Sekolah atau ….. (?)

Sewaktu kecil, pernah ada yang mengatakan pada saya sesuatu hal yang unik yang banyak terjadi di desa desa sebelah, atau di daerah daerah yang memang masih belum maju dan modern. Saya lahir di bandung, dan di besarkan pula di bandung. Bandung menurut saya sudah menjadi sebuah kota besar yang serba ada. Saya merasa beruntung lahir di sana. Ohya, perkataan yang di maksud adalah begini ; di kota besar sang guru lah yang di cari murid, namun di desa sang muridlah yang di cari guru. Perkataan itu ada benarnya juga, meskipun baru saya sadari setelah lebih dari 25 tahun saya menetap di kota bandung. Dahulu perkataan itu hanya merupakan guyonan atau lelucon semata yang di berikan pada anak anak yang sukar untuk diajak pergi ke sekolah. Perkataan itu akan kerap di lontarkan agar mamacu para siswa yang malas sekolah untuk menjadi rajin pergi ke sekolah, dan mungkin juga agar para siswa bisa lebih bersyukur karena masih banyak guru yang memiliki tanggung jawab penuh untuk mengajar dan mendidik para siswa tersebut. Saat ini, ketika saya harus bekerja di sebuah desa kecil yang masih terbelakang, keberadaan guru terkadang sangat di acuhkan oleh siswanya, sekolah bukan lagi menjadi kebutuhan utama anak anak desa. Kehidupan di desa yang bisa di katagorikan masih miskin dan terbelakang ini memiliki pengertian lain tehadap pendidikan. Meskipun ada beberapa warga yang nampak peduli akan pandidikan adik adik kecilnya kelak, namun terkadang itu hanya ucapan semata tanpa adanya aksi nyata bahwa orang yang mengatakan peduli akan pendidikan di desanya itu hanya mamilih diam takkala guru yang bertugas di desanya pergi entah kemana. Saat di tantang untuk mengapa tidak anda saja yang mengambil alih sebagai guru bantu untuk adik adik mereka di desa? Dia langsung bersilat lidah dengan berbagai alasan yang mancirikan bahwa dia tidak sepenuhnya memperhatikan pendidikan adik adiknya di desa.

bangunan sekolah yang terbengkalai

Alasan yang manurut saya pintar adalah takkala dia bilang bahwa jika dia mengajar, anak anak didik malah tidak akan fokus belajar karena menilai dirinya adalah warga desa biasa, bukan guru yang sebenarnya. Alasan itu mamang masuk diakal menurut saya, tak heran jikalau sayapun berada di posisi sebagai anak yang akan digurui oleh kakak kakak yang masih satu lingkungan dan satu permainan, maka saya pun akan berfikir bahwa dia bukan guru sungguhan yang mampu mengajar. Tapi, apakah itu sebuah alasan yang layak di lontarkan dari seorang warga desa yang mengaku sangat peduli akan pendidikan di desanya? Saat itu mulailah timbul rasa penasaran saya akan riwayat pendidikan dia, saya bertanya pendidikan terakhir dia, dan dia menjawab bahwa dia sekarang berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinnggi di kupang. Ingin rasanya bertanya jurusan kuliah dia, namun niat itu saya urungkan karena saya tidak mau terlihat sedang mengintimidasi dia.

Kembali ke topik pembicaraan mengenai guru. Di desa kecil ini, kebutuhan akan makan dan minum lebih utama dari pada pendidikan itu sendiri. Anak anak lebih memilih bekerja di kebun karena mungkin iba jika tidak membantu orang tua mereka untuk mencari uang demi keberlangsungan ekonomi mereka. Tak ayal, jikalau ada guru pun, sang guru akan bersusah payah dahulu untuk memanggil anak anak di ladang untuk bersekolah, dan akibatnya banyak juga guru yang akhirnya tidak betah untuk berada di lokasi desa ini. Pernah saya tanyakan status guru guru yang bekerja di desa kecil ini. Status mereka sebenarnya adalah pegawai negeri sipil yang memeiliki SK guru dan SK penempatan di beberapa desa kecil yang ada di indonesia. Namun banyak juga dari guru guru itu dengan berbagai alasan tidak menjalankan tanggung jawabnya itu karena berbagai faktor, akses transportasi, akses telekomunikasi, dan juga mungkin tempat tinggal yang dirasa masih tidak ada dan kalaupun ada sangat tidak layak. Untuk masuk ke satu desa di pulau wetar ini misalnya, keberadaan kapal penumpang yang singgah di pulau ini masih sangat sedikit. Selain itu jadwa kapal pun hanya akan datang dan pergi setiap 2 minggu sekali dengan arah tujuan yang sama. Karena ketidak adaan demaga, kapal pun harus berlabuh di temgah laut yang kemudian penumpang akan dijemput oleh jolor atau perahu perahu kecil yang bersandar di sampinh kapal. Disini faktor keselamatan kadang menjadi ancaman para guru ataupun masyarakat di desa. Untungnya masyarakat pulau sudah terbiasa akan kondisi ini, sehingga mereka dapat beradaptasi dengan keadaan yang ada, tapi belum tentu bagi seorang guru yang mungkin terbiasa dengan kehidupan di kota. Belum lagi masalah telekomunikasi yang terkadang menghambat semua aktifitas. Di pulau ini, masih belum ada jaringan telekomunikasi yang bisa digunakan oleh masyarakat. Tidak adanya komunikasi juga menghambat laju ekonomi, dan juga laju informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat ataupun guru yang berada di desa. Tidakadanya telekomunikasi pun membuat banyak guru yang mengambil izin cuti beberapa hati tidak bisa dilacak dan di hubungi dan hasilnya guru tersebut bahkan tidak pernah lagi hadir di desa untuk mengajar.

semangat mereka tetap ada

Jadi, menurut pemahaman saya, bukan masalah penting atau tidaknya pendidikan di sebuah desa yang masih terbelakang ini. Yang lebih penting adalah kesadaran dari masyarakat desa sendiri agar minimal mampu membaca dan menulis dan tentunya semangat untuk terlepas dari belenggu kemiskinan yang ada di desanya. Tidak perlu banyak menyalahkan guru guru yang tidak bertanggung jawab dengan Surat Tugasnya, tapi lebih ke tanggung jawab untuk membangun mental dan terus menebarkan mimpi bagi anak anak di desa. Pendidikan memang menjunjang masa depan, tapi kebutuhan akan pangan lebih penting untuk masyarakat desa ini untuk terus berjuang hidup di pulau yang masih terbelanag ini.
Tomliapat 9 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s