pengadilan masyarakat desa

Persidangan masyarakat tomliapat

Hari itu adalah hari minggu, kebiasaan masyarakat desa tomliapat pada hati minggu adalah beribadah sampai jam 12 siang di gereja. Pagi itu speaker gereja sudah memainkan lagu lagu khas gereja yang di putar secara keras sebagai tanda pada masyarakat bahwa ini adalah hari minggu, hari dimana ibadah gereja merupakan wajib hukumnya bagi masyarakat disini. Ibu ibu sudah berjalan beriringan memakai baju terbaik mereka untuk beribadah, para bapak pun tak mau kalah gayanya, rambut klimis rapi dengan minyak rambut membuat style bapak bapak terlihat sangat gagah. Jas berwarna hitam dan alkitab didadanya seakan menandakan para bapak siap untuk bertemu dan berdoa memohon segala hal kepada tuhan mereka. Anak anak pun semua memakai pakaian yang bersih dan rapi, tidak seperti pakaian mereka sehari hari yang lebih banyak bertelanjang dada, bahkan ada yang tidak memakai celana sama sekali. Namun hari ibadah adalah hari yang sangat penting, sehingga masyarakat desa harus menampilkan sesuatu yang tidak biasa untuk beribadah.

Pagi itu saya terbangun lebih pagi, setelah sholat subuh, sudah tidak terasa lagi kantuk yang biasanya membuat saya kembali tertidur sampai jam 09.00 pagi, namun pagi itu sama sekali tidak merasakan kantuk, bahkan semakin dipaksakan untuk tidur, namun badan ini terus menolak dan ingin sesegera mungkin menikmati indahnya matahari terbit di depan pantai yang cuma 20 meter dari kediaman. Sore kemarin rasanya badan sungguh cape sekali, berenang dan bermain bola menjadi aktivitas baru yang saya lakukan di desa ini, namun semakin cape badan, malah semakin sulit untuk tertidur pulas. Badan lemas semua dan pegal menyertainya. Alhasil bangun pagi dan menikmati teh panas dan beberapa potong dadar gulung yang sudah di siapkan oleh ibu pendeta langsung saya sambar. Rasanya enak sekali teh manis dan dadar gulung tersebut. Komposisi manis gula dan parutan kelapa sebagai isian tepung terigu yang didadar kemudian digulungkan itu benar benar menjadi sarapan yang sangat nikmat, terlebih rasanya perut saya menang sudah lapar juga. Sambil membaca buku karya ahmad yunus yang bercerita tentang petualangannya dia bersama rekanya farid gaban mengelilingi indonesia benar benar menambah semangat saya di pagi itu. Dan tak jarang saya pun harus menoleh ke pintu rumah yang terbuka karena hampir setiap ada warga yang lewat, mereka selalu mengucapkan sapaan yang mau tidak mau harus saya jawab ucapan pagi mereka.

Selesai warga beribadah di gereja, sekitar jam 13.00 siang. Saya berencana untuk membeli beberapa cemilan yang pernah saya lihat di warung tetangga yang jaraknya kurang lebih selang 5 rumah dari kediaman saya. Cuaca saat itu sangat terik sekali, sayapun harus mengerutkan mata sejenak sesaat saya akan keluar dari rumah. Saat keluar, saya penasaran dengan banyaknya warga yang berkumpul di balai desa, sangat tidak jauh dari kediaman saya, karena begitu saya keluar dan mengengok ke sebalah kiri saja, balai desa sudah bisa terlihat. Saya penasaran dengan kerumunan warga tersebut karena tidak seperti biasanya. Biasanya apabila ada pertemuan atau diskusi dengan warga, semua warga masuk ke dalam balai desa dan berunding bersama di dalam balai desa tersebut. Namun kali ini tidak, pemandangan yang saya liat justru banyak warga yang berada di luar namun tetap ingin melihat apa yang sedang terjadi di dalam balai desa. Mereka mencuri curi pandangan lewat lubang jendela dan lubang lubang kecil yang memungkinkan mereka untuk melihat ke dalam balai desa. Saya pun semakin penasaran dengan apa yang terjadi, dan sayapun mambatalkan untuk pergi ke warung dan langsung merapat ke balai desa.

 

melihat dari jendela

Tidak banyak yang tahu perkara apa yang terjadi di dalam balai des tersebut. Yang saya lihat semua perangkat dan pejabat desa lengkap berada di dalamnya. Pak kades, pak kepala BPD dan wakilnya, serta bapak bapak tetua kampung dan tetua adat semua berada di barisan depan balai desa di ikuti dengan beberapa warga yang duduk dan membentuk dua kubu yang saling berhadapan. Disalah satu kubu yang bisa dilihat dari jendela itu ada seorang ibu yang sedang duduk sambil menggendong anaknya yang masih kecil yang terlihat sedang memberikan sebuah argumen dengan bahasa yang sama sekali tidak saya mengerti. Tapi, dari raut wajah dan nada bicara sang ibu terlihat bahwa dia sedang mengungkapkan kekesalannya terhadap seseorang yang mungkin sedang ada juga di dalam ruangan balai desa tersebut. Saya terkaget takkala amarah dan teriakan dari ketua bpd terlontar sambil membanting meja plastik yang ada di depannya. Ketua bpd tersebut marah karena sang ibu tidak mau berhenti berbicara walaupun sudah diminta untuk tenang dan bersabar dahulu, karena bapak bpd harus mengetahui alasan dari beberapa pihak yang terkait juga. Mungkin karena sang ibu benar benar tidak bisa menahan bicaranya yang terus menerus maka bapak bpd tersebut harus membentaknya agar sang ibu tersebut bisa diam sejenak.

 

persidangan warga

Selanjutnya adalah giliran ibu yang ada disisi yang bersebrangan yang dipersilahkan bicara setelah kepala bpd tersebut berhasil membuat ibu sebelumnya diam. Namun, baru saja ibu yang duduk berlawanan tersebut akan bicara, ibu yang di bentak oleh bapak bpd kembali berbicara juga sehingga ada semacam keributan yang kemudian menyulut kembali amarah kepala bpd sampai berulang kali. Wargapun ada yang panik, namun ada juga yang ketawa ketawa dengan apa yang terjadi. Jelas saya semakin penasaran dengan masalah yang sebenarnya terjadi terhadap orang orang yang ada di dalam balai desa tersebut. Pada akhirnya setelah bertanya sana sini kepada warga yang menonton, mereka memberi tahu saya bahwa masalah utama perselisihan tersebut adalah seorang mama mantu yang berencana akan menikahi anak mantunya sendiri. Mama mantu itu terlihat oleh sang anak sedang memadu kasih dengan suami anaknya sendiri, dan menurut warga ini adalah persoalan yang pertama terjadi di desa ini. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Namun tetap kaget juga takkala saya melihat secara langsung pak kades yang sangat bijaksana marah besar dengan kasus perselisihan ini. Saya kemudian tidak banyak menggali informasi lanjutan, karena ini tidak ada kaitannya dengan kapabilitas saya di desa ini. Saya hanya menyaksikan saja bagaimana suatu persoalan yang bisa dibilang persoalan pribadi rumah tangga membesar menjadi persoalan masyarakat banyak. Masyarakat sebenarnya tidak terlalu ambil pusing, namun kejadian seperti ini menurut mereka membuat masyarakat menjadi waswas dan cemas karena ini menyangkut masalah moril. Penyelesaian di balai desa pun berlangsung dengan sangat alot karena masing masing kubu saling mempertahankan argumennya. Saya sendiri mulai sedikit sedikit meninggalkan pertunjukan sidang pengadilan masyarakat yang digelar dengan sangat sederhana namun syarat akan musyawarah untuk mencapai kata mufakat, dan info terakhir yang saya dengar adalah bahwa sang ibu yang berulang kali di bentak oleh bapak bpd dikenai denda masyarakat sebesar 500.000 rupiah dan satu jerigen sopi (miras khas masyarakat) yang saya sendiri tidak tahu untuk apa sopi itu. Biarlah masyarakat yang menghukumnya dan masyarakat pula yang menjadi pengadilnya.

Tomliapat – 13 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s