2 Jam Menuju Desa Paling Barat Pulau Wetar Timur – Desa Tomliapat

Siang itu, ada suara panggilan dari pak kades desa tomliapat,

“mas… mas….” Suara lantangnya membangunkan saya dari enaknya tidur siang di rumah dinas pak camat, saya langsung terperanjat bangun karena memang hari itu saya sudah berjanji untuk ikut perjalanan menuju desa tomliapat, desa dampingan saya untuk melakukan monitoring dan evaluasi sarana dan prasarana desa bantuan pemerintah pusat dan kementrian perikanan dan kelautan yaitu PLTS.

Saya pun langsung menyawut dengan semangat panggilan dari pak kades tersebut.

“ya pak? Sudah akan berangkat pak?” Tanya saya dengan penuh antusias.

“iya mas, tinggal menunggu mas saja” lanjut pak kades.

“baik pak, tunggu sebentar, saya izin pamit sebentar ke pak camat” sahut saya.

“baik mas, segera ya, karena gelombang laut tidak bisa ditunggu”. Perintah pak kades dengan penuh kegetiran.

“baik pak.” Sahut saya.

Namun, sore itu pak camat sedang asik tertidur pulas, sehingga ketukan pintu saya pun tidak dapat membangunkannya, jadi terpaksa saya pergi tanpa pamit karena sudah sangat ditunggu oleh rombongan lain yang sama sama pergi ke desa tomliapat. Saya pun langsung berjalan mengangkat tas ransel untuk segera menuju ke sebuah speedboat yang memang sudah terparkir di pinggir pantai. Dan semua rombongan langsung bergegas naik ketika melihat saya berjalan mendekati mereka. Saya pun mengatakan pada pak kades bahwa pak camat masih tertidur, dan pak kades pun memakluminya karena pak camat pun tidak akan marah apabila saya pergi tanpa pamit, karena pak camat sudah paham betul dengan kodisi cuaca yang ada di lautan. Mendengar itu, saya pun sedikit lega, dan saya akan mengabari pak camat dengan menggunakan radio ssb setalah saya sampai di desa tomliapat nanti.

Ini adalah perjalanan pertama saya menggunakan kapal speedboat terbuka dengan mesin Yamaha 150Pk, orang wetar bilang, ini adalah motor, yang sebenarnya adalah sebiah kapal jolor yang terbuat dari fiber glass yang biasa digunakan para nelayan untuk mencari ikan di perairan yang dangkal. Kapal ini adalah bantuan dari dinas kelautan dan perikanan provinsi Maluku barat daya, dan masyarakat menggunakannya bukan untuk mencari ikan dilautan, tetapi lebih menjadi sarana transportasi antar desa, itupun kalau memang ada minyak berlebih. Hal ini terjadi, karena speedboat akan lebih menguntungkan apabila dipakai untuk mengantarkan warga yang akan ke desa tetangga atau ke pusat kecamatan. Apabila dipakai untuk mencari ikan, maka kerugian yang selalau didapatkan oleh masyarakat karena hasil tangkap mereka tidak bisa dijual ke warga sekitar kampung.

pantai ilpokil kecil di pulau wetar
pantai ilpokil kecil di pulau wetar

Selama perjalanan laut dengan menuggunakan speedboat tersebut, hanya doa yang keluar dari dalam hati saya, karena memang saya melihat gelombang yang sangat tinggi. Saya memilik trauma dengan besarnya gelombang dan lagi saya memang sampai sekarang masih takut apabila harus terjatuh ke laut yang dalam. Memang, perjalanan laut menuju desa tomliapat dengan menggunakan speedboat tidak membutuhkan waktu yang lama, tapi dengan besarnya gelombang, hanya pemberani saja yang bisa menaklukan besarnya gelombang sehingga bisa sampai dengan selamat di desa. Buat masyarakat desa memang gelombang sebesar itu dirasa masih kecil, namun bagi saya gelombang itu sudah cukup nenakutkan karena saya belum tebiasa mengarunginya.

Perjalanan menuju desa tomliapat dengan speedboat menurut pak kades bisa ditempun dengan waktu 1 jam saja. Saya hanya mengangguk saja karena ini adalah perjalanan pertama saya menuju desa tersebut. Setelah kurang lebih 45 menit perjalanan, kami tiba di desa kahilin (desa ini adalah desa sebenarnya saya bertugas), sang nahkoda motor saat itu memberitahukan bahwa minyak dirasa tidak cukup untuk bisa sampai di desa tomliapat. Saya saat itu menjadi panik dan khawatir karena saya takut apabila harus terombang-ambing di tengah lautan. Awalnya sang nahkoda akan bersandar dahulu di desa kahilin, dan akhirnya speedboat pun masuk ke pelabuhan seadanya tepat disebuah celah kecil yang banyak batu karangnya. Setelah berkompromi sesaat, sang nahkoda merasa minyak yang ada dirasa cukup untuk sampai ke desa tujuan dan akhinya kami pun malenjutkan perjalanan. Saya kambali terkejut karena balum 5 menit meninggalkan tanjung “demaga” desa kahilin tiba tiba mesin motor itu mati seperti kehabisan bensin, dan benar saja kami harus kembali ke “demaga” darurat desa kahilin karena memang minyak yang ada tidak akan cukup untuk samapi di desa tujuan. Sayapun diberitahu oleh penumpang lain, apabila pak kades datang dengan tidak membawa minyak dari desa kahilin, berarti kami harus berjalan memasuki hutan dan mengitari tebing dan gunung untuk sampai tujuan. Tanpa kompromi dan berfikir panjang sayapun langsung meng-iyakan keputusan untuk berjalan kaki karena memang sebenarnya saya lebih takut akan gelombang dibandingkan jika harus berjalan berjam jam menyusuri hutan. Saya dan rombongan lainpun akhrinya turun dari kapal dan memulai perjalanan darat dengan berjalan kaki menuju desa tomliapat.

Awal perjalanan saya disuguhi dengan tanjakan terjal untuk masuk ke pusat desa kahilin. Tanjakan lumayan terjal namun sudah dibuatkan tangga beton itu lumayan membuat separuh tenaga terkuras, namun karena antusiasme saya masih sangat bersemangat, sayapun tidak mau menyerah hanya karena tanjakan yang cuma kurang lebih 100 meter itu. Saya jadi berfikir betapa penuh perjuanganyanya masyarakat di desa kahilin ini, karena untuk mendapatkan air, mereka harus berjalan turun ke sumber air dan kembali menanjak setelah air mereka dapat, selain itu pula sumber air mereka benar-benar menghawatirkan. Karena sumber air yang dimiliki oleh masyarakat di desa kahilin berupa air tawar yang mengalir dari celeh sempit dibabatuan, dan kalau air laut sedang pasang, otomastis sumber air tersebut bercampur dengan air laut sehingga warga sama sekali tidak dapat mendapatkan air tawar. Tempatnya pun lebih mirip dengan cekungan sebesar ember yang tetap harus ditimba menggunakan gayung kecil ketika ingin mendapatkan air. Debit air pun benar benar sangat terbatas, namun mereka hanya bisa pasrah karena memang itulah sumber air satu satunya. Cerita bagaimana sulitnya air di desa kahillin akan saya bahas dikemudian hari.

jalanan terjal menuju lokasi
jalanan terjal menuju lokasi

Setelah selesai dari jalan beton di desa kahilin, berarti ini tandanya berjalan dijalan setapak akan dimulai. Benar saja, setalah semen beton jalan habis ujungnya, bertepatan dengan gedung sekolah megah hasil pembangunan PNPM mandiri, kami mulai masuk jalan setapak, dan beberapa meter kemudian pemandangan berganti dengan kebun jambu mette yang ada disepanjang jalan, membentuk hutan rimbun sehingga jalanan menjadi teduh. Melanjutkan perjalanan semakin jauh kami disuguhi oleh pemandangan alami buatan manusia, yaitu hamparan kebun jagung yang sudah dipanen yang hanya tinggal menyisakan batang kering yang sudah tidak berisi jagung lagi. Kemudian ada juga kebun singkong atau yang popular di wetar sering disebut kasbi. Ada yang unik setiap kali saya menemukan kebun ditengah hutan ini, saya akan melihat “rumah kebun”, yaitu rumah sederhana dan sangat tradisional sekali yang dibuat dari kayu beratapkan daun kelapa, namun bentuknya yang menyerupai setangah lingkaran penuh ini saya rasa memiliki keunikan tersendiri, karena rumah tersebut layaknya rumah rumah suku pedalaman dan akan dipakai seperti layaknya rumah tinggal pada saat para pekerja sedang berkebun dilahannya masing-masing. Kami sesekali “mencuri” air dari rumah rumah kebun itu, karena memang perjalanan sangat menguras tenaga. Setalah keluar dari hutan, dan melihat kebun, pamandangan yang tak kalah memukaunya adalah lautan biru yang ada di samping kiri saya, dan gunung gagah yang ada di kanan saya. Ternyata memang rute perjalanan kami adalah jalan menyusur laut yang masuk dan keluar hutan. Saya semakin bersemangat ketika pemandangan berganti menjadi padang savanna yang sangat indah. Jalan setapak di padang savanna dengan kiri hamparan laut biru dan sebalah kanan tebing gunung yang sangat kokoh benar-benar membuat perjalanan ini menyenangkan dan membuat saya terpukau dibuatnya. Alam benar benar sempurna, lukisan allah tidak ada yang bisa menyaingi keindahannya. Paduan gradasi warna kuning kehijauan savanna, biru muda hingga tua air laut, coklatnya pohon pohon di gunung, putinnya awan, dan birunya langit benar benar membuat siapa saja orang pasti akan takjub dibuatnya. Sungguh pemandangan yang sangat luat biasa.

kapal singgah di desa tomliapat
kapal singgah di desa tomliapat

Mendekati desa terdekat, yaitu desa ilpokil, pemandangan pun benar-benar membuat saya seakan menemukan “surga” pemandangan. Walaupun jalanan sudah mulai terjal karena lagi-lagi harus menaiki dan menuruni bukit, namun saya tidak pernah merasa kecewa atas perjalanan ini. Banar benar manakjubkan. Banyaknya tempat-tempat indah dan memanjakan mata ini benar-benar membuat saya bersemangat untuk terus melangkah dan melihat kedepan, melihat “kejutan” apalagi yang akan saya dapatkan didepan. Dan itu akan saya ceritakan lagi dilain waktu.

Wetar

21 agustus 2015

Advertisements

One thought on “2 Jam Menuju Desa Paling Barat Pulau Wetar Timur – Desa Tomliapat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s