Mereka, yang mengadu.

Sore hari, sepulang dari aktifitas, saya di ajak oleh salah satu teman untuk mengunjungi rumah temannya, dengan alasan mencari suasana baru, maka saya pun mengiyakan ajakannya. Sebelumnya teman saya tersebut sempat memberiTahukan temannya itu bahwa sore hari kami akan mengunjungi rumahnya bia telpon. Tepat jam 17.00 akhirnya kami pun pergi menuju tempat yang dimaksud. Tidak jauh letaknya, cuma sekitar 30 menit dengan berjalan kaki dari dorm tempat saya menginap.
Selama berjalan, saya tidak berfikir apa apa soal sahabat teman saya ini, yang saya tahu dia adalah seorang pekerja, namun saya tidak tahu apa pekerjaan dia. Sesampainya di lokasi, pintu masuk dorm yang tebuat dari kaca transparan selalu terbuka. Nampak 3 buah mesin cuci dan juga pakaian yang basah tergantung begitu masuk pintu tersebut. Ternyata, setelah masuk pintu utama, saya melihat ada 4 pintu berwarna hijau yang terbuat dari besi, dan tertutup sangat rapat. Sandal dan sepatu berserakan di depan masing masing pintu tersebut. Temanku memgetuk kamar nomer 3, ketukan pertama masih belum ada jawaban dari dalam kamar. Lanjut ke ketukan kedua, dan baru pada ketukan ketiga, ada orang yang meyawut dan akhirnya membukakan pintu tersebut. Saya dan teman saya pun masuk ke kamar tersebut, dan saya melihat ternyata di kamar yang berukuran kurang lebih 3×5 meter itu nampak penuh dengan banyaknya orang yanh sedang tertidur pulas, namun ada dalah satu dari mereka yang akhirnya terbangun karena kahadiran kami. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, dan hah? Kamar sekecil itu diisi oleh 8 orang dan semuanya sedang tertidur pulas. Mereka tidur saling berhimpitan. Tidak ada kasur yang terlihat nyaman, semua hanya beralaskan matras yang lebih mirip kasur palembang kalau di indonesia.

dorm seadanya

Sayapun akhirnya berkenalan dengan mereka semua. Wahyu, abah, diki, abah, ua, obi, agus, dede, dan hasan. Mereka semua adalah penghuni kamar kecil itu dan ternyata mereka semua adalah orang indonesia yang sudah hampir 10 tahun lebih bekerja di salahsatu pabrik di korea. Saya heran awalnya, saya kira mereka adalah pegawai yang memikiki izin dari kedubes dengan visa kerja yang masih aktif, tapi setelah saya ngobrol, ternyata mereka semua adalah pegawai yang sudaj tidak memiliki izin kerja resmi di korea. Sayapun menjadi tambah penasaran dan makin intens berbibcang dengan mereka. Salah satu dari mereka mengatakan, bahwa asalnya mereka semua punya izin resmi, namun karena tempat pekerjaan terdahulu tidak nyaman, akhirnya mereka memutuskan untuk kabur dari tempat kerja awal mereka. Dan mengapa mereka kabur, ternyata tempat kerja awal mereka adalah di kapal pencarian ikan, dan menurut mereka tempat kerja nya sangat mempertaruhkan nyawa, selain itu salary yang didapat pun mereka pikir tidak layak dan karena alasan itulah banyak dari mereka yang kabur untuk bisa bekerja di darat.

Apa tidak takut deportasi? Kalimat pertanyaan itu yang langsung saya tanyakan kepada mereka. Jawaban mereka cukup singkat, tidak, asal hati hati saja. Yah, jawaban simple mereka yang mengharuskan mereka selalu waspada dan awas akan kehadiran polisi, atau bahkan kehadiran polisi imigrasi yang biasanya akan merajia indentitas para pendatang ini. Bahkan abah dengan nada polos mengatakan, meraka sebenarnya tidak takut terhadap polisi, tapi mereka takut pada serangam polisi. Saya pun tertawa kecil dan mencoba menelaah apa artii dari ucapan tersebut. Semakin banyak obrolan yang kami lakukan, akhirnya salah satu dari mereka menyarankan saya untuk mengikituti jejak mereka. Dengan alasa mendapatkan visa yang sekarang menjadi sulit, bayaran kerja disini pun lumayan besar untuk kurs indonesia, apalagi kerja di darat. Namun, tentulah saya tidak akan mengikuti jejak mereka, karena selain tidak aman, keseharian pun pasti akan selalu gelisah karena sewaktu-waktu akan datang pemeriksaan keimigrasian. Akhirnya saya jadi mengerti, mengapa saat saya mengetuk pintu, jawaban dari dalam sangat lama, Walaupun sebenernya saya yakin ketukan pintu itu akan sangat terdengar sekali untuk kamar yang samgat kecil itu.

 

kamar

Lagi lagi masalah himpitan ekonomi. Teman baru saya ini mengakui bahwa hampir semua dari 8 orang itu hanya berpendidikan sampai sma. Bahkan di indonesia hasan adalah mantan supir angkot di cianjur yang penghasilnya sangat tidak menentu. Obi mungkin salah satu dari mereka yang paling tinggi sekolahnya, dia tamat sma namun sudah lama tidak memiliki pekerjaan di indonesia. Tawaran menjadi tki resmi telah obi jalani, dan diapun lolos untuk di berangkatkan ke korea, namun pabrik terdahulu obi sangat tidak menyenangkan, selain salary yang kecil, obi bercerita bahwa dia adalah seorang operator press dengan menggunakan kaki, dan tentu sangat berbahaya karena banyak kasus teman teman satu pabrik obi mengalami patah jari akibat jari kepress mesin. Oleh karena alasan itulah obi kabur dari tempat kerjanya terdahulu dan rela harus mengorbankan visa kerja resminya. Lain halnya dengan agus, wahyu, diki, abah, dan dede, mereka dahulu adalah pegawai di kapal ikan, kapal yang hanya berlabuh satuhari di darat hanya untuk menurukan ikan hasil tangkapan, dan selama 6 hari harus berada di lautan. Cerita unik muncul dari abah yang sama sekali tidak mengerti bahasa korea, apalagi bahasa inggris. Abah hanya tamatan sd yang dengan modal nekat, dia pergi ke korea untuk mengais rejeki. Abah sudah hampir 8 tahun di korea dan tidak pernah pulang seharipun ke indonesia. Pekerjaannya di indonesia hanya sebagai buruh empang (kolam ikan) yang penghasilannya sangat minim untuk menafkahi keluarganya.

 

meraka tetap bahagia

Hasil jerih payah dan pengorbanan mereka di korea sekarang mulai membuahkan hasil. Pengorbanan mereka meninggalkan keluarga untuk waktu yang lama tidaklah sia sia. Ua mampu menyekolahkan anaknya sampai di perguruan tinggi. Abah telah memiliki rumah sendiri di indonesia, dan juga ana anaknya sedang bersekolah di sma. Wahyu, obi, akan menikah saat nanti pulang ke indonesia, mereka rasa tabungannya sudah cukup untuk membayar denda imigrasi dan memulai usaha di Indonesia. Bisnis kulit agus semakin jalan di indonesia. Diki sudah memiliki anak yang masih balita, dan mungkin putri kecilnya baru akan bertemu sama ayahnya sekitar 3 tahun lagi dari saat tulisan ini saya buat. Rumah dan mobil milik hasan sudah siap menjadi mainan baru takkala hasan pulang ke indonesia. Sekarang, derajat orang tua mereka di indonesia pun meningkat saat anakanaknya berpenghasilan dan bekerja di korea.

Kerja ilegal atau tidak, selama kerjaan itu halal saya rasa akan menjadi sebuah rejeki yang harus disyukuri. Ilegal hanya sebuah status karena memang mereka tidak memiliki izin resmi untuk bekerja di korea. Tapi saya salut sama mereka. Life must go on. Yg penting tidak nyopet dan nipu saat mengais rejeki. 🙂

-cont

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s