HUKUM (an) Warga Desa

Suatu siang saya dikejutkan dengan adanya teriakan dari pak camat, yah sore itu pak camat arwala nampak sangat marah kepada peduduk desa. Pak camat berteriak sambil meluapkan emosinya karena saat itu sedang ada pertikaian antar dua kampung yang sedang bermain bola. Saya tidak tahu persis bagaimana kejadian itu terjadi, karena saya sedang berada dikamar untuk menyusun laporan yang ingin saya cicil agar bisa selasai tepat waktu. Dengan suara yang lantang dan keras khas orang ambon, pak camat berteriak sambil berjanji akan memenjarakan siapa siapa saja yang terlibat dalam pertengkaran itu.

Sore itu, upacara penurunan sang saka bendera merah putih baru saja akan dilaksanakan. Pak camat sudah bersiap dengan pakaian dinas putih kebesarannya untuk menjadi inspector upacara. Namun disela persiapannya tersebut emosi beliau naik dengan seketika karena beliau melihat secara langsung baku hantam yang terjadi saat pertandingan sepakbola. Suasana desa pun mendadak menjadi panas dan sangat menyeramkan. Dua kubu dari desa arwala dan desa moning sore itu sedang bertanding sepakbola untuk memperebutkan piala kecamatan. Namun ditengah pertandingan tampaknya emosi dari para pemain tidak bisa dibendung dan terjadilah pertikaian dilapangan yang berlanjut ke luar lapangan. Dilaporkan bahwa ada salah seorang pemuda desa arwala yang mengalami pendarahan di muka karena terkena pukulan keras dari seorang pemuda dari desa moning.

kordinasi camat dengan para pejabat desa.
kordinasi camat dengan para pejabat desa.

Setelah Susana agak reda, upacara penurunan sang saka pun tetap dilanjutkan, namun Nampak adanya sedikit raut muka sedih dan kecewa yang dipancanrkan dari pak camat, karena beliau baru saja menjabat menjadi camat sekitar 3 bulan ke belakang. Mungkin beliau sedikit bersedih karena dimasa pemerintahannya yang bisa dibilang masih seumur jagung ini harus dinodai oleh pertengkaran antar pemuda desa dan berlangsung dihari yang sacral, yaitu 17 agustus 2015. Meskipun upacara penurunan bendera tetap berlangsung secara khitmad, tapi masih ada kekurangnya yaitu menurunnya antusiasme warga untuk mengikuti kegitan upacara. Dan benar saja, hanya ada 2 kelompok warga desa yang hadir dari jumlah total 6 kelompok desa yang diundang. Setelah upacara selesaipun, pak camat langsung menginstruksikan semua kepala desa untuk berkumpul, terutama kepala desa yang memiliki kepentingan dalam keributan itu.

Setelah para kepala desa berkumpul di rumah dinas camat, pak camat pun memulai diksusi dan menyampaikan kekecewaannya terhadap kejadian sore itu. Banyak instruksi yang langsung dibuat oleh pak camat satu diantaranya yaitu menyita sopi, minuman keras tradisional khas penduduk yang banyak dijual di warung warung. Pak camat ingin semua sopi yang masih ada di warung warung segera di kumpulkan di rumah dinas camat, penyitaan ini hanya sementara sampai acara kegitan selesai, dan bila tidak aka kegiatan acara kemerdekaan ini akan ditutup satu pihak oleh pak camat. Malam itupun pak camat meminta pada kepala kades kedua desa yang bertengkar untuk segera menyelesaikan masalah ini paling lambat 1×6 jam terhitung jam 06.00 WIT. Setelah itu pun para kepala desa yang bersangkutan langsung menjalankan tugasnya dengan sigap. Malam itu pun ternyata tidak hanya para kades yang berkumpul, namun ada juga sesepuh adat yang ikut hadir dalam pertamuan itu. Para ketua pemuda pun ikut berkumpul.

Satu yang sangat dikhawatirkan adalah cerita sang tetua adat yang menilai bahwa perkelahian adalah warisan dari nenek moyang mereka pada jaman dahulu. Perkalahian pada jaman dahulu akan menyimpan dendam dan baru berakhir apabila salah satu dari meraka ada yang mati, dan pak camat sangat tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Namun, lanjut sang sesepuh adat, tradisi itu lambat laun sudah tidak diikuti lagi dan bergantikan menjadi penyelesaian adat secara kekeluargaan dan diskusi. Musyawarah mencapai mufakat pun sekarang banyak dilakukan di desa untuk menyelesaikan semua persoalan yang ada. Di sela musyawarah pun pak camat sempat bebesar hati apabaila memang beliau tidak diterima oleh para masyarakat, beliau pun menilai bahwa masyarakat masih enggan untuk ditinggal oleh camat lama yang memang memiliki peran yang lebih dalam membangun desa ini, namun pemikiran itu pun ditolak oleh semua kepala desa karana semua masyarakat sangat senang akan keberadaan pak camat yang baru.

Hasil musyawarah pun akhirnya mencapai mufakat, yaitu para kades bersedia menjadi penjamin agar kejadian serupa tidak terjadi lagi, dan akhirnya kegiatan perayaan pun tetap dilanjutkan sesuai dengan jadwal yang ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s