Catatan harian : Hari keempat, refleksi diri

Empati? Apa itu?Yaaah. Seseorang mengingatkan saya akan pentingnya sebuah empati. Jujur, konsep empati sendiri sampai saat ini masih kurang saya mengerti. Sampai saat ini saya masih bertanya pada diri sendiri, apa itu empati? Bagaimana cara belajar untuk berempati? Apakah empati ada matakuliah layaknya kalkulus atau mungkin fisika?

Selama ini banyak sekali orang-orang di sekitar saya yang berbicara mangenai empati itu sendiri. Tp setiap kali saya mendengar itu,yang saya mengerti dan saya pikirkan bahwa empati itu adalah rasa, rasa bagaimana kita bisa menjadi orng lain, mengerti apabila kita berada di posisi yang sedang mereka alami, entah itu sedih, senang atau pun bahagia. Tapi semua itu malah membuat saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya memiliki rasa empati pada diri saya yang bisa saya berikan pada orang lain itu?

 

apa itu empati?

Empati menurut wikipedia adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptkan keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang sama atau serupa dengan orang lain, mengetahui apa yang dirasakan orang lain, dan mengerti apa yang dipikirkan orang lain, serta mengabur antara diri dan orang lain.

Dengan melihat definisi kata empati yang ada di wikipedia, saya masih bingung dengan istilah spektrum, spektrum yang lebih luas, namun saya sedikit memahami bahwa empati adalah keinginan untuk menolong sesama, saya sadar ego saya berkata bahwasannya saya termasuk orang yang senang sekali menolong orang lain. Saya tertarik untuk bisa berbagi dengan orang lain, menolong mereka yang sedang terkena kesulitan misalnya, atau bahkan menolong mereka yang sedang terkena bencana. Tapi sejujurnya saya masih belom bisa untuk bisa merasakan emosi yang sama dengan orang lain tersebut. Walaupun saya bisa merasakan iba, namun saya benar-benar belom paham dengan hal mengalami emosi yang sama dengan orang lain. Bagaimana saya bisa belajar untuk bisa mengalami emosi yang sama tersebut?

Contoh yang sering saya dapatkan adalah, misalkan saja dalam hal hubungan, relationship, pernah suatu hari saya berdebat masalah komunikasi, kemampuan komunikasi saya dibilang aneh dan salah, bukan aneh karena saya tidak bisa bicara ataupun saya gagap, tp aneh dalam hal penyampaiannya. Saya selalu memberikan contoh atau tanggapan yang mencirikan self confident saya, ya istilah itupun baru saya tau setelah lawan bicara saya membeberkan semua tentang self confident itu. Apakah itu bertanda bahwa saya tidak mampu untuk berkomunikasi dua arah? Saya kadang suka berfikir soal self confident saya ini. Ya memang, terlalu banyak berbicara memang membuat orang lain males untuk mendengarkan, bahkan menilai bahwa semua omongan itu adalah omongkosong. Tp di lain pihak, saya senang sekali untuk menjalin komunikasi dengan sesama, dan sayapun tahu tempat dan tahu kapan saya harus berbicara, mendengar atau bahkan memberikan tanggapan. Pada saat berdiskusi misalkan, saya senang untuk mendengarkan orang lain lawan bicara saya memberikan gagasannya, tp di saat itu juga saya pun senang untuk menjawab dan berusaha mendapatkan sebuah solusi. Saya kira itu hal yang biasa dalam komonukasi. Tp entah hal biasa itu hanya saya yang pikirkan atau orng lain justru berfikir sebaliknya.

Satu hal yang paati, saya kadang menjadi orang yang benar-benar bersalah apabila saya dinilai tidak pernah merespon ataupun menanggapi perkataan orang lain. Atau bahkan saya tidak bisa memberikan sebuah solusi untuk orang yang meminta solusi dari saya. Pada oramg orang yang menjadikan saya tempat curhat atau apapun itu, saya selalu berusaha untuk memberikan mereka masukan berupa solusi alternatif walaupun saya harus membicarakan diri saya sebagai contohnya. Tp saya yakin, bahwa solusi dari obrolan itu selalu ada.melihat kenyataan ini, apakah saya masih bisa untuk menjadi seorang yang bisa berempati pada sesama?

 

sunrise rinjani summit

Saya sendiri merasa bahwa saya bukanlah makhluk yang sempurna, saya masih luput dari kata sempurna yang mungkin jadi dambaan setiap orang, tapi apakah sesuatu yang sempurna itu memang harus ada dalam kehidupan nyata? Saya rasa manusia yang sempurna itu tidaklah mungkin ada atau terlahir di dunia ini, karena saya sangat yakin bahwa sempurna itu hanya milik allah swt, dan kita sebagai umatnya hanya perlu belajat untuk mendekati kata sempurna, karena pada dasarnya setiap orang bisa berubah asal ada niatan untuk merubah dirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s