Puding atau ….. (Papeda)

Seru sekaligus konyol

Pagi itu ipen baru saja selesai sembahyang di gereja depan rumah pasturi. Dan sesuai dengan rencana, ipen segera bersiap untuk pergi ke ambon. Ipen harus segera merapat ke ambon untuk mengadakan pertemuan rutin tahunan yang di gelar oleh persekutuan jemaat gereja protestan maluku. Ipen bilang acara ini adalah acara rapat kordinasi sekaligus menyelenggarakan ulang tahun GPM. Selesai berkemas dan bersiap, ipen segera berjalan dengan diteman dua orang bapak yang juga jemaat gereja.

Sesaat ipen pergi, ibu siti, bisa dibilang orang yang membantu ipen dalam tugas keseharian seperti mencuci, memasak, dan mengambil air di parigi terdiam duduk duduk sambil melihat para pemuda yang sedang membetulkan genset untuk acara malam hari. Ohya malam hari ini di desa kahilin pun di gelar acara hari ulang tahun gereja protestan maluku yang ke 80 tahun, sehinga genset satu satunya sebagai pembangkit listrik gereja harus lah dalam kondisi prima.

Terlintas dalam pikiran saya untuk membuat puding, saya membelinya di kupang karena saat itu saya terfikir bahwa selama saya berada di desa ini, pencernaan saya sangat tidak bagus. Saya tidak pernah lancar untuk buang air, mungkin karena saya jarang makan sayuran di sini. Lebih tepatnya bukan jarang, tetapi hampir tidak pernah, karena sayuran pun menjadi barang langka di sini.

memasak puding

Saya iseng untuk menanyakan pada bu siti, apakah beliau bisa membuat puding? Setelah itu saya membawa puding instant yang ada di tas saya dan memberikannya ke ibu siti. Saya sedikit terkaget karena ekspresi bu siti yang betul betul aneh saat melihat bungkus puding berwarna hijau dengan merek terkenal yang saya beli di supermarket. Bu siti membulak balikan kemasan, mencoba membaca instruksinya, dan akhirnya mengatakan kepada saya bahwa dia tidak tahu bagaimana cara memasaknya. Di satu sisi, bu siti tidak mengerti cara memasaknya karena ternyata ibu situ tidak pandai membaca tulisan. Dan bungkus puding itu pun diberikan kepada temannya, ibu atta, yang juga ternyata mengaku tidak bisa memasaknya, dan mereka pun meminta saya untuk mengajarkan cara memasaknya. Karena sudah terlanjur penasaran, sayapun mengistruksikan bu siti untuk membuat api dan membawakan saya panci kecil untuk memasaknya.

Setelah api menyala dan panci di berikan kepada saya, saya pun langsung membuka kemasan puding tersebut dan mengaduknya dengan mencampur air. Setelah itu saya meminta ibu siti untuk mendidihkannya dan terus mengaduknya sampai mendidih. Taklama, tetangga sekitar yang mendengar langsung ramai berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan membuat puding. Luis, remaja yang sedang membetulkan gensetpun langsung merapat dan mengajukan diri untuk menjadi bagian pengaduk masakan. Rasanya dia sudah jenuh dengan engkol mesin genset yang tak kunjung selesai dan langsung mengengkol adonan sampai mendidih. Setelah mendidih, saat panci diangkat, akhirnya ibu ibu yang menonton dengan semangat dan kompak mengatakan : AAAAH, PAPEDAAA TOOOH!!!, itu terlontar saat saya menginstruksikan untuk menungggu sampai adonan dingin dan nanti akan mengeras dan puding siap di makan.

Yaaah, puding memang PAPPEDA. 🙂

Kahilin – 5 Seprember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s