Pencari Bia Laut

Tubuh kecilnya dengan gagah berani memegang sebuah parang dan menggantungkan tas kecil yang terbuat dari kulit bambu. Sore itu riska jalan bersama inda menuju sebuah tanggul laut yang membatasi area pedesaan dan pantai. Ini adalah kegitan rutin setiap sore yang selalu dilakukan oleh kedua gadis yang masih menduduki bangku sekolah dasar. Inda dan riska merupakan sabahat yang selalu berpergian berdua kemanapun. Saat main atau saat duduk dibangku kelas, kedua gadis ini tidak pernah berpisah.

Sore itu mereka sudah bersiap untuk mencari bia di karang yang kering karena air laut sedang surut. Bia sendiri adalah sejenis siput laut yang biasa hidup di batu batu karang. Hanya bermodalkan parang dan sebuah wadah penampungan, riska dan inda sangat piawai sekali untuk menemukan hewan yang berkamuflase menyerupai batuan karang yang sudah berlumut. Inda selalu membawa sehelai kain yang digunakannya untuk menutupi wajah dari sengatan sinar matahari, karena memang sore itu matahari masih berada di atas dan panas masih meraja rela. Suhu dilautan sore itu bisa dibilang sangat panas sekali, karena memang ini adalah bulan kemarau dimana matahari sangat terik dan laut sedang musim barat, dimana air sangat tenang.

inda dan riska
inda dan riska

Inda dan riska dengan cekatan mengambil satu persatu bia yang ada disela sela batu karang. Mata mereka sudah terbiasa melihat dan menemukan bia walaupun terkadang bia ini malah terlihat seperti karang kecil sebesar kerikil. Dengan cekatan, inda dan riska mengumpulkan banyak bia untuk diolah menjadi masakan yang sangat lezat di rumah. Menurut mereka, bia ini nanti akan direbus dan dikeluarkan isinya, lalu ditumis menggunakan bawang dan siap untuk menjadi sajian lezat makan malam mereka dan keluarga.

Sesesaat kedua gadis ini beristirahat dahulu dipantai sambil memainkan kelomang yang masih kecil. Mereka mengumpulkan kelomang kelomang itu lalu kemudian kelomang itu di biarkan keluar dari sarangnya sehingga mereka para kelomang terlihat seperti sedang berlomba untuk segera sampai di air laut. Buat mereka, kelomang yang sedang berlomba itu sudah menjadi permainan yang sangat menghibur mereka disaat mereka kelelahan mencari bia. Selain bermain kelomang yang ada dipantai, terkadang riska dan inda pun menggunakan parang yang mereka bawa sebagai mainan mereka. Tapi, jangan salah arti, parang tersebut mereka gunakan untuk memecahan batuan yang kecil, lalu seteleh batu tersebut terbelah, mereka akan melemparkannya jauh jauh ke laut lepas. Dan siapa yang melempar paling jauh, itulah pemenangnya.

Selain mencari bia, terkadang mereka pun mendapatkan kerang yang masyarkat sekitar menyebutnya sebagai LOLA, namun takkala lola itu mereka temukan, mereka langsung membuangnya karena menurut mereka, sekarang ini lola masih dikenai SASI gereja. Petaka hukumnya apabila mereka harus melanggar SASI gereja tersebut. Meskipun masih kecil, namum mereka sudah terdidik untuk tidak melanggar aturan yang sudah dibuat baik oleh gereja ataupun oleh masyarakat desa. Malah saat menemukan lola, mereka terlihat kecewa, karena meskipun tidak ada yang melihat, namun mereka percaya, apabila sasi itu dilanggar, mereka akan kena petaka, dan otomatis raut wajah mereka sedikit kecewa takkala melihat adanya lola yang banyak mereka temukan.

Miris memang saat mengetahui bahwa mereka tidak tahu apabila sudah besar nanti akan menjadi apa. Meskipun mereka memiliki cita cita namun mereka seakan tidak yakin dengan cita cita mereka dimasa depan. Inda dan riska memang masih muda, bahkan masih terlalu muda takkala ternyata meraka harus menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari rejaki sehari hari. Orang tua mereka sudah mendidik mereka sejak kacil untuk mencari makan sendiri. Mereka sudah harus terjun mencari ikan atau kerang kerang laut minimal untuk mereka makan sehari hari. Bila tidak melakukan kegitan itu, berarti mereka tidak bisa makan pada hari itu. Sudah menjadi budaya di masyarakat di desa ini bahwa perempuanlah yang banyak bekerja untuk mencari makan sehari hari. Para kaum perempuan di desa ini dipaksa untuk melaut mencari ikan, bahkan kalau mampu mereka pun harus menyelam untuk mencari ikan. Kebanyakan kaum laki laki hanya menunggu hasil yang dibawa oleh kaum perempuan. Tetapi sekarang ini sudah ada beberapa kaum laki laki di desa ini yang mulai sadar bahwa sebanarnya kewajiban untuk mencari nafkah itu adalah kaum laki laki, namun itu hanya beberapa orang saja yang melakukannya, akan tetapi sebagian besar masyarakat masih menjadikan kaum perempuan adalah kaum yang super yang harus serba bisa, mulai dari mengurus rumah sampai dengan menyelam untuk menembak ikan.

tangkapan Inda
tangkapan Inda

Inda dan riska hanyalah dua orang dari gadis kecil yang ada di desa ini. Masih terlalu banyak inda dan riska lainnya yang bernasib sama, yang tidak sabar untuk mencari ikan di meti (karang yang kering karena air laut sedang surut) walaupun masih dalam jam pelajar sekolah berlangsung. Semoga semakin berkembangnya pengetahuan dasar, dan pertumbuhan tingkat ekonomi desa mulai memberikan pemahaman bagi para orang tua di desa ini untuk memberikan hak pendidikan dan hak bermain bagi anak yang masih dalam perhatian orang tua seperti inda dan riska ini. Semoga pola pikir dan sudut pandang para orang tua mulai terbuka untuk tidak menjadikan anak sebagai pekerja dibawah umur walaupun ini bukan “kerja” yang sesungguhnya. Dan semoga inda dan riska selalu yakin akan tergapainya mimpi mereka dikemudian hari.

Tomliapat – 10 September 15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s