My Panorama every morning.

Ini sudah hampir 40 hari saya berada di desa kahilin di kecamatan wetar timur pulau wetar. Saya tinggal di sebuah rumah pasturi, rumah khusus untuk kepala pendeta desa yang bertugas di kahilin. Ibu pendeta asli berasal dari ambon. Ipen, panggilan khas masyarakat sini membuat saya pun memanggilnya dengan sebutan yang sama. Ipen tipikal pendeta yang sangat peduli terhadap jemaatnya. Tak ayal ipen pun selalu menjadi sosok yang sangat di segani di desa ini. 
Saya tinggal dan menetap di rumah ipen bukan tanpa sebab, perkenalan pertama saya di desa arwala, desa pusat kecamatan wetar timur sebelum saya ke desa kahilin sudah sangat membuat saya nyaman berada di dekat ipen. Orangnya yang ramah, supple dan dengan suara lantangnya menjadi ciri khas ipen saat sedang bercengkrama dengan siapapun. Selain keramahan ipen pun, rumah pasturi ini bisa dibilang satu satunya rumah yang masuk dalan katagori layak di desa kahilin ini. Memang rumah sendiri hanya berdindingkan bambu kering dan beratapkan daun kelapa, namun ipen menjamin saya bahwa rumahmya yang sederhana ini bisa memberikan kenyaman untuk saya terutama menyangkut sanitasi. Ipen memiliki sanitasi khusus yang hanya dipakai olehnya dan tamu yang mampir dari kota. Dan memang betul, toilet tersebut selalu dikunci agar tidak sembarangan orang memakainya.

 

pemandangan dalam rumah

 

zoom

Seperti biasanya, pagi ini saya terbangun pada jam yang sama setiap harinya, jam 08.00. Aktifitas pertama saya selama di desa kahilin ini adalah cuci muka dan membaca buku. Membaca buku sekarang menjadi hobby baru saya saat saya ada di desa, karena tidak ada hal lain lagi yang bisa saya lakukan selain membaca buku di sebuah desa yang masih belum masuk listrik ini. Buku menjadi sahabat saya dikala mengisi waktu luang. Biasanya saat saya bangun, entah itu pisang goreng atau singkong rebus sudah siap menyapa pagi saya. Sebagai teman sarapan pagi, saya selalu menyempatkan untuk membuat teh manis atau kopi panas yang tinggal diambil di meja makan. Yah, ipen membebaskan saya untuk melakukan berbagai aktifitas selama di rumah ini, ipen menyuruh saya untuk tidak canggung, dan mulai membiasakan diri untuk menjadikan rumah pasturi ini sebagai rumah pribadi sendiri.. Ipen pun berpesan, jika lapar tidak usah ditahan, tinggal langsung saja makan makanan yang sudah ada di meja, tapi ipen pun meminta maaf kalau makanan yang tersedia hanya sekedarnya. Saya pun mamaklumi akan keadaan dan kondisi yang ada dan sayapun harus bisa menyesuaikannya.

Dibalik pintu utama rumah ada kursi tempat saya biasa membaca buku. Jika mulai bosan dengan bacaan, saya menoleh sedikit ke luar pintu dan saya akan selalu disuguhi pemandangan indah dan damai. Pemandangan luarbisa namun sederhana ini sudah sangat cukup untuk membuat saya bersemangat kembali. Laut yang tenang, garis batas horizon dunia yang luas terbentang, dan rumah ibadah jemaat protestan yang masih sederhana, serta hijaunya pohon dan daun yang mulai mengering, sesekali angin bertiup pelan membuat panasnya matahari tidak begitu terasa.

Yah, sesederhana apapun desa ini, semua harus saya syukuri, harus saya nikmati, karena nikmat tuhan memang tidak pernah habis jika diungkapkan dengan kata kata. 🙂

Kahilin, 7 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s