Pyeongtaek City : Industrial City In South Korea

Cerita saya di Ansan kiranya sudah cukup, nah sekarang saya akan bercerita sebuah kota yang letaknya tidak jauh dari Ansan, yaitu Pyeongtaek. Pyeongtaek di kenal sebagai daerah kawasan industri di korea, yah memang, itu benar sekali, karena di sebelah selatan kota ini ada sebuah distrik yang memang banyak berdiri pabrik di sana. Tapi saya tidak akan menceritakan pabriknya, yang akan say ceritakan di sini adalah kotanya.  

 

pertokoan di pyeongtaek

Turun dari Korail, korail adalah operator resmi kereta api masal milik korea, ohya dengan menggunakan korail ini kita sebenarnya bisa loh keliling seluruh negara korea, karena memang sistem transportasinya benar benar sangat terintegrasi satu sama lainnya. Asalkan sana kita mengerti yok (stasiun) mana yang akan kita kunjungi selanjutnya. Dari ansan, saya turun di pyeongtaek yok, nah yok ini langasung terhubung dengan pusat perbelanjaan yang modern, satu tempat semacam mall, dimana hampir semua jenis fashion bisa di temuian disini. Mall ini dimanai AK Plaza, hampir setiap saat selalu di penuhi oleh pengunjung, yah sangat tidak mungkin jika tidak selalu ramai, karena mall ini letaknya bersatu dengan yok, dan hampir semua masyarakat disini tidak malu untuk menggunakan sarana trasnportasi masal ini. Sebelum keluar dari yok, saya menyempatkan untuk membeli makanan siap saji di sebuah restoran asli korea, yah saya bisa bilang begitu karena memang nama restoran siap saji itu adalah lotteria, jelas karena mana lotte di sini adalah nama brand yang sangat mendominsi di seantero korea. Satu hal yang membuat saya tercenang lagi, karena ternyata restoran siap saji itu tidak seperti di indonesia, di indonesia istilah tamu adalah raja merupakan jargon yang harus di patuhi oleh pemilik restoran manapun jika mau usahanya laris manis, tapi di korea, budaya di layani itu sama sekali tidak ada, melainkan kitalah yang harus melayani sendiri. Saat itu, makanan saya belum jadi, dan saya pun dikasi nomer antrian. Nomer antrian ini berbentuk kartu yang bisa menyala sendiri apabila pesanan kita sudah siap, jika lampu LED di kartu tersebut menyala, tandanya kita harus ke kasir untuk mengambil makanan kita. Di indonesia biasanya makanan kita diantar oleh pelayan. Setelah makan selesaipun, kita haruslah membereskan sendiri bekas makanan kita, kita harus membuang sampahnya sendiri dan memberikan nampan makanan kita sendiri ke tempat penyimpanan yang telah disediakan, dan jika kita tidak melakukannya sebenarnya tidak akan terjadi apa apa, namun moral kitalah yang berbicara seakan kita memiliki dosa yang sangat besar. Yaah istilah dimana bumi di pijak disitu langit di jungjung memang harus selalu kita tanamkan.

 

rooftop di AK Plaza

Setelah makan selesai, saya pun keluar dari yok dan berjalan jalan di sekitar pyeongtaek city. Kota pyeongtaek benar benar merupakan pusat perbelanjaan, hampir di kiri kanan sepanjang jalan adalah toko dengan lampu-lampu led yang akan menyala dan gemerlap saat malam hari. Toko toko brand ternama hampir banyak dijumpai di sini. The north face, solomon, columbia, samsung, LG, nampak ramai oleh pengunjung yang mau berbelanja ataupun sekedar cuci mata saja. Toko pakaian di sini tidak pernah sepi pengunjung, karena biasanya masyarakat sini akan menghabiskan waktu mereka saat hari libur. Berbelanjan merupakan tipikal kebiasaan warga disini, tidak kalah konsumtif dengan warga di indonesia.

Satuhal yang menarik perhatian saya adalah budaya pacaran kaum muda mudi di sini. Semua yang saya amati, banyak pasangan muda mudi yang berpakaian sama dengan pasangannga masing masing. Uniknya, tidak hanya sekedar kaos saja yang kembar, tapi dari mulai topi, celana, sampai sepatu dan kaos kakipun persis sama, Bahkan saya melihat asesoris yang mereka pakai pun benar benar sama. Uniknya korea. Sepanjang jalan memandang hampir semua fashion yang mereka gunakan sebenarnya membuat mata saya sedikit menciut, bukan tidak layak atau tidak pantas, tapi justru saya melihat bahwa hampir semua pakaian yang dikenakan warga sini, meskipun menurut saya jelek, tapi tetep saja enak untuk di pandang oleh mata. Hampir semua gaya berpakaian mereka selalu pantas untuk dikenakan. Apalagi dengan mereka yang benar benar terlihat percaya diri dengan pakaian aneh mereka.

Di pyeong taek, saya menemukan makanan tradisioal korea, masyarakat sini menyebutnya tok, yah tok sejenis mochi kalau di indonesia, tapi isi dari tok biasanya coklat cair, walau rasa coklat nya tidak begitu terasa. Jajanan ini saya temui di pedanggang asongan tepat saat saya turun dari yok..

Banyak sekali sebenrnya keunikan yang baru saya lihat, sebenarnya hal ini biasa saja sih,, tapi karena saya orang asing di sini, jd jadi saya pikir ini adalah hal unik yang tidak saya temui di negara saya berada.

-cont

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s