Teringat perjalanan

Kembali mengingat perjalanan yang sudah lama terjadi tiba tiba terbesit dalam pikiran saya. Perjalanan menuju bali dengan sepeda motor seorang diri membuat saya tersenyum kecil sendirian di tengah keramaian orang yang sedang beraktifitas sore ini. Saya kembali menngingat betapa enaknya makan mie nyemek banyumas, dan juga sate buntel di tegal. Bertemu seorang sahabat di yogjakarta, serta bagaimana saya diingatkan agar berhati hati saat menaruh sepeda motor oleh seorang bapak yang kebetulan makan siang bareng saya di warteg kecil pinggiran probolinggo, ataupun ingat bagaimana tibatiba saya berbelok ke sebuah mesjid yang jemaahnya banyak berisi veteran perang di surabaya. Kejadian semua itu sangat unik dan begitu saja berlalu. Perjalanan menempuh jarak kurang lebih 1100km itu pun benar-benar selalu teringat di kepala saya, sampai suatu saat nanti saya ingin mengulanginya dengan rute baru tentunya.Kesempatan kali ini saya ingin menceritakan suasana di jalanan selama saya berkendara. Saya memulai perjalanan melalui jalur selatan jawa. Teringat oleh saya kejadian jatuhnya seorang ibu yang di bonceng sepeda motor, ibu tersebut sedang menggendong seorang bayi kecil di genggamannya, dan naluri seorang ibu untuk terus menjaga anaknya saya lihat sendiri dengan mata kepala saya. Walaupun terjatuh ibu tersebut tetap berusaha memeluk anaknya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa anaknya tersebut. Kejadian ini terjadi mungkin karena jalanan licin dan lagi kondisi jalan yang menurun sangat tajam. Sang pengemudi motor berusaha untuk mengendalikan motornya disaat turunan, namun naas menimpa dan akhirnya haruslah terjatuh. Saat itu saya dengan sigap langsung memarkirkan motor saya di pinggiran jalan, lalu menghampiri sang ibu dan membantu kecelakaan tersebut. Saya langsung berfikir, bahwa keselamatan berlalulintas itu sangat penting sekali. Dan saat itu pula saya tidak berani menggeber motor saya lebih kencang lagi.

Indahnya alam pemandangan indonesia, khususnya pulau jawa bekali kali membuat saya terkagum kagum. Komposisi antara hijaunya sawah, beningnya air sungai yang mengalir, dan juga rimbunnya pohon di kiri kanan jalan membuat perjalanan ini rasanya begitu sangat menyenangkan. Saya tidak menemukan kondisi lingkungan seperti itu saat saya berada di kota. Suatu saat perjalanan saya harus terhenti lagi karena adanya kereta api yang melintas. Palang kereta yang berwarna merah putih itu nampak sangat indah sekali saat dipadukan bersama padang sawah yang hijau, dan juga aliran sungai di sepanjang jalan. Meskipun saat itu suasana jalan sangat ramai dan cenderung macet, tapi kegagahan sang ular besi itu tidak dapat dicegah takkala melintas dengan anggunnya di rel yang terlihat tak ada ujungnya itu. Sungguh menakjubkan dan luar biasa pemandangan saat itu. Sepanjang jalan lurus menuju kebumen, saya penasaran dengan banyaknya pedagang es dawet ayu yang berjajar dikiri kanan jalan. Gerobak khas jawa tanpa roda dengan tutup tirai warna warni bertulisan dawet ayu itu membuat saya tertarik untuk mencoba rasanya. Dawet hitam dicampur air santan kelapa itu membuat dahaga saya seketika hilang dan menjadi segar kembali. Belum lagi tempatnya yang teduh dan banyak pohon rindang dengan background sawah dan bukit membuat saya betah untuk berlama-lama sambil melepas rasa capek berkendara. Berfoto pun menjadi aktivitas yang sangat wajib saya lakukan. Lama berada disini sambil menikmati pemandangan justru membuat saya menjadi ngantuk, dan akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang ini.

Antusiasme selama perjalanan membuat jarak menjadi tidak terasa, tepat jam 5 sore, saya sampai di kulonprogo, kabupaten perbatasan dengan kota yogjakarta. Disitu saya terpesona dengan jembatan lama dengan konstruksi jadul yang begitu besar. Saya berhenti sejanak untuk berfoto dan menikmati sedikit sunset yang kebetulan saat itu sudah sore hari. Perjalanan menuju kota Yogjakarta pun saya lanjutkan.

Sampai di Yogjakarta, saya teringat akan charger handphone saya yang tertinggal di Bandung. Ini salah satu ketoledoran saya karena saya pergi terburu-buru dan melupakan salah satu peralatan penting yang harus dibawa saat perjalanan. Akhirnya saya pun mau tidak mau harus mencari toko asesoris handphone hanya untuk mancari charger agar saya tetap bisa berkomunikasi, yang otomatis saya harus mengeluarkan biaya tak terduga yang sudah saya pisahkan. Saya pun memilih jenis charger yang paling murah, tidak peduli apakah itu KW atau original china, yang penting baterai handphone saya bisa tetap menyala. Setelah mendapatkan charger, saya pun bergegas menuju kota Yogjakarta, berkeliling di jln malioboro dan mencari makan di sebuah restoran padang yang memajang harga mahasiswa. Restoran padang disana cukuo unik, hampir selalu perang harga agar bisa menarik banyak pelanggan, sehingga tidak heran kalau printout harga makanan yang sangat murah akan terpajang didepan kaca etalase restoran tersebut.

Nasi redang : Rp.8000, yah siapa yang tidak tertarik melihat harga semurah itu. Sayapun langsung memarkirkan motor depan restoran tersebut dan langsung mencari piring dan mangambil nasi serta rendang yang sangat menggugah selera didepan mata saya tersebut. Taklupa sayapun memesan the manis panas sebagai minuman pelengkap sehabis makan. Dan benar saja, saat saya akan membayar dikasir, tinggal menyebut rendang dan the manis panas, petugas kasir langsung menberikan harga yang harus saya bayar, Rp 10.000,- sangat murah sekali.

-cont.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s