebut masih sangat segar sekali. Semakin saya mencoba untuk membandingkan korea dengan maluku barat daya malah semakin saya prihatin dengan kondisi negeri kita ini. Mungkin perbandingan yang saya lakukan sangatlah tidak satu level, namun bila di bandingkan dengan kota kota di jawa pun hampir sama jauh perbedaan levelnya, maka lebih baik tidak usah saya bandingkan sekalian. Bukan maksud saya untuk mengejek atau mengolok-olok negeri sendiri, akan tetapi ini bisa dijadikan sebuah cerminan agar timbulnya rasa perhatian terhadap saudara saudara kita sebangsa dan setanah air Indonesia tercinta ini.

 

komplek perumahan sederhana

Masyarakat di pulau pulau terluar pun mempunyai mimpi yang begitu besar, mimpi yang suatu saat kelak bisa membangun dan ikut memajukan Indonesia ini. Meraka masih bangga menyebut dirinya orang Indonesia, walaupun terkadang mereka kesal karena pemerintah indonesia tidak memperhatikan mereka. Mereka selalu memuji – muji akan kekayaan indonesia, namun indonesia terkadang kurang memuji dan memperhatikan “kekayaan” mereka.

Tulisan ini merupakan sebuah curhatan saya yang diberikan kesempatan oleh yang maha kuasa untuk bisa melihat dengan mata kepala serta merasakan langsung bagaimana kehidupan di pedalaman indonesia. Sebuah renungan bagi saya karena ternyata dengan segala kekurangannya mereka tetap bangga bahwa mereka adalah Indonesia.

Wetar – 12 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s